Banner 468 X 60

Rabu, 16 Juni 2010

Kisah Kantong Sutra

Hakim Abu Bakar Muhammad
bin Abdul Baqi bin Muhammad
Al-
Bazzaz Al-Anshari

mengisahkan.
Aku tinggal dekat Mekah Al-
Mukarramah. Suatu hari aku
kelaparan,
tidak ada sepotong makanan
yang dapat mengganjal perutku,
sampai
akhirnya kutemukan sebuah
kantong sutra berhias rumbai-
rumbai sutra.
Aku mengambil dan membawa
pulang kantong itu. Setelah aku
buka,
ternyata isinya adalah seuntai
kalung mutiara yang sangat
indah tiada tara.
Ketika keluar dari rumah, aku
mendengar ada seorang tua
yang
membawa-bawa kantong berisi
uang 500 dinar berseru, “Akan
kuberikan
uang ini bagi siapa saja yang
mengembalikan kepadaku
kantong yang
berisi kalung mutiara. ”
Mendengar itu aku bergumam,
“ Aku sedang kekurangan dan
kelaparan, akan kuambil dinar
emas itu dan akan kukembalikan
kantong
miliknya. ”
Aku kemudian berkata kepada
orang tua itu, “Kemari, kek!”
Aku
mengajaknya ke rumah, lalu dia
menyampaikan padaku semua
ciri-ciri
kantong, rumbai-rumbai, dan
kalung mutiara lengkap dengan
jenis benang
yang digunakan untuk
merangkainya. Aku
mengeluarkan kantong itu dan
memberikannya. Sesuai janjinya,
dia kemudian memberikan lima
ratus
dinar, tapi aku tolak, “Aku harus
mengembalikan kantong itu
kepada Anda
tanpa meminta balas jasa
sepeserpun. ”
Namun, dia berkata, “Kamu
harus mengambilnya,” ia terus
mendesakku, tapi tetap aku
tolak, sampai dia pergi
meninggalkanku.

Tak lama berselang, aku
meninggalkan Mekah dengan
menaiki sebuah
kapal. Di tengah pelayaran,
kapal yang kutumpangi bocor
dan tenggelam.
Banyak penumpang dan harta
bawaan yang tenggelam,
sedangkan aku
selamat dengan berpegangan
pada sebuah potongan kayu
kapal. Arus laut
menghanyutkanku entah
kemana.
Singkat cerita, aku terdampar di
sebuah pulau yang ditinggali
oleh
sekelompok orang. Tak tahu
harus kemana, aku masuk ke
sebuah masjid
dan membaca al-Qur ’an.
Ternyata, banyak orang yang
mendengar
bacaanku. Mereka berkumpul di
sekelilingku dan berkata,
“ Ajarkan kami
al-Quran.”
Sejak saat itu aku mengajarkan
al-Qur ’an kepada mereka
sampai aku
berhasil mengumpulkan banyak
uang sebagai hasil jerih payahku
mengajarkan al-Qur ’an.
Waktu berlalu, sampai suatu saat
ketika aku sedang membaca
lembaran
mushaf Qur ’an di masjid,
beberapa orang bertanya
kepadaku, “Apakah
kamu dapat menulis?”
“Ya,” jawabku.
“Tolong ajari kami tulis menulis,”
kata mereka.
Tak lama berselang, mereka
kembali bersama anak-anak dan
para
pemuda untuk kuajari tulis-
menulis. Sekali lagi aku berhasil
mendapatkan
uang banyak sebagai hasil jerih
payahku mengajar mereka tulis-
menulis.
Waktu berlalu, ketika pada suatu
hari orang-orang datang
kepadaku
menyampaikan sesuatu, “Ada
seorang gadis yatim yang kaya
tinggal di sini,
kami memintamu untuk
menikahinya, ” ujar mereka.
Aku terkejut mendengar
permintaan mereka. Aku
menolaknya, tetapi
mereka terus mendesakku,
sampai aku tak kuasa menolak
permintaan
mereka.

Ketika dipertemukan dengan
gadis yatim itu, aku terkejut,
karena gadis
itu mengenakan kalung yang
dulu pernah kutemukan dan
telah
kukembalikan kepada
pemiliknya. Mataku tak berkedip
melihat kalung di
lehernya itu, sampai orang-orang
di sekelilingku berkata, “Wahai
Syaikh,
mengapa kau hancurkan hati
gadis itu dengan lebih
memperhatikan
kalung di lehernya dan
mengabaikannya. ”
Aku ceritakan kisahku dan
kalung itu dari awal.
Selesai mendengar ceritaku, tiba-
tiba mereka menyerukan takbir
dan
tahlil, sampai hampir seluruh
penduduk pulau itu mengetahui
apa yang
terjadi.
Dengan heran aku bertanya,
“ Apa gerangan yang terjadi?”
Salah seorang dari mereka
berkata, “Kakek tua yang
menerima
kalungnya darimu adalah ayah
gadis ini. Dulu, dia pernah
berdoa, ‘Aku
tidak pernah menemukan
seorang muslim seperti pemuda
yang
mengembalikan kalungku ini.
Oleh karena itu, ya Allah,
pertemukan aku
dengannya untuk aku
jodohkan dengan anakku.’”
Kini, aku telah menikah dengan
gadis yatim itu sampai kami
dikaruniai
dua orang anak. Beberapa saat
kemudian, istriku wafat,
meninggalkan
kalung mutiara dan dua orang
anak.
Setelah anakku meninggal,
tinggallah aku dengan kalung
bersejarah
itu. Kalung itu lalu kujual
seharga 1000 dinar dan
kulanjutkan hidupku
dengan hartaku itu.


Kisah ini tentang wara’ Dinukil
dari Al-Mukhtar min Faraid An-
Nuqul wa Al-Akhbar,jilid 3, hal.
63-67 dan Thabaqat Al-
Hanabilah, jilid 1, hal. 196.


Sumber:
http://facebook.com/
http://
rezasalafy.wordpress.com/
rumahbelajarku.wordpress.com/2010/06/15/%20kisah-kantong-sutra/

0 komentar:

Posting Komentar