Banner 468 X 60

Jumat, 03 September 2010

Dia Di Atas Langit

Penulis:
Al Ustadz Abu Hamzah al Atsari

Amat mengherankan perkaranya
ketika dimunculkan satu
pertanyaan i'tiqodiyah, "Di mana
Allah?", kita mendapatkan
jawaban yang bermacam-macam
dan berbeda-beda dari mulut-
mulut kaum muslimin. Ada yang
beranggapan bahwa tidak boleh
mempertanyakan di mana Allah,
tetapi tak sedikit pula yang
menjawab, "Allah ada di mana-
mana", lebih ironisnya ada yang
mengatakan, "Allah tidak di atas,
tidak juga di bawah, tidak di
sebelah kanan tidak pula di
sebelah kiri, tidak di barat tidak
di timur, tidak di selatan tidak
juga di utara."
Para pembaca, sungguh sangat
memprihatinkan bila seorang
muslim atau banyak muslim tidak
mengetahui masalah pokok
dalam agamanya ini, tapi apa
hendak dikata bila memang
realita yang ada menunjukkan
demikian, satu fenomena yang
cukup mu`sif (menyedihkan)
menimpa ummat ini yang
dilatarbelakangi dengan jauhnya
dari pendidikan ilmu agama yang
benar, sementara Allah telah
berfirman, "Allah
menganugrahkan al hikmah
(kepahaman yang dalam tentang
Al Qur`an dan As Sunnah)
kepada siapa yang
dikehendakiNya. Dan
barangsiapa yang dianugrahi al
hikmah itu ia benar-benar telah
dianugrahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang
berakallah yang dapat
mengambil pelajaran." (QS Al
Baqoroh: 269). "Katakanlah:
'Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?'
Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima
pelajaran." (QS Az Zumar: 9).

Bagaimana tidak dikatakan hal
yang pokok dalam agama,
pengetahuan tentang "di mana
Allah?" tatkala ternyata
Rosulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menjadikannya sebagai
dalil akan kebenaran iman
seseorang. Di dalam Shohih
Muslim, dan Sunan Abi Daud,
Sunan An Nasa`i, dan lainnya
dari sahabat Mu'awiyah bin
Hakam as Sulami, ia berkata:
Aku punya seorang budak yang
biasa menggembalakan
kambingku ke arah Uhud dan
sekitarnya, pada suatu hari aku
mengontrolnya, tiba-tiba seekor
serigala telah memangsa salah
satu darinya -sedang aku ini
seorang laki-laki keturunan
Adam yang juga sama
merasakan kesedihan- maka
akupun amat menyayangkannya
hingga kemudian akupun
menamparnya (menampar
budaknya, pent.), lalu aku
mendatangi Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dan kuceritakan
kejadian itu padanya. Beliau
membesarkan hal itu padaku,
aku pun bertanya, "Wahai
Rosulullah apakah aku harus
memerdekakannya?" Beliau
menjawab, "Panggil dia kemari!"
Aku segera memanggilnya, lalu
beliau bertanya padanya, "Di
mana Allah?" Dia menjawab, "Di
langit." "Siapa aku?" tanya Rosul.
"Engkau Rosulullah (utusan
Allah)" ujarnya. Kemudian
Rosulullah berkata padaku,
"Merdekakan dia, sesungguhnya
dia seorang mu`min."

Di dalam hadits ini terkandung
tiga pelajaran yang sangat
signifikan. Pertama: Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam
menetapkan keimanan sang
budak ketika ia mengetahui
bahwa Allah di atas langit.
Kedua: Disyari'atkannya ucapan
seorang muslim yang bertanya
"Di mana Allah?". Ketiga:
Disyari'atkannya bagi orang yang
ditanya hal itu agar menjawab,
"Di atas langit." Sulaiman at
Taimi, salah seorang tabi'in
mengatakan, "Bila aku ditanya di
mana Allah? Aku pasti akan
menjawab di atas langit."
Para pembaca, apa jadinya jika
ternyata sebagian kaum yang
taunya sebatas "air barokah"
dan orang-orang yang
spesialisasinya hanya itu
kemudian apriori untuk menolak
bahkan lebih dari itu
mengkafirkan orang yang
mempertanyakan "Di mana
Allah?" Ketahuilah bahwa siapa
saja yang mengingkari
permasalahan ini berarti ia telah
mengingkari Rosulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, wal
'iyadzubillah bila kemudian
mengkafirkannya. Jawaban
seorang budak dalam hadits di
atas sesuai dengan firman Allah
subhanahu wa ta'ala, "Apakah
kamu merasa aman terhadap
Allah yang di langit, bahwa Dia
akan menjungkirbalikkan bumi
bersama kamu... Atau apakah
kamu merasa aman terhadap
Allah yang di langit bahwa Dia
akan mengirimkan badai yang
berbatu." (QS Al Mulk: 16-17).
Tidaklah mengherankan bila
kemudian penetapan bahwa
Dzat Allah di atas langit menjadi
keyakinan para imam yang
empat, imam Abu Hanifah -
seorang alim dari negeri Iraq-
berkata, "Barangsiapa yang
mengingkari Allah 'azza wa jalla
di langit maka ia telah kufur!"
Imam Malik -imam Darul Hijroh-
mengatakan, "Allah di atas
langit, sedang ilmuNya
(pengetahuanNya) di setiap
tempat, tidak akan luput sesuatu
darinya." Muhammad bin Idris
yang lebih dikenal dengan
sebutan Imam asy Syafi'i berkata,
"Berbicara tentang sunnah yang
menjadi peganganku dan para
ahli hadits yang saya lihat dan
ambil ilmunya seperti Sufyan,
Malik, dan selain keduanya,
adalah berikrar bahwa tidak ada
ilah (yang berhak untuk
diibadahi secara benar) kecuali
Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah, serta
bersaksi bahwa Allah itu di atas
'arsy di langit..." Ditanyakan
kepada Imam Ahmad bin
Hanbal, "Apakah Allah di atas
langit yang ke tujuh di atas
'arsyNya jauh dari makhlukNya,
sedangkan kekuasaanNya dan
pengetahuanNya di setiap
tempat?" Beliau menjawab, "Ya,
Dia di atas 'arsyNya tidak akan
luput sesuatupun darinya." (Lihat
kitab Al 'Uluw, Imam adz
Dzahabi).
Aqidah yang agung ini telah
tertanam dalam dada-dada
kaum muslimin periode pertama,
para salafus sholih ahlussunnah
wal jama'ah. Berkata Imam
Qutaibah bin Sa'id -wafat pada
tahun 240 H-, "Ini adalah
pendapat / ucapan para imam-
imam Islam, sunnah, dan
jama'ah, bahwa kita mengenal
Rabb kita di atas langit yang ke
tujuh di atas 'arsyNya." Sehingga
semakin jelaslah bahwa Allah di
atas langit sebagai ijma
ahlissunnah wal jama'ah yang
berlandaskan Kitab, Sunnah,
akal, dan fitrah. Allah berfirman,
"Dia mengatur urusan dari langit
ke bumi." (QS As Sajdah: 5).
"KepadaNyalah naik perkataan
yang baik dan amal sholeh yang
dinaikkanNya." (QS Fathir: 10).
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik
(menghadap) kepada Tuhannya
dalam sehari yang kadarnya lima
puluh ribu tahun." (QS Al
Ma'arij: 4). "Apakah kamu
merasa aman terhadap Allah
yang di langit..." (QS Al Mulk:
16-17). "Sucikanlah nama
Tuhanmu yang Maha
Tinggi." (QS Al A'laa: 1). Dan
ayat-ayat lainnya teramat banyak
untuk disebutkan sampai-sampai
sebagian besar kalangan Syafi'i
mengatakan, "Di dalam Al
Qur`an terdapat seribu dalil
atau bahkan lebih menunjukkan
bahwa Allah ta'ala tinggi di atas
makhlukNya." (Majmu'ul Fatawa:
5/226). Di dalam Shohih Bukhori
dan Muslim dari sahabat Abu
Bakroh radhiyallahu 'anhu
bahwa ketika Rosulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam
berkhutbah di hadapan manusia
pada hari Arafah, beliau berkata,
"Ya Allah, saksikanlah" (seraya
mengangkat jari telunjuknya ke
arah langit). Semua orang yang
berakal akan menetapkan
bahwa ketinggian adalah sifat
sempurna sedangkan
kebalikannya adalah sifat
kekurangan, sementara Allah
'azza wa jalla tersucikan dari hal-
hal yang bersifat kekurangan, ini
semua menunjukkan bahwa Dzat
Allah di atas langit adalah suatu
kesempurnaan bagiNya.
Demikian pula secara fitroh,
semua kaum muslimin di
belahan dunia apabila berdo'a
mengangkat kedua tangannya ke
langit, tak didapatkan seorang
pun dari mereka apabila
mengatakan, "Ya Allah,
ampunilah dosaku"
mengarahkan kedua tangannya
ke tanah -selama-lamanya!!-
menunjukkan secara fitrah,
semua manusia menetapkan
bahwa Dzat Allah di atas langit.
Para pembaca, perjalanan waktu
yang cukup lama aqidah Islam ini
tak lagi dikenal dan diketahui
mayoritas umat Islam, seakan-
akan sirna dari sumbernya,
malah sebaliknya faham-faham
Jahmiyah, Asy'ariyah, Mu'tazilah,
dan ahli kalam yang merajalela
bak wabah penyakit yang
menular. Kalangan anak-anak,
remaja, dan para orang tua,
bahkan sang ustadz atau kyai
dan guru ngaji bila ditanya, "Di
mana Allah?" serempak
menjawab, "Allah ada di mana-
mana." Inna lillahi wa inna ilaihi
roji'un. Sebagian yang
dinisbatkan kepada ilmu berdalil
atas pernyataannya itu dengan
firman Allah, "Dan Dia bersama
kamu di mana saja kamu
berada." (QS Al Hadid: 4).
Memang menjadi ciri khas ahli
bathil adalah "seenaknya
mengambil dalil tetapi buruk
ketika berdalil". Ketahuilah
bahwa ayat itu sama sekali tidak
menunjukkan bahwa Allah ada
di mana-mana, sebab bila
difahami demikian, maka tentu
ketika seseorang berada di
masjid Allah ada di situ, ketika di
pasar Allah juga ada di situ,
bahkan tatkala seseorang berada
di tempat kotor sekalipun,
seperti WC, maka Allah pun ada
di situ! Maha tinggi Allah atas
pernyataan-pernyataan ini.
Tetapi maksud dari ayat itu "Dia
bersama kamu..." ialah ilmuNya,
pengawasanNya, penjagaanNya
bersama kamu, sedang Dzat
Allah di atas arsy di langit. (Lihat
Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).

Imam Sufyan ats Tsaury -wafat
pada tahun 161 H- pernah
ditanya tentang ayat ini "Dan Dia
bersama kamu di mana saja
kamu berada." Beliau menjawab,
"yakni ilmuNya." Hanbal bin
Ishaq berkata: Abu Abdillah
(Imam Ahmad, pent.) ditanya
apa makna "Dan Dia bersama
kamu"? Beliau menjawab, "Yakni
ilmuNya, ilmuNya meliputi segala
hal sedangkan Rabb kita di atas
arsy..." Imam Nu'aim bin
Hammad -wafat pada tahun 228
H- ditanya tentang firman Allah
"Dan Dia bersama kamu" beliau
berkata, "Maknanya tidak ada
sesuatupun yang luput darinya,
dengan ilmunya." (lihat Al 'Uluw,
Imam adz Dzahabi). Ketika Imam
Abu Hanifah mengatakan, "Allah
subhanahu wa ta'ala di langit
tidak di bumi", ada yang
bertanya, "Tahukah Anda bahwa
Allah berfirman, 'Dia (Allah)
bersama kamu'?" Beliau
menjawab, "Ungkapan itu seperti
kamu menulis surat kepada
seseorang "saya akan selalu
bersama kamu" padahal kamu
jauh darinya. (I'tiqodul a`immah
al arba'ah).
Para pembaca -semoga
dirahmati Allah- sudah saatnya
kita tanamkan kembali aqidah
yang murni warisan Nabi dan
para salafus sholih ini di dalam
jiwa-jiwa generasi Islam kini dan
mendatang. Sungguh keindahan,
ketentraman mewarnai anak-
anak kita dan para orang tua
saat kita tanyai "Di mana Allah?"
lalu mereka mengarahkan jari
telunjuknya ke atas dan berucap,
"Allah di langit." Wallahul haadi
ila sabilir rosyaad. Wal ilmu
indallah.


(Buletin Dakwah Al Wala' Wal
Bara')

www.darussalaf.or.id/stories.php?id=92

0 komentar:

Posting Komentar