Banner 468 X 60

Sabtu, 12 Juni 2010

Menjaga Akidah Ketika Sakit

Setiap orang yang beriman pasti
akan diberikan ujian oleh Allah
subhanahu wata ’ala. Ujian
tersebut beragam bentuknya,
sesuai kondisi dan kadar
keimanan seseorang. Ujian bisa
berupa kesenangan dan bisa
pula berupa kesusahan. Dan
salah satu dari bentuk ujian
tersebut adalah tertimpanya
seseorang dengan suatu penyakit
yang menggerogoti dirinya.
Sebagaimana yang Allah
subhanahu wata ’ala sebutkan
dalam surat Al-‘Ankabut ayat
1sampai 3, bahwa hikmah
diberikannya ujian kepada kaum
mukminin adalah untuk
mengetahui[1] siapa yang jujur
dan siapa yang dusta dalam
pengakuan iman mereka
tersebut.
Demikian juga ketika sakit,
seseorang akan teruji tingkat
kejujuran iman dan aqidah dia.
Sangat disayangkan, ternyata di
sana masih banyak terjadi
pelanggaran-pelanggaran syari ’at
yang dilakukan oleh orang yang
sedang tertimpa penyakit. Di
antara mereka ada yang tidak
menerima bahkan menolak
takdir Allah yang sedang dia
rasakan tersebut. Bahkan ada
yang mengatakan dan
mengklaim bahwa Allah tidak
adil kepada dirinya, Allah telah
berbuat zhalim kepadanya, dan
sebagainya, na ’udzubillah min
dzalik. Ada pula yang tidak sabar
dan putus asa dengan
keadaannya tersebut sehingga
dia sangat berharap ajal segera
menjemputnya. Dan bahkan ada
pula yang nekad melakukan
upaya bunuh diri dengan
harapan penderitaannya segera
berakhir. Ini semua
menunjukkan lemahnya iman
dan kurang jujurnya dia dalam
ikrar keimanannya tersebut.
Lalu bagaimana bimbingan
syari ’at yang mulia dan
sempurna ini dalam menyikapi
permasalahan-permasalahan
seperti itu? Solusi apa yang
seharusnya dilakukan oleh setiap
hamba yang mengaku beriman
kepada Allah ‘azza wajalla,
Rasul-Nya dan hari akhir jika
tertimpa suatu penyakit agar
iman dan aqidah ini senantiasa
terjaga? Maka kali ini insya Allah
akan kami tengahkan kepada
anda, bagaimana syari ’at
membimbing anda tentang sikap
yang seharusnya dilakukan oleh
seseorang yang sedang
mengalami sakit agar dia
dikatakan sebagai seorang yang
jujur dalam keimanan dan
aqidahnya. Di antara sikap
tersebut adalah[2]

  1. Hendaknya dia merasa ridha
    dengan takdir dan ketentuan
    Allah subhanahu wata ’ala
    tersebut, bersabar dengannya
    dan berbaik sangka kepada
    Allah subhanahu wata ’ala
    dengan apa yang sedang dia
    rasakan. Karena segala yang dia
    terima adalah merupakan
    sesuatu terbaik yang Allah
    subhanahu wata ’ala berikan
    padanya. Ini merupakan sikap
    seorang yang beriman kepada
    Allah dan Rasul-Nya dengan
    keimanan yang benar. Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wasallam
    bersabda:

    عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ
    أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ
    ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ
    إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
    فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ
    أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ
    فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

    “Sungguh sangat menakjubkan
    urusan seorang mukmin, karena
    segala urusannya adalah berupa
    kebaikan. Dan tidaklah
    didapatkan keadaan yang seperti
    ini kecuali pada diri seorang
    mukmin saja. Ketika dia
    mendapatkan kebahagiaan, dia
    segera bersyukur. Maka itu
    menjadi kebaikan baginya. Dan
    ketika dia mendapatkan
    kesusahan dia bersabar. Maka
    itu menjadi kebaikan
    baginya.” (HR. Muslim dari
    shahabat Shuhaib bin Sinan
    radhiyallahu ‘anhu)

    Beliau juga bersabda:

    لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا
    وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ
    الظَّنَّ

    “Janganlah salah seorang
    diantara kalian meninggal kecuali
    dalam keadaan dia berbaik
    sangka kepada Allah. ” (HR.
    Muslim dari shahabat Jabir bin
    ‘ Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

  2. Hendaknya dia memiliki sikap
    raja ’ (berharap atas rahmat Allah
    subhanahu wata’ala) dan rasa
    khauf (takut dan cemas dari
    adzab Allah subhanahu wata’ala)

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى
    شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ
    فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ
    وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ
    أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي
    أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ
    رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا
    يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ
    عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا
    الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ
    مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا
    يَخَافُ

    “Suatu ketika Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wasallam
    pernah mendatangi seorang
    pemuda yang sedang sakit.
    kemudian beliau bertanya
    kepadanya: “Bagaimana
    keadaanmu?” Pemuda itu
    menjawab: “Demi Allah ya
    Rasulullah, sungguh saya sangat
    mengharapkan rahmat Allah dan
    saya takut akan siksa Allah
    dikarenakan dosa-dosa saya. ”
    Maka kemudian Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wasallam
    bersabda: “Tidaklah dua sifat
    tersebut ada pada seorang
    hamba yang dalam keadaan
    seperti ini, kecuali Allah akan
    memberikan apa yang dia
    harapkan dan akan memberi
    rasa aman dengan apa yang dia
    takutkan.” (HR. At-Tirmidzi dan
    Ibnu Majah dari shahabat Anas
    bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

  3. Tidak diperbolehkan baginya
    untuk mengharapkan kematian
    segera menjemputnya ketika
    penyakitnya ternyata semakin
    menjadi parah dan memburuk.
    أأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى
    الْعَبَّاسِ وَهُوَ يَشْتَكِي
    فَتَمَنَّى الْمَوْتَ فَقَالَ
    يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ
    اللَّهِ لَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ
    إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا تَزْدَادُ
    إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ
    خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ
    مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ
    تَسْتَعْتِبْ خَيْرٌ لَكَ
    فَلَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ قَالَ
    يُونُسُ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا
    فَإِنْ تُؤَخَّرْ
    تَسْتَعْتِبْ مِنْ
    إِسَاءَتِكَ خَيْرٌ لَكَ
    “Suatu ketika Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wasallam
    mendatangi pamannya ‘Abbas
    yang sedang sakit. Dia mengeluh
    dan berharap kematian segera
    datang menjemputnya. Maka
    beliau bersabda kepadanya:
    “ Wahai pamanku, janganlah
    engkau berharap kematian itu
    datang. Jika engkau adalah
    orang baik, maka engkau bisa
    menambah kebaikanmu, dan itu
    baik untukmu. Namun jika
    engkau adalah orang yang
    banyak melakukan kesalahan,
    maka engkau dapat mengingkari
    dan membenahi kesalahanmu
    itu, dan itu baik bagimu. maka
    janganlah berharap akan
    kematian. ” (HR. Ahmad dan Al-
    Hakim dari shahabiyyah Ummul
    Fadhl radhiyallahu ‘anha)
    Namun ketika ternyata dia tidak
    bisa bersabar dan harus
    melakukannya, maka hendaknya
    dia mengucapkan:
    اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ
    الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي
    وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ
    الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
    “Ya Allah hidupkanlah aku
    apabila kehidupan itu lebih baik
    bagiku. Dan matikanlah aku
    apabila kematian itu lebih baik
    bagiku. ” (HR. Al-Bukhari dan
    Muslim dari shahabat Anas bin
    Malik radhiyallahu ‘anhu)

  4. Hendaknya dia berwasiat
    ketika merasa ajalnya telah dekat
    untuk dipersiapkan dan
    dilakukan pengurusan
    jenazahnya nanti sesuai dengan
    bimbingan syari ’at dan tidak
    melakukan perbuatan-perbuatan
    bid ’ah. Hal ini sebagai bentuk
    pengamalan firman Allah
    subhanahu wata ’ala :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
    أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
    Wahai orang-orang yang
    beriman jagalah diri kalian dan
    keluarga kalian dari api
    neraka. (At-Tahrim: 6)
    Dan di sana banyak kisah- kisah
    para sahabat yang mereka
    berwasiat dengan hal ini ketika
    merasa ajal segera
    menjemputnya. Salah satunya
    adalah kisah shahabat Hudzaifah
    radhiyallahu ‘anhu yang pernah
    berwasiat ketika dia merasa ajal
    telah dekat. Dia berkata:
    إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي
    إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ
    نَعْيًا فَإِنِّي سَمِعْتُ
    رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ
    النَّعْيِ
    Jika aku mati, janganlah kalian
    mengumumkannya. aku takut
    kalau perbuatan tersebut
    termasuk na’i (mengumumkan
    kematian yang dilarang
    sebagaimana dilakukan orang-
    orang jahiliyyah), karena
    sesungguhnya aku mendengar
    Rasulullah melarang perbuatan
    na’i tersebut. (HR. At-Tirmidzi)
    Al-Imam An-Nawawi
    rahimahullah berkata dalam
    kitabnya Al-Adzkar: Sangat
    dianjurkan bagi seorang muslim
    untuk berwasiat kepada
    keluarganya agar meninggalkan
    kebiasaan atau adat yang ada
    dari berbagai bentuk kebid ’ahan
    dalam penyelenggaraan jenazah.
    Dan hendaknya dia menekankan
    permasalahan itu.

Wallahu A’lam.
Diringkas dari Kitab Ahkamul
Jana-iz karya Al- ‘Allamah Al-
Muhaddits Muhammad
Nashiruddin Al-Albani
rahimahullah oleh Al-Ustadz
Abdullah Imam.
[1] Dan Allah subhanahu
wata ’ala Maha Mengetahui
kadar dan tingkat kejujuran iman
seseorang walaupun tidak
memberikan ujian kepada
hamba-Nya itu.
[2] Diringkas dari kitab Ahkamul
Jana-iz karya Asy-Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-
Albani rahimahullahu ta ’ala.


(Dikutip dari http://
www.assalafy.org/mahad/?
p=419#more-419)

0 komentar:

Posting Komentar