Banner 468 X 60

Rabu, 09 Juni 2010

Keutamaan Orang Bertauhid

Buletin Jum ’at At-Tauhid

Tauhid adalah inti agama para
nabi dan rasul. Mereka
mengajak kepada tauhid dan
merealisasikannya pada diri
mereka sendiri dan pengikutnya.
Seorang yang mewujudkan
tauhid dan merealisasikannya
dalam keyakinan dan
perbuatannya adalah orang yang
mendapatkan kedudukan
istimewa di sisi Allah Robbul
alamin.
Pembaca yang budiman,
mungkin anda bertanya,
"Bagaimana cara merealisasikan
dan mewujudkan tauhid pada
diri seseorang?!"Tentunya
dengan membersihkan dan
menyucikannya dari segala
noda-noda syirik dan bid ’ah, dan
tidak terus-menerus melakukan
maksiat. Barangsiapa yang
demikian kondisinya, maka ia
telah merealisasikan tauhid.
[Lihat Qurroh Uyun Al-
Muwahhidin (hal. 23) karya
Syaikh Abdur Rahman bin Hasan
Alusy Syaikh, cet. Dar Ash-
Shumai'iy, 1420 H]
Jadi, seorang yang bertauhid
haruslah memberikan ibadahnya
kepada Allah -Ta ’ala- saja,
bukan untuk selain-Nya. Jika ia
berdo ’a dan memohon, maka ia
tak berdo’a dan memohon,
kecuali kepada Allah. Jika ia
mengharap dan takut, maka ia
tak mengharap dan takut,
kecuali kepada Allah. Dia tak
akan takut atau mengharap
kepada makhluk, walau makhluk
itu memiliki kehebatan dan
keistimewaan apapun. Dia tak
akan takut kepada jin-jin, roh-
roh, kuntilanak, gondoruwo,
wewe gombel, setan, kuburan
dan makhluk halus; atau apapun
diantara makhluk yang ditakuti
oleh sebagian orang-orang jahil.
Bahkan ia hanya takut kepada
Allah, Pencipta mereka sehingga
mereka hanya mengharap
karunia, dan rahmat-Nya.
Selain itu , seorang yang ingin
merealisasikan dan
menyempurnakan tauhidnya, ia
harus meninggalkan bid ’ah
(ajaran-ajaran yang tak ada
contohnya dalam agama,
walaupun dianggap baik oleh
sebagian orang). Contoh bid ’ah:
perayaan tahun baru hijriyyah
atau masehi, perayaan maulid
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam-, perayaan Isra’-Mi’raj,
peringatan Nuzulul Qur’an, dan
lainnya. Jadi, seorang harus
meninggalkan bid ’ah-bid’ah
semacam ini, karena bid’ah akan
membuat tauhid kita akan keruh
dan ternodai. Orang yang
melakukan bid ’ah telah keluar
dari tuntunan syari’at Allah -
Ta’ala- yang telah Allah
wahyukan kepada Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-;
pelaku bid’ah tidaklah taat
kepada Allah secara murni.
Andai ia meyakini Allah sebagai
Robb dan ilah-nya
(sembahannya), maka ia akan
taat dan tak keluar dari
tuntunan-Nya. [Lihat Al-Qoul As-
Sadid Syarh Kitab At-Tauhid (hal.
24) karya Syaikh Abdur Rahman
Ibn Nashir As-Sa'diy, cet.
Wuzaroh Asy-Syu'un Al-
Islamiyyah, 1421 H]

Realisasi tauhid akan semakin
sempurna, jika seseorang
menanggalkan dan menjauhi
maksiat, seperti dusta, ingkar
janji, pacaran, korupsi, zina,
musik, minum khomer dan
lainnya. Sebab ini adalah tanda
bahwa hatinya memurnikan
ketaatannya kepada Sang
Pencipta dan Sembahannya,
yakni Allah -Azza wa Jalla-[Lihat
At-Tamhid li Syarh Kitab At-
Tauhid (hal. 34), karya Syaikh
Sholih bin Abdul Aziz Alusy
Syaikh, cet. Dar At-Tauhid, 1423
H]
Perealisasian dan penerapan
tauhid yang murni dan bersih
dari syirik amatlah susah kita
temukan di tengah kebanyakan
manusia pada hari ini, kecuali
orang yang diberi petunjuk
untuk menapaki jalan para nabi
dan rasul yang berlandaskan
tauhid. Orang yang mengaku
bertauhid banyak, tapi realita
mengingkarinya.

Pembaca yang budiman, kalau
hati kalian penasaran, maka
layangkan pandangan kalian
kepada ayat dan hadits berikut,
niscaya kalian akan memahami
makna tauhid dan cara
merealisasikannya.

Allah -Ta’ala- berfirman,
"Sesungguhnya Ibrahim adalah
seorang imam yang dapat
dijadikan teladan lagi patuh
kepada Allah dan HANIF. dan
sekali-kali bukanlah dia termasuk
orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan),
(lagi) yang mensyukuri nikmat-
nikmat Allah. Allah telah
memilihnya dan menunjukinya
kepada jalan yang lurus". (QS.
An-Nahl : 120-121).

SyaikhMuhammad Ibn Sholih Al-
Utsaimin-rahimahullah- berkata,

"Orang yang HANIF adalah
orang yang menghindar dari
kesyirikan, menjauhi segala
perkara yang menyelisihi
ketaatan". [Lihat Al-Qoul Al-
Mufid (1/93), cet. Dar Ibn Al-
Jauziy, 1421 H]

Barangsiapa yang mau
merealisasikan tauhid secara
sempurna sehingga ia
mendapatkan pujian dari Allah
sebagaimana yang dialami
Ibrahim -Shollallahu ‘alaihi
wasallam-, maka seorang harus
memiliki 4 sifat yang ada pada
Nabi Ibrahim :

  1. Sifat Keteladanan dan
    Kepemimpinan

  2. Sifat Selalu Patuh kepada
    Allah -Azza wa Jalla

  3. Sifat Hanif : menjauhi
    kesyirikan.

  4. Sifat Syukur terhadap
    nikmat lahir dan batin.


Inilah empat sifat yang harus
dimiliki oleh seorang yang ingin
merealisasikan tauhidnya dengan
sempurna. Keempat sifat ini tak
akan terwujud kecuali jika
dibarengi dengan ilmu dan
konsekuensinya berupa
keyakinan terhadap sesuatu yang
kita ilmui, dan tunduk
kepadanya. [Lihat Fathul Majid
(hal. 75-76) karya Syaikh Abdur
Rahman bin Hasan At-Tamimiy,
cet. Dar Al-Fikr, 1412 H, dan Al-
Qoul Al-Mufid (1/91) karya Al-
Utsaimin]

Al-Imam Abu Bakr Ibn Qoyyim
Al-Jauziyyah-rahimahullah-
berkata menjelaskan maksud
Allah menyebutkan empat sifat
itu, "Maksudnya, Allah -
Subhanahu- memuji kekasih-Nya
(yakni, Ibrahim) dengan empat
sifat ini. Empat sifat ini kembali
kepada ilmu, pengamalan
konsekuensi ilmu tersebut,
mengajarkannya, dan
menyebarkannya. Jadi, semua
kesempurnaan itu kembali
kepada ilmu dan pengamalan
konsekuensinya, serta
mendakwahi makhluk menuju
kepada ilmu itu". [Lihat Miftah
Dar As-Sa'adah (1/174)]
Jadi, seorang yang mau
merealisasikan tauhid secara
total dan murni, maka ia harus
mengetahui dan mengilmui
bahwa dirinya harus menjauhi
kesyirikan. Oleh karena itu, Allah
-Ta’ala- berfirman,
"Dan orang-orang yang tidak
mempersekutukan dengan
Tuhan mereka (sesuatu
apapun)". (QS. Al-Mukminun :
59).

Maksiat –menurut makna
umumnya- adalah syirik, karena
maksiat timbul dari hawa nafsu
yang menyelisihi syari ’at. Tak
heran jika Allah berfirman,
"Maka pernahkah kamu melihat
orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya".
(QS. Al-Jatsiyah: 23).
Syaikh Al-Utsaimin berkata saat
menafsiri ayat 59 dari Surah Al-
Mukminun, "Yang dimaksud
dengan SYIRIK adalah syirik
dalam artian yang lebih umum,
sebab perealisasian tauhid tak
akan terjadi, kecuali dengan
jalan menjauhi syirik –menurut
artiannya yang lebih umum-.
Tapi bukanlah maksudnya,
seseorang (yang merealisasikan
tauhid) tak akan muncul darinya
kemaksiatan, sebab setiap anak
cucu Adam adalah orang-orang
yang pernah bersalah, tak
ma ’shum. Namun jika mereka
bermaksiat, maka mereka segera
bertaubat, dan tidak terus-
menerus di atas maksiat". [Lihat
Al-Qoul Al-Mufid (1/96)]
Seorang yang merealisasikan
tauhid dengan hati dan raganya
akan selalu menjauhi maksiat.
Kalaupun ia terjatuh dalam
maksiat, maka ia akan segera
sadar dan siuman dari
kelalaiannya seraya mengingat
bahwa ia tak diciptakan untuk
mendurhakai Allah, tapi ia
diciptakan untuk taat kepada
Allah -Azza wa Jalla-. Merekalah
yang Allah singgung dalam
firman-Nya,
"Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri,
mereka ingat akan Allah, lalu
memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka ; dan tak ada
yang dapat mengampuni dosa
selain Allah. Dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui".
(QS. Ali Imran : 135).
Karena jauh dari kesyirikan,
seorang yang merealisasikan
tauhidnya dengan murni akan
selalu tergantung hatinya kepada
Allah, ia selalu bertawakkal
kepada-Nya sehingga ia diberi
keutamaan oleh Allah -Ta’ala-
untuk masuk dalam golongan 70
ribu orang yang masuk surga
tanpa hisab (perhitungan), dan
siksaan. Inilah yang disebutkan
oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- dalam hadits ini,

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ,
فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ
الرُّهَيْطُ, وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ
الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ
وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
إِذْ رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ
فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِيْ,
فَقِيْلَ لِيْ هَذَا مُوْسَى
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَقَوْمُهُ, وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى
اْلأُفُقِ, فَنَظَرْتُ فَإِذَا
سَوَادٌ عَظِيْمٌ, فَقِيْلَ لِيَ
انْظُرْ إِلَى اْلأُفُقِ اْلآخَرِ,
فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ,
فَقِيْلَ لِيْ هَذِهِ أُمَّتُكَ
وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا
يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ
حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ, ثُمَّ
نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ
فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ
أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْخُلُوْنَ
الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
وَلاَ عَذَابٍ, فَقَالَ
بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ
الَّذِيْنَ صَحِبُوْا رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ, وَقَالَ بَعْضُهُمْ:
فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا
فِي اْلإِسْلاَمِ وَلَمْ
يُشْرِكُوْا بِاللهِ وَذَكَرُوْا
أَشْيَاءً, فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ: مَا
الَّذِيْ تَخُوْضُوْنَ فِيْهِ؟
فَأَخْبَرُوْهُ, فَقَالَُ: هُمُ
الَّذِيْنَ لاَ يَتَطَيَّرُوْنَ
وَلاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ
يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُوْنَ, فَقَامَ
عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ
فَقَالَ: اُدْعُ اللهَ أَنْ
يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ, فَقَالَ:
أَنْتَ مِنْهُمْ, ثُمَّ قَامَ
رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: اُدْعُ اللهَ
أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ,
فَقَالَ: سَبَقَكَ بِهَا
عُكَّاشَةُ

"Umat-umat telah diperlihatkan
kepadaku; aku melihat seorang
nabi dan bersamanya
sekelompok kecil pengikutnya;
seorang nabi lagi bersama satu-
dua orang (dari kalangan
pengikutnya), dan seorang nabi
lagi yang tak ada seorangpun
bersamanya. Tiba-tiba
diangkatkan kepadaku kelompok
besar; aku kira bahwa mereka
adalah umatku. Lalu
disampaikan kepadaku, "Ini
adalah Musa -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- dan kaumnya. Tapi
lihatlah ke ufuk!" Lalu aku lihat
(ke ufuk), maka tiba-tiba ada
sebuah kelompok besar.
Kemudian disampaikan
kepadaku, "Lihatlah ke ufuk
yang lain". Lalu tiba-tiba ada
sebuah kelompok besar lagi.
Dikatakan kepadaku, "Ini adalah
umatmu, bersama mereka ada
70 ribu orang yang akan masuk
surga tanpa hisab (perhitungan),
dan siksaan". Kemudian Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bangkit dan masuk ke
rumahnya. Manusia pun
berbincang-bincang tentang
orang-orang yang akan masuk
surga tanpa hisab dan siksaan.
Ada yang berkata, "Mungkin
mereka adalah yang telah
menemani Rasulullah -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-".
Sebagian lagi berkata, "Mungkin
mereka adalah orang-orang
yang dilahirkan dalam Islam, dan
tidak mempersekutukan Allah
(dalam beribadah kepada-Nya)".
Lalu mereka menyebutkan
beberapa perkara lain.
Kemudian Rasulullah -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
keluar menemui mereka seraya
bersabda, "Apa yang kalian
perbincangkan?" Mereka pun
mengabarkan hal itu kepada
beliau. Beliau bersabda, "Mereka
adalah orang-orang yang tidak
ber-tathoyur (merasa sial karena
suatu hari atau benda), tidak
pernah meminta ruqyah (jampi),
dan tidak pula berobat dengan
cos (besi panas), dan mereka
hanya bertawakkal kepada
Robb-nya". Lalu bangkitlah
Ukkasah bin Mihshon seraya
berkata, "Berdoalah kepada
Allah agar Dia menjadikan aku
termasuk diantara mereka". Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda, "Engkau termasuk
diantara mereka". Kemudian ada
lagi seorang laki-laki yang lain
berdiri seraya berkata,
"Berdoalah kepada Allah agar
Dia menjadikan aku termasuk
diantara mereka". Beliau
bersabda, "Engkau telah
didahului Ukkasayah". [HR. Al-
Bukhoriy dalam Shohih-nya
(3410, 5705, 5752, 6472, & 6541),
dan Muslim dalam Shohih-nya
(220)]

Perhatikanlah keutamaan yang
diraih oleh orang yang
bertawakkal secara sempurna
kepada Allah; ia akan masuk
surga, tanpa hisab dan siksaan.
Inilah salah satu bentuk realisasi
tauhid. Seorang yang bertauhid
akan memurnikan tawakkalnya
kepada Allah.
Hadits ini memberikan faedah
bahwa meminta ruqyah,
melakukan tathoyyur, berobat
dengan dengan cara kay (cos :
besi panas); semua ini adalah
perkara-perkara yang
mengurangi tawakkal seorang
yang melakukannya, karena saat
ia melakukan satu diantaranya,
maka dalam hatinya akan
terdapat semacam kecondongan
dan ketergantungan kepada
selain Allah, yakni ia yakin
kepada orang-orang
membantunya melakukan hal-
hal itu. Namun bukan berarti
bahwa seorang dilarang berobat
ke dokter dengan cara medis,
selain cara-cara yang disebutkan
dalam hadits Ukkasyah di atas,
Wallahu a ’lam. [Lihat At-Tamhid
li Syarh Kitab At-Tauhid (hal.
39-40)]
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy -
hafizhahullah- berkata, "(Di
dalam hadits ini) terdapat
keutamaan tawakkal kepada
Allah -Ta ’ala- dan bersandar
kepadanya dalam mencegah
suatu musibah, atau
mendatangkan manfaat". [Lihat
Bahjah An-Nazhirin (1/153)]
Inilah keutamaan besar yang
Allah janjikan dan karuniakan
kepada orang-orang yang
merealisasikan tauhidnya hanya
untuk Allah -Azza wa Jalla-.
Semoga Allah menjadikan kita
orang-orang yang mendapatkan
keutamaan ini sebagaimana
halnya sahabat yang mulia,
Ukkasyah bin Mihshon Al-Asadiy
Al-Badriy -radhiyallahu ‘anhu-.


Sumber : Buletin Jum’at At-
Tauhid edisi 101 Tahun II.

http://almakassari.com/artikel-
islam/aqidah/keistimewaan-
orang-bertauhid.html
www.darussalaf.or.id

0 komentar:

Posting Komentar