Banner 468 X 60

Kamis, 10 Juni 2010

Aisah binti Abu Bakar

Hari-hari indah bersama kekasih
Allah dilalui dengan singkatnya
ketabahan menghiasi
kesendiriannya guru besar bagi
kaumnya pendidikan kekasih
Allah telah menempanya.
Dia adalah putri Abu Bakar Ash-
Shiddiq , yang Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih
suka memanggilnya “Humaira”.
‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah
bin Abi Khafafah berasal dari
keturunan mulia suku Quraisy.
Ketika umur 6 tahun, gadis
cerdas ini dipersunting oleh
manusia termulia Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berdasarkan perintah Allah
melalui wahyu dalam mimpi
beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengisahkan mimpi
beliau kepada ‘Aisyah :”Aku
melihatmu dalam mimpiku
selama tiga malam, ketika itu
datang bersamamu malaikat
yang berkata : ini adalah istrimu.
Lalu aku singkap tirai yang
menyembunyikan wajahmu , lalu
aku berkata sesungguhnya hal
itu telah ditetapkan di sisi
Allah. ” (Muttafaqun ‘alaihi dari
'Aisyah radilayallahu 'anha)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
memulai hari-harinya bersama
Rasulullah sejak berumur 9
tahun. Mereka mengarungi
bahtera kehidupan rumah
tangga yang diliputi suasana
Nubuwwah. Rumah kecil yang
disamping masjid itu
memancarkan kedamaian dan
kebahagiaan walaupun tanpa
permadani indah dan gemerlap
lampu yang hanyalah tikar kulit
bersih sabut dan lentera kecil
berminyak samin (minyak
hewan).
Di rumah kecil itu terpancar
pada diri Ummul Mukminin
teladan yang baik bagi istri dan
ibu karena ketataatannya pada
Allah, rasul dan suaminya.
Kepandaian dan kecerdasannya
dalam mendampingi suaminya,
menjadikan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat mencintainya. Aisyah
menghibur Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat mencintainya. Aisyah
menghibur Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam ketika sedih,
menjaga kehormatan diri dan
harta suami tatkala Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berda’wah di jalan Allah.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga
melalui hari-harinya dengan
siraman ilmu dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sehingga ribuan hadist beliau
hafal.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga
ahli dalam ilmu faraid (warisan
dan ilmu obat-obatan). Urmah
bin Jubair putra Asma binti Abu
Bakar bertanya kepada Aisya
radhiyallahu ‘anha :” Wahai bibi,
dari mana bibi mempelajari ilmu
kesehatan?. ” Aisyah
menjawab :”Ketika aku sakit,
orang lain mengobatiku, dan
ketika orang lain sakit aku pun
mengobatinya dengan sesuatu.
Selain itu, aku mendengar dari
orang lain, lalu aku
menghafalnya. ”
Selain keahliannya itu, Aisyah
juga seorang wanita yang
menjaga kesuciannya. Seperti
kisah beliau sepulang dari
perang Hunain, yang dikenal
dengan haditsul ifqi. Ketika
mendekati kota Madinah, beliau
kehilangan perhiasan yang
dipinjam dari Asma. Lalu dia
turun untuk mencari perhiasan
itu. Rombongan Rasulullah dan
para sahabatnya berangkat
tanpa menyadari bahwa Aisyah
tertinggal. Aisyah menanti
jemputan, dan tiba-tiba
datanglah Sufyan bin Muathal
seorang tentara penyapu ranjau.
Melihat demikian, Sufyan
menyabut Asma Allah lalu
Sufyan turun dan mendudukkan
kendaraanya tanpa sepatah
katapun keluar dari mulutnya
kemudian Aisyah naik kendaraan
tersebut dan Sufyan menuntun
kendaraan tersebut dengan
berjalan kaki. Dari kejadian ini,
orang-orang yang berpenyakit
dalam hatinya menyebarkan
kabar bohong untuk memfitnah
ummul Mukminin Aisyah
radhiyallahu ‘anha. Fitnah ini
menimbulkan goncangan dalam
rumah tangga Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi
Allah yang Maha Tahu
berkehendak menyingkap berita
bohong tersebut serta
mensucikan beliau dalam Al-
Qur ’anul Karim dalam surat An-
Nur ayat 11-23.

Diantara kelebihan beliau yang
lainnya, Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam memilih untuk
dirawat di rumah Aisyah dalam
sakit menjelang wafatnya. Hingga
akhirnya Rasulullah wafat di
pangkuan Aisyah dan
dimakamkan dirumahnya tanpa
meninggalkan harta sedikitpun.
Ketika itu Aisyah radhiyallahu
‘ anha berusia 18 tahun.
Sepeninggal Rasulullah, Aisyah
mengisi hari-harinya dengan
mengajarkan Al-Qur ’an dan
Hadits dibalik hijab bagi kaum
laki-laki pada masanya.
Dengan kesederhanaannya,
beliau juga menghabiskan hari-
harinya dengan ibadah kepada
Allah, seperti puasa Daud.
Kesederhanaan juga nampak
ketika kaum muslimin
mendapatkan kekayaan dunia,
beliau mendapatkan 100.000
dirham. Saat itu beliau berpuasa,
tetapi uang itu semua
disedekahkan tanpa sisa
sedikitpun. Pembantu wanitanya
mengingatkan beliau :”Tentunya
dengan uang itu anda bisa
membeli daging 1 dirham buat
berbuka ?” Aisyah menjawab :
”Andai kamu mengatakannya
tadi, tentu kuperbuat.”
Begitulah beliau yang tidak
gelisah dengan kefakiran dan
tidak menyalahgunakan
kekayaan kezuhudannya
terhadap dunia menambah
kemuliaan.
Wallahu’alam bishowwab


(Dikutip dari Majalah Salafy
bagian Muslimah, judul asli
"Aisyah Radiyallahu 'anha,
Humaira", Edisi XV/
Dzulqa ’idah/1417/1997)

www.salafy.or.id

0 komentar:

Posting Komentar