Banner 468 X 60

Kamis, 22 Juli 2010

Mengenal Allah

Penulis : Ustadz
Abu Usamah bin Rawiyah an
Nawawi

Tak kenal maka tak sayang,
demikian bunyi pepatah. Banyak
orang mengaku mengenal Allah,
tapi mereka tidak cinta kepada
Allah. Buktinya, mereka banyak
melanggar perintah dan
larangan Allah. Sebabnya,
ternyata mereka tidak mengenal
Allah dengan sebenarnya.
Sekilas, membahas persoalan
bagaimana mengenal Allah
bukan sesuatu yang asing.
Bahkan mungkin ada yang
mengatakan untuk apa hal yang
demikian itu dibahas? Bukankah
kita semua telah mengetahui dan
mengenal pencipta kita?
Bukankah kita telah mengakui
itu semua?
Kalau mengenal Allah sebatas di
masjid, di majelis dzikir, atau di
majelis ilmu atau mengenal-Nya
ketika tersandung batu, ketika
mendengar kematian, atau
ketika mendapatkan musibah
dan mendapatkan kesenangan,
barangkali akan terlontar
pertanyaan demikian.

Yang dimaksud dalam
pembahasan ini yaitu mengenal
Allah yang akan membuahkan
rasa takut kepada-Nya, tawakal,
berharap, menggantungkan diri,
dan ketundukan hanya kepada-
Nya. Sehingga kita bisa
mewujudkan segala bentuk
ketaatan dan menjauhi segala
apa yang dilarang oleh-Nya.
Yang akan menenteramkan hati
ketika orang-orang mengalami
gundah-gulana dalam hidup,
mendapatkan rasa aman ketika
orang-orang dirundung rasa
takut dan akan berani
menghadapi segala macam
problema hidup.

Faktanya, banyak yang mengaku
mengenal Allah tetapi mereka
selalu bermaksiat kepada-Nya
siang dan malam. Lalu apa
manfaat kita mengenal Allah
kalau keadaannya demikian?
Dan apa artinya kita mengenal
Allah sementara kita melanggar
perintah dan larangan-Nya?

Maka dari itu mari kita
menyimak pembahasan tentang
masalah ini, agar kita mengerti
hakikat mengenal Allah dan bisa
memetik buahnya dalam wujud
amal.
Mengenal Allah ada empat cara
yaitu mengenal wujud Allah,
mengenal Rububiyah Allah,
mengenal Uluhiyah Allah, dan
mengenal Nama-nama dan Sifat-
sifat Allah.
Keempat cara ini telah
disebutkan Allah di dalam Al
Qur’an dan di dalam As Sunnah
baik global maupun terperinci.

Ibnul Qoyyim dalam kitab Al
Fawaid hal 29, mengatakan:
“Allah mengajak hamba-Nya
untuk mengenal diri-Nya di
dalam Al Qur’an dengan dua
cara yaitu pertama, melihat
segala perbuatan Allah dan yang
kedua, melihat dan merenungi
serta menggali tanda-tanda
kebesaran Allah seperti dalam
firman-Nya: “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan
bumi dan pergantian siang dan
malam terdapat (tanda-tanda
kebesaran Allah) bagi orang-
orang yang memiliki akal.” (QS.
Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain:
“Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan
pergantian malam dan siang,
serta bahtera yang berjalan di
lautan yang bermanfaat bagi
manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)
Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu
ada. Dan adanya Allah telah
diakui oleh fitrah, akal, panca
indera manusia, dan ditetapkan
pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat
makhluk ciptaan Allah yang
berbeda-beda bentuk, warna,
jenis dan sebagainya, akal akan
menyimpulkan adanya semuanya
itu tentu ada yang
mengadakannya dan tidak
mungkin ada dengan sendirinya.
Dan panca indera kita mengakui
adanya Allah di mana kita
melihat ada orang yang berdoa,
menyeru Allah dan meminta
sesuatu, lalu Allah
mengabulkannya.
Adapun
tentang pengakuan fitrah telah
disebutkan oleh Allah di dalam
Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika
Tuhanmu menurunkan
keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman ):
‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’
Mereka menjawab: ‘(Betul
Engkau Tuhan kami) kami
mempersaksikannya (Kami
lakukan yang demikian itu) agar
kalian pada hari kiamat tidak
mengatakan: ‘Sesungguhnya
kami bani Adam adalah orang-
orang yang lengah terhadap ini
(keesaan-Mu) atau agar kamu
tidak mengatakan:
‘Sesungguhnya orang-orang tua
kami telah mempersekutukan
Tuhan sejak dahulu sedangkan
kami ini adalah anak-anak
keturunan yang datang setelah
mereka.’.” (QS. Al A’raf:
172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang
sangat jelas bahwa fitrah
seseorang mengakui adanya
Allah dan juga menunjukkan,
bahwa manusia dengan fitrahnya
mengenal Rabbnya. Adapun
bukti syari’at, kita menyakini
bahwa syari’at Allah yang dibawa
para Rasul yang mengandung
maslahat bagi seluruh makhluk,
menunjukkan bahwa syari’at itu
datang dari sisi Dzat yang Maha
Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah
Al Wasithiyyah Syaikh
Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin hal 41-45)

Mengenal Rububiyah Allah

Rububiyah Allah adalah
mengesakan Allah dalam tiga
perkara yaitu penciptaan-Nya,
kekuasaan-Nya, dan
pengaturan-Nya. (Lihat Syarah
Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh
Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa
Allah adalah Dzat yang
menciptakan, menghidupkan,
mematikan, memberi rizki,
mendatangkan segala mamfaat
dan menolak segala mudharat.
Dzat yang mengawasi, mengatur,
penguasa, pemilik hukum dan
selainnya dari segala sesuatu
yang menunjukkan kekuasaan
tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus
meyakini bahwa tidak ada
seorangpun yang menandingi
Allah dalam hal ini. Allah
mengatakan: “’Katakanlah!’
Dialah Allah yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan
tidak diperanakkan. Dan tidak
ada seorangpun yang setara
dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash:
1-4)
Maka ketika seseorang meyakini
bahwa selain Allah ada yang
memiliki kemampuan untuk
melakukan seperti di atas, berarti
orang tersebut telah mendzalimi
Allah dan menyekutukan-Nya
dengan selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah
sebagian orang kafir jahiliyah
tidak mengingkarinya sedikitpun
dan mereka meyakini bahwa
yang mampu melakukan
demikian hanyalah Allah semata.
Mereka tidak menyakini bahwa
apa yang selama ini mereka
sembah dan agungkan mampu
melakukan hal yang demikian
itu. Lalu apa tujuan mereka
menyembah Tuhan yang banyak
itu? Apakah mereka tidak
mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’
mereka itu tidak bisa berbuat
apa-apa? Dan apa yang mereka
inginkan dari sesembahan itu?
Allah telah menceritakan di
dalam Al Qur’an bahwa mereka
memiliki dua tujuan. Pertama,
mendekatkan diri mereka
kepada Allah dengan sedekat-
dekatnya sebagaimana firman
Allah:
“Dan orang-orang yang
menjadikan selain Allah sebagai
penolong (mereka mengatakan):
‘Kami tidak menyembah mereka
melainkan agar mereka
mendekatkan kami di sisi Allah
dengan sedekat-dekatnya’.” (Az
Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka
memberikan syafa’at
(pembelaan ) di sisi Allah. Allah
berfirman:
“Dan mereka menyembah selain
Allah dari apa-apa yang tidak
bisa memberikan mudharat dan
manfaat bagi mereka dan
mereka berkata: ‘Mereka
(sesembahan itu) adalah yang
memberi syafa’at kami di sisi
Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat
kitab Kasyfusy Syubuhat karya
Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahab)
Keyakinan sebagian orang kafir
terhadap tauhid rububiyah Allah
telah dijelaskan Allah dalam
beberapa firman-Nya:
“Kalau kamu bertanya kepada
mereka siapakah yang
menciptakan mereka? Mereka
akan menjawab Allah.” (QS. Az
Zukhruf: 87)
“Dan kalau kamu bertanya
kepada mereka siapakah yang
menciptakan langit dan bumi
dan yang menundukkan
matahari dan bulan? Mereka
akan mengatakan Allah.” (QS. Al
Ankabut: 61)
“Dan kalau kamu bertanya
kepada mereka siapakah yang
menurunkan air dari langit lalu
menghidupkan bumi setelah
matinya? Mereka akan
menjawab Allah.” (QS. Al
Ankabut: 63)
Demikianlah Allah menjelaskan
tentang keyakinan mereka
terhadap tauhid Rububiyah
Allah. Keyakinan mereka yang
demikian itu tidak menyebabkan
mereka masuk ke dalam Islam
dan menyebabkan halalnya
darah dan harta mereka
sehingga Rasulullah
mengumumkan peperangan
melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat
kenyataan yang terjadi di
tengah-tengah kaum muslimin,
kita sadari betapa besar
kerusakan akidah yang melanda
saudara-saudara kita. Banyak
yang masih menyakini bahwa
selain Allah, ada yang mampu
menolak mudharat dan
mendatangkan mamfa’at,
meluluskan dalam ujian,
memberikan keberhasilan dalam
usaha, dan menyembuhkan
penyakit. Sehingga, mereka
harus berbondong-bondong
meminta-minta di kuburan
orang-orang shalih, atau
kuburan para wali, atau di
tempat-tempat keramat.
Mereka harus pula mendatangi
para dukun, tukang ramal, dan
tukang tenung atau dengan
istilah sekarang paranormal.
Semua perbuatan dan keyakinan
ini, merupakan keyakinan yang
rusak dan bentuk kesyirikan
kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa
memberi rizki, menyembuhkan
segala macam penyakit, menolak
segala macam marabahaya,
memberikan segala macam
manfaat, membahagiakan,
menyengsarakan, menjadikan
seseorang miskin dan kaya, yang
menghidupkan, yang mematikan,
yang meluluskan seseorang dari
segala macam ujian, yang
menaikkan dan menurunkan
pangkat dan jabatan seseorang,
kecuali Allah. Semuanya ini
menuntut kita agar hanya
meminta kepada Allah semata
dan tidak kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allah

Uluhiyah Allah adalah
mengesakan segala bentuk
peribadatan bagi Allah, seperti
berdo’a, meminta, tawakal,
takut, berharap, menyembelih,
bernadzar, cinta, dan selainnya
dari jenis-jenis ibadah yang telah
diajarkan Allah dan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis
ibadah kepada selain Allah
termasuk perbuatan dzalim yang
besar di sisi-Nya yang sering
diistilahkan dengan syirik kepada
Allah.
Allah berfirman di dalam Al
Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah
kami menyembah dan hanya
kepada-Mu ya Allah kami
meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam telah membimbing
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu
dengan sabda beliau:
“Dan apabila kamu minta maka
mintalah kepada Allah dan
apabila kamu minta tolong maka
minta tolonglah kepada
Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan
jangan kalian menyekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun” (QS.
An Nisa: 36)
Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah
Rabb kalian yang telah
menciptakan kalian dan orang-
orang sebelum kalian, agar
kalian menjadi orang-orang yang
bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di
atas, Allah dan Rasul-Nya telah
jelas mengingatkan tentang tidak
bolehnya seseorang untuk
memberikan peribadatan
sedikitpun kepada selain Allah
karena semuanya itu hanyalah
milik Allah semata.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda: “Allah
berfirman kepada ahli neraka
yang paling ringan adzabnya.
‘Kalau seandainya kamu memiliki
dunia dan apa yang ada di
dalamnya dan sepertinya lagi,
apakah kamu akan menebus
dirimu? Dia menjawab ya. Allah
berfirman: ‘Sungguh Aku telah
menginginkan darimu lebih
rendah dari ini dan ketika kamu
berada di tulang rusuknya Adam
tetapi kamu enggan kecuali terus
menyekutukan-Ku.” ( HR.
Muslim dari Anas bin Malik
Radhiallahu ‘Anhu )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda: “Allah
berfirman dalam hadits qudsi:
“Saya tidak butuh kepada
sekutu-sekutu, maka barang
siapa yang melakukan satu
amalan dan dia menyekutukan
Aku dengan selain-Ku maka Aku
akan membiarkannya dan
sekutunya.” (HR. Muslim dari
Abu Hurairah Radhiallahu
‘Anhu )
Contoh konkrit penyimpangan
uluhiyah Allah di antaranya
ketika seseorang mengalami
musibah di mana ia berharap
bisa terlepas dari musibah
tersebut. Lalu orang tersebut
datang ke makam seorang wali,
atau kepada seorang dukun,
atau ke tempat keramat atau ke
tempat lainnya. Ia meminta di
tempat itu agar penghuni tempat
tersebut atau sang dukun, bisa
melepaskannya dari musibah
yang menimpanya. Ia begitu
berharap dan takut jika tidak
terpenuhi keinginannya. Ia pun
mempersembahkan
sesembelihan bahkan bernadzar,
berjanji akan beri’tikaf di tempat
tersebut jika terlepas dari
musibah seperti keluar dari lilitan
hutang.
Ibnul Qoyyim mengatakan:
“Kesyirikan adalah penghancur
tauhid rububiyah dan pelecehan
terhadap tauhid uluhiyyah, dan
berburuk sangka terhadap
Allah.”

Mengenal Nama-nama dan
Sifat-sifat Allah

Maksudnya, kita beriman bahwa
Allah memiliki nama-nama yang
Dia telah menamakan diri-Nya
dan yang telah dinamakan oleh
Rasul-Nya. Dan beriman bahwa
Allah memiliki sifat-sifat yang
tinggi yang telah Dia sifati diri-
Nya dan yang telah disifati oleh
Rasul-Nya. Allah memiliki nama-
nama yang mulia dan sifat yang
tinggi berdasarkan firman Allah:
“Dan Allah memiliki nama-nama
yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186)
“Dan Allah memiliki permisalan
yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60)
Dalam hal ini, kita harus beriman
kepada nama-nama dan sifat-
sifat Allah sesuai dengan apa
yang dimaukan Allah dan Rasul-
Nya dan tidak
menyelewengkannya sedikitpun.
Imam Syafi’i meletakkan kaidah
dasar ketika berbicara tentang
nama-nama dan sifat-sifat Allah
sebagai berikut: “Aku beriman
kepada Allah dan apa-apa yang
datang dari Allah dan sesuai
dengan apa yang dimaukan oleh
Allah. Aku beriman kepada
Rasulullah dan apa-apa yang
datang dari Rasulullah sesuai
dengan apa yang dimaukan oleh
Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah
Lum’atul I’tiqad Syaikh
Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin hal 36)
Ketika berbicara tentang sifat-
sifat dan nama-nama Allah yang
menyimpang dari yang dimaukan
oleh Allah dan Rasul-Nya, maka
kita telah berbicara tentang
Allah tampa dasar ilmu. Tentu
yang demikian itu diharamkan
dan dibenci dalam agama. Allah
berfirman:
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya
mengharamkan perbuatan yang
keji, baik yang nampak ataupun
yang tersembunyi, dan
perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tampa alasan yang
benar, (mengharamkan)
mempersekutukan Allah dengan
sesuatu yang Allah tidak
menurunkan hujjah (keterangan)
untuk itu dan (mengharamkan)
kalian berbicara tentang Allah
tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf:
33)
“Dan janganlah kamu
mengatakan apa yang kamu
tidak memiliki ilmu padanya,
sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati semuanya
akan diminta pertanggungan
jawaban.” (QS. Al Isra: 36)
Wallahu ‘alam

www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=30

1 komentar:

Anonim mengatakan...

siip, dapet sdikit pncerahan nih....

Posting Komentar