Banner 468 X 60

Minggu, 04 Juli 2010

Tidak Ada Al Mahdi Kecuali Isa 'Alaihissalam

لا مهد ي إلا عيسى

Tidak ada Al Mahdi kecuali Isa alaihissalam.

Hadits ini mungkar. Ia telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah II/495, juga oleh Al Hakim IV/441, Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya jami' al ilmi I/155, dari sanad Muhammad bin Khalid al jundi, dari Ibnu Aban bin Shaleh, dari Al Hasan dari Anas.
Sanad ini sangat lemah,kelemahannya terletak pada tiga hal,yaitu:
  1. An'anah(maksudnya yang sanadnya dengan menggunakan kata 'an fulan,'an fulan dan seterusnya). Hasan Basri,terbukti telah dengan sengaja pernah mencampur aduk riwayat.
  2. Kemajhulan perawi Muhammad bin Khalid seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya at taqrib.
  3. Perselisihan dan perbedaan sanadnya. Al Baihaqi berkata, Al Hafizh Abu Abdullah menyatakan bahwa Muhammad bin Khalid adalah majhul,tidak di kenal di kalangan pakar hadits.

Adz Dzahabi berkata, riwayat ini munkar sambil mengutarakan hadits serupa dengan sanad dari Ibnu Abi Ayyasyi dari Hasan secara mursal(terhenti sanadnya sampai kepada tabiin atau sahabat).
Ringkasnya,hadits-hadits yang menyatakan akan munculnya al Mahdi di akhir jaman nanti adalah shahih. Di riwayatkan oleh seluruh ashabus sunan dan shahihain.
Hadits dha'if yang oleh ash Shaghani dan asy Syaukani bahkan dinyatakan maudhu' ini adalah riwayat yang dijadikan landasan dalil bagi firqah Ahmadiyah dalam usahanya menguatkan anggapan mereka(para pengikutnya)bahwa Mirza ghulam ahmad adalah nabi. Kemudian ia mendakwa sebagai Isa atas dasar hadits tersebut tadi.
Dakwaan Mirza ini telah banyak menggoyahkan iman kaum dhuafa yang pengetahuan agamanya sangat minim. Dan seperti biasa,para penyeru yang batil selalu hanya di ikuti oleh orang-orang yang lemah imannya dan sangat minim pengetahuan agamanya.
Wallahul musta'an.


Sumber: Silsilah Hadits Dha'if Dan Maudhu jilid 1 Muhammad Nashiruddin Albani
Gema insani press cet 2 1998

Read more..

Sabtu, 03 Juli 2010

Menshalati Mayit Yang Dahulunya Tidak Shalat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullahu ditanya tentang
menyolati seorang mayit yang
dahulunya (semasa hidupnya)
tidak melakukan shalat. Apakah
dengan itu seseorang
mendapatkan pahala atau tidak?

Apakah seseorang berdosa bila
meninggalkannya, sementara dia
tahu bahwa dahulu si mayit tidak
shalat? Demikian pula mayit yang
dahulunya meminum khamr dan
tidak shalat, bolehkah bagi yang
mengetahui keadaannya untuk
menyolatinya?

Jawab:
Seseorang yang menampakkan
keislaman maka berlaku
padanya hukum-hukum Islam
yang zhahir (tampak), semacam
pernikahan, warisan, dimandikan
dan dishalati, dan dikuburkan di
pekuburan muslimin, dan yang
semacamnya.
Adapun yang mengetahui
adanya kemunafikan dan
kezindiqan1 pada dirinya (mayit),
dia tidak boleh menyolatinya,
walaupun si mayit (dahulunya)
menampakkan keislaman.
Karena Allah Subhanahu wa
Ta'ala melarang Nabi-Nya
Shallallahu 'alaihi wa sallam
untuk menyolati orang-orang
munafik. Firman-Nya:

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ
مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا
تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ
كَفَرُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ
وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali
menyolatkan (jenazah) seorang
yang mati di antara mereka, dan
janganlah kamu berdiri
(mendoakan) di kuburnya.
Sesungguhnya mereka telah kafir
kepada Allah dan Rasul-Nya dan
mereka mati dalam keadaan
fasik.” (At-Taubah: 84)

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ
أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ
تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ
يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ

“Sama saja bagi mereka, kamu
mintakan ampunan atau tidak
kamu mintakan ampunan bagi
mereka, Allah tidak akan
mengampuni mereka.” (Al-
Munafiqun: 6)
Adapun yang menampakkan
kefasikan bersamaan dengan
adanya iman pada dirinya,
seperti para pelaku dosa besar,
maka sebagian muslimin tetap
diharuskan menyolati (jenazah)
mereka. Tapi (bila) seseorang
tidak menyolatinya dalam rangka
memperingatkan orang-orang
yang semacamnya dari
perbuatan seperti itu,
sebagaimana Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam tidak mau
menyolati seseorang yang mati
bunuh diri, orang yang mencuri
harta rampasan perang sebelum
dibagi, serta yang mati
meninggalkan hutang dan tidak
memiliki (sesuatu) untuk
membayarnya, juga sebagaimana
dahulu banyak dari kalangan
salaf (pendahulu) berhalangan
untuk menyolati ahli bid’ah,
maka pengamalannya terhadap
sunnah ini bagus.
Dahulu putra Jundub bin
Abdillah Al-Bajali berkata kepada
ayahnya: “Aku semalam tidak
dapat tidur karena
kekenyangan.” Jundub
radhiyallahu 'anhu mengatakan:
“Seandainya kamu mati maka
aku tidak mau menyolatimu.”
Seolah Jundub mengatakan:
“Kamu bunuh dirimu dengan
kebanyakan makan.”
Yang semacam ini sejenis dengan
pemboikotan terhadap orang-
orang yang menampakkan dosa
besar agar mereka mau
bertaubat. Bila perlakuan
semacam ini membuahkan
maslahat yang besar maka sikap
itu baik.
Barangsiapa tetap menyolatinya
dengan mengharapkan rahmat
Allah Subhanahu wa Ta'ala
untuknya, sementara jika dia
tidak menyolatinya juga tidak
ada maslahat yang besar, maka
sikap yang demikian juga baik.
Atau, seandainya dia
menampakkan bahwa dia tidak
mau menyolatinya namun tetap
mendoakannya walaupun tidak
menampakkan doanya –untuk
menggabungkan dua maslahat–
maka memadu dua maslahat
lebih baik daripada
meninggalkan salah satunya.
Orang yang tidak diketahui
kemunafikannya sedangkan dia
adalah seorang muslim, boleh
memintakan ampunan untuknya.
Bahkan itu disyariatkan dan
diperintahkan. Sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Dan mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-
orang mukmin, laki-laki dan
perempuan.” (Muhammad: 19)
Semua orang yang
menampakkan dosa besar, boleh
dihukum dengan diboikot dan
cara yang lain, sampai pada
mereka yang bila di-hajr (boikot)
akan mengakibatkan maslahat
yang besar. Sehingga
dihasilkanlah maslahat yang
syar’i dalam sikap tersebut
semampu mungkin.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullahu ditanya tentang
seseorang yang terkadang shalat,
tetapi banyak meninggalkan atau
tidak shalat. Apakah (bila mati)
dia dishalati?

Jawab:
Terhadap orang yang seperti ini,
kaum muslimin tetap
menyolatinya. Bahkan kaum
munafik yang menyembunyikan
kemunafikannya, kaum muslimin
tetap menyolati dan
memandikannya, dan diterapkan
atasnya hukum-hukum Islam,
sebagaimana kaum munafik di
zaman Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam.
Bila mengetahui
kemunafikannya, maka ia tidak
boleh menyolatinya.
Sebagaimana Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam dilarang
menyolati orang yang beliau
ketahui kemunafikannya.
Adapun seseorang yang dia
ragukan keadaannya, maka
diperbolehkan menyolatinya bila
ia menampakkan keislamannya.
Sebagaimana Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam menyolati orang
yang beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam belum dilarang untuk
menyolatinya. Di antara mereka
ada yang belum beliau ketahui
kemunafikannya, sebagaimana
Allah Subhanahu wa Ta'ala
firmankan:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ
الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ
أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى
النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ
نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ

“Di antara orang-orang Arab
badui yang di sekelilingmu itu,
ada orang-orang munafik; dan
(juga) di antara penduduk
Madinah. Mereka keterlaluan
dalam kemunafikannya. Kamu
(Muhammad) tidak mengetahui
mereka, (tetapi) Kamilah yang
mengetahui mereka.” (At-
Taubah: 101)
Terhadap orang yang semacam
mereka tidak boleh dilarang
untuk menyolatinya. namun
shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan kaum mukminin
terhadap orang munafik tidak
bermanfaat untuknya.
Sebagaimana Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam berkata ketika
memakaikan gamisnya kepada
Ibnu Ubai (seorang munafik):
“Dan tidak akan bermanfaat
gamisku untuk menolongnya
dari hukuman Allah.” Allah
Subhanahu wa Ta'ala juga
berfirman:

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ
أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ
تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ
يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ

“Sama saja bagi mereka, kamu
mintakan ampunan atau tidak
kamu mintakan ampunan bagi
mereka, Allah tidak akan
mengampuni mereka.” (Al-
Munafiqun: 6)
Orang yang terkadang
meninggalkan shalat dan yang
sejenisnya, yang menampakkan
kefasikan, bila para ulama meng-
hajr (memboikot) nya dan tidak
menyolatinya akan membuahkan
manfaat bagi muslimin –di mana
hal itu akan menjadi pendorong
mereka untuk menjaga shalat–
maka hendaknya mereka
memboikotnya dan tidak
menyolatinya. Sebagaimana Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak mau menyolati orang yang
mati bunuh diri, orang yang
mencuri harta rampasan perang,
serta orang yang mati
meninggalkan hutang dan tidak
ada yang untuk melunasinya.
Orang ini (yang meninggalkan
shalat) lebih jelek dari mereka.
(Majmu’ Fatawa, 24/285-288)


www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=732
Read more..

Jumat, 02 Juli 2010

Perselisihan Umatku Adalah Rahmat

Sudah menjadi takdir Allah -Azza
wa Jalla-, adanya perpecahan di
dalam Islam dan memang hal
tersebut telah disampaikan oleh
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- . Di negara kita
sendiri, sekte-sekte dan aliran
sesat yang menyandarkan diri
kepada Islam sudah terlalu
banyak. Apabila kita
memperingatkan dan
membantah kesesatan aliran-
aliran tersebut, maka sebagian
kaum muslimin membela aliran-
aliran tersebut. Mereka berdalil
dengan hadits berikut,

إِخْتِلَافُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

Padahal hadits ini dho’if (palsu),
bahkan tidak ditemukan dalam
kitab-kitab hadits. Syaikh Al-
Albaniy -rahimahullah- berkata,
"Hadits ini tak ada asalnya. Para
ahli hadits telah mengerahkan
tenaga untuk mendapatkan
sanadnya, namun tak mampu".

Dari segi makna,
hadits juga batil. Ibnu Hazm -
rahimahullah- dalam Al-Ihkam
(5/64) berkata, "Ini merupakan
ucapan yang paling batil, karena
andaikan ikhtilaf (perselisihan)itu
rahmat, maka kesepakatan(persatuan)
adalah kemurkaan. Karena,
disana tak ada sesuatu, kecuali
kesepakatan, dan perselihan; tak
ada, kecuali rahmat atau
kemurkaan".


Sumber : Buletin Jum’at Al-
Atsariyyah edisi 18 Tahun I.
Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.
www.almakassari.com/artikel-islam/aqidah/perselisihan-umatku-adalah-rahmat.html#more-132
Read more..

Kisah Harut Dan Marut

Hadits palsu, dan
berita isra’iliyyat
banyak "menghiasi"
kitab-kitab tafsir.
Ambil saja sebagai
contoh, hadits
tentang Harut, dan Marut. Oleh
karenanya, saat membaca
sebagian kitab-kitab tafsir,
seorang harus pandai memilah,
dan memilih hadits, jangan
sampai memilih hadits palsu,
atau berita Isra’iliyyat yang
diadopsi dari Taurat, dan Injil,
atau dari ucapan para pendeta
dan mantan pendeta yang
masuk ke dalam Islam, seperti
hadits berikut:

"Sesungguhnya Adam ketika ia
diturunkan oleh Allah ke bumi,
para malaikat berkata, "Wahai
Robb-ku, apakah Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau?" Allah
berfirman: "Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui." Mereka berkata,
"Wahai Rabb kami, kami lebih
taat kepadamu dari pada bani
adam". Allah berkata kepada
para malaikat, "Datangkan
kepadaku dua malaikat dari
malaikat-malaikat yang ada
sehingga keduanya diturunkan
ke bumi dan kita lihat bagaimana
keduanya berbuat?". Para
malaikat berkata, "Wahai Rabb
kami, turunkanlah Harut dan
Marut". Kemudian keduanya
pun diturunkan ke bumi, dan
dinampakkanlah hiasan dunia
kepada mereka berdua dalam
bentuk seorang wanita yang
paling cantik. Wanita itu pun
datang kepada mereka berdua
dan kedua malaikat itu meminta
diri wanita tersebut. Sang wanita
berkata, "Tidak !! Demi Allah,
sampai kalian berdua
mengucapkan kalimat syirik ini.
Keduanya berkata, "Demi Allah,
kami tidak akan berbuat syirik
kepada Allah. Wanita itu pun
meninggalkan mereka berdua.
Kemudian wanita itu kembali
dengan membawa seorang bayi,
maka kedua malaikat itu kembali
meminta diri sang wanita. Sang
wanita berkata, "Tidak!! Demi
Allah, sampai kalian membunuh
bayi ini. Kedua malaikat itu
berkata, "Demi Allah, kami tidak
akan membunuhnya selamanya".
Maka sang wanita pergi.
Kemudian ia kembali lagi
membawa segelas khamer.
Kedua malaikat kembali meminta
diri sang wanita. Maka sang
wanita berkata, "Tidak!! Demi
Allah, sampai kalian minum
khamer ini". Akhirnya, keduanya
pun meminum khamer tersebut,
lalu keduanya mabuk sehingga
keduanya menyetubuhi sang
wanita itu, dan membunuh bayi.
Tatkala keduanya sadar, sang
wanita berkata, "Demi Allah,
tidak satu pun yang kalian
tinggalkan dari apa yang kalian
abaikan di hadapanku, kecuali
telah kalian lakukan ketika kalian
mabuk. Keduanya pun
diperintahkan untuk memilih
siksa dunia atau siksa akhirat.
Maka keduanya memilih siksa
dunia". [HR. Ahmad dalam Al-
Musnad (2/134/no. 6178), Ibnu
Hibban dalam Shohih-nya
(6186), Ibnu Abid Dunya dalam
Al-Uqubat (222), Abd bin
Humaid dalam Al-Muntakhob
(787), dan lainnya]

Hadits ini adalah hadits yang batil,
bukan sabda Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam-, karena dalam
sanadnya terdapat rawi yang
bernama Zuhair bin
Muhammad At-Tamimiy Al-
Marwaziy; ia tsiqoh, tapi biasa
meriwayatkan hadits yang
munkar, seperti hadits Harut,
dan Marut ini. Selain itu,
gurunya yang bernama Musa
bin Jubair; ia adalah seorang
yang mastur (tak dikenal
kedudukannya). Intinya, hadits
ini batil baik sanad, maupun
redaksinya, dan hadits ini adalah
berita isra’iliyyat yang terambil
dari Ka’ab Al-Ahbar
sebagaimana yang dijelaskan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam
Adh-Dho’ifah (170).


Sumber : Rubrik Hadits Lemah
Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 75
Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu
Abbas. Alamat : Pesantren
Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne
No. 58, Kel. Borong Loe, Kec.
Bonto Marannu, Gowa-Sulsel
www.almakassari.com/artikel-islam/hadits/kisah-harut-dan-marut.html#more-685
Read more..

Membongkar Kesesatan Doraemon Cs

Anak-anak ibarat "kertas putih"
yang dapat dituliskan apa saja
pada dirinya. Pada masa anak-
anak, apa saja yang dilihat dan
didengar dapat membekas di
dalam sanubarinya yang masih
polos, jika telah terukir di dalam
hatinya, akan tergambar dan
tersalurkan jika kelak mereka
menjadi dewasa.
Tidak dipungkiri lagi, banyak
beredar kisah-kisah menarik
yang dikemas sedemikian rupa
agar disukai anak-anak;
kebanyakannya termasuk kisah-
kisah fiktif yang dibumbui
dengan cerita-cerita
kebohongan, syirik, kebobrokan
akhlaq, dan gambar bernyawa.
Walhasil, kita dapat melihat
betapa banyak anak-anak
muslim yang lebih mengenal
tokoh-tokoh fiktif hasil
produksi orang-orang kafir
daripada mengenal tokoh-tokoh
muslim, seperti para sahabat,
dan ulama’ Salaf; betapa banyak
anak-anak muslim yang
menghafal cerita-cerita khurafat
dibandingkan kisah-kisah penuh
ibroh (pelajaran) yang telah
diceritakan dan diajarkan oleh
Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu
‘alaihi wasallam-
Ketika anak-anak bergerombol
di depan televisi tak ada satu
orang tua pun yang bergeming
dan prihatin sikap anak-anaknya.
Padahal apabila kita perhatikan,
maka nasib anak-anak kita
berada dalam kondisi
memprihatinkan. Bagaimana
tidak, sementara film-film kartun
tersebut mengajarkan kepada
mereka pelanggaran-
pelanggaran syariat Allah dan
Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi
wasallam-
Tulisan yang ada di depan Anda
ini akan membongkar kesesatan,
dan penyimpangan beberapa
film kartun yang paling populer
di tengah-tengah masyarakat
yang menyesatkan dan
meninabobokkan cikal bakal
umat ini.

Doraemon si Boneka
Ajaib


Konon kabarnya, Doraemon bisa
pergi menjelajah di masa lalu
dan di masa yang akan datang.
Katanya, ia dapat mengadakan
sesuatu yang belum ada menjadi
ada dengan "kantong
ajaibnya". Dalam kartun, ia
digambarkan sebagai tempat
untuk dimintai segala sesuatu
yang ghaib oleh temannya.
Lihatlah bagaiman film kartun
tersebut betul-betul
menyimpang dari aqidah.
Segala sesuatu telah ditetapkan
waktu dan ajalnya oleh Allah -
Ta’ala-. Makhluk tak mampu
mengatur waktu, baik itu
memajukannya atau
mengundurkannya. Makhluk tak
akan mampu menyebrang dari
zaman kekinian menuju zaman
lampau atau sebaliknya.
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Tiap-tiap umat mempunyai
batas waktu. Maka apabila telah
datang waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang
sesaatpun dan tidak dapat (pula)
memajukannya". (QS. Al-A’raaf:
34)
Kartun Doraemon telah
mengajarkan aqidah (keyakinan)
batil dalam benak anak-anak
kita tentang adanya makhluk
yang memiliki kemampuan yang
menyamai Allah -Ta’ala- ;
makhluk ini mampu
mengadakan segala sesuatu yang
belum ada menjadi ada. Padahal
telah paten dalam Al-Qur’an
dan Sunnah bahwa tak ada
makhluk yang mampu
melakukan segala sesuatu yang
ia kehendaki, karena itu semua
ada dalam kekuasaan Allah; itu
hanyalah sifat yang dimiliki Allah.
Dia berfirman,
"Akan tetapi Allah berbuat apa
yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-
Baqoroh:253)
" Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Pelaksana terhadap apa yang dia
kehendaki". (QS.Huud :107)
Tak terasa si Doraemon pun
mengajari anak kecil untuk
meminta dan berdoa kepada
selain Allah dalam perkara
yang tak mampu dilakukan oleh
seorang makhluk, hanya bisa
dilakukan oleh Allah -Ta’ala- .
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan Sesungguhnya mesjid-
mesjid itu adalah kepunyaan
Allah. Maka janganlah kamu
menyeru (berdoa) kepada
seseorangpun di dalamnya di
samping Allah". (QS. Al-Jin:18 ).
Abu Abdillah Al-Qurthubiy-
rahimahullah- berkata, "Firman
Allah ini adalah celaan bagi
orang-orang musyrikin saat
mereka berdoa kepada selain
Allah di samping Allah di Masjidil
Haram. Mujahid berkata, "Dulu
orang-orang Yahudi dan
Nashrani, jika masuk ke gereja,
dan kuil mereka, maka mereka
mempersekutukan Allah (dalam
beribadah). Maka Allah
memerintahkan Nabi-Nya, dan
kaum mukminin agar mereka
memurnikan doanya hanya
kepada Allah, jika mereka masuk
ke semua masjid". [Lihat Al-Jami'
li Ahkam Al-Qur'an (19/21)]

Dragon Ball

Cerita ini dalam film ini banyak
mengandung unsur kebatilan,
seperti adanya penyembahan
dewa-dewa seperti Dewa
Emperor, Dewa Bumi, Dewa
Gunung, Dewa Naga, dan lain-
lain. Keyakinan ini seluruhnya
berasal dari agama Budha,
Hindu dan Shinto yang penuh
dengan kebatilan dan kesesatan,
sementara Allah hanyalah
meridhoi Islam sebagai agama
yang benar.
Sesungguhnya agama (yang
diridhai) di sisi Allah hanyalah
Islam. (QS. Ali Imron : 19)
Mufassir ulung, Al-Imam Ibnu
Katsir-rahimahullah- berkata,
"Firman Allah -Ta’ala- tersebut
merupakan pengabaran dari-Nya
bahwa tak ada agama di sisi-Nya
yang Dia terima dari seorang
pun selain Islam, yaitu mengikuti
para Rasul dalam perkara yang
mereka diutus oleh Allah
dengannya dalam setiap zaman
sampai mereka (para rasul itu)
ditutup dengan Muhammad -
Shollallahu ‘alaihi wasallam-
yang telah menutup semua jalan
menuju kepada-Nya, selain dari
arah Muhammad -Shollallahu
‘alaihi wasallam-. Barangsiapa
yang setelah diutusnya
Muhammad -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- menemui Allah
dengan suatu agama yang
tidak berdasarkan syari’atnya,
maka agama itu tak akan
diterima". [Lihat Tafsir Al-
Qur'an Al-Azhim (1/471)]
Jadi, agama apapun selain Islam,
seperti agama Buddha, Hindu,
Shinto, dan lainnya, semuanya
tak akan diterima oleh Allah,
dan pelakunya akan merugi,
karena kekafiran dirinya. Allah -
Ta’ala- berfirman,
"Barangsiapa mencari agama
selain agama islam, Maka sekali-
kali tidaklah akan diterima
(agama itu)daripadanya, dan dia
di akhirat termasuk orang-orang
yang rugi". (QS. Ali Imron: 85 )
Seorang Imam Ahli Tafsir,
Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy-
rahimahullah- berkata dalam
menafsirkan ayat ini, "Allah -
Ta’ala- menjelaskan bahwa
barangsiapa yang–setelah
diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam- memilih selain syari’at
beliau, maka agama itu tak akan
diterima darinya. Sedangkan
diterimanya sesuatu adalah
diridhoinya, dan diberikannya
balasan bagi pelakunya atas
perbuatan itu". [Lihat Ruh Al-
Ma'aniy (3/215)]
Jika kita telah mengetahui
kebatilan agama selain Islam,
maka tak layak bagi kita dan
anak-anak kita untuk berbangga,
meniru, dan memuji orang-orang
kafir itu, dan gaya hidup mereka,
apalagi sampai memilih agama
mereka sebagai pedoman
hidup !! Jauhkanlah anak-anak
kita dari orang-orang kafir,
jangan sampai mereka bangga
dengan orang-orang kafir.
Bersihkanlah mulut dan telinga
mereka dari istilah-istilah orang-
orang kafir, dan paganisme
dengan jalan membersihkan
rumah kita dari benda pembawa
petaka (televisi) yang berisi
tayangan yang mendangkalkan,
bahkan menghanguskan agama.
Kita harus baro’ (berlepas diri)
dari orang-orang kafir, dan
sembahan-sembahan mereka,
"Sesungguhnya Telah ada suri
tauladan yang baik bagimu pada
Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan Dia; ketika
mereka berkata kepada kaum
mereka: "Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu
dari daripada apa yang kamu
sembah selain Allah, kami
ingkari (kekafiran)mu, dan
telah nyata antara kami dan
kamu permusuhan dan
kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada
Allah saja". (QS. Al-
Mumtahanah: 04).
Ayat ini mengajarkan kepada kita
agar punya pendirian terhadap
orang-orang kafir. Kita harus
tegas dalam menampakkan
keyakinan kita. Jangan malah kita
yang bangga dan tertipu dengan
kekafiran mereka, karena hanya
sekedar kemajuan semu yang
mereka capai di dunia ini. Allah -
Ta’ala- berfirman,
"Janganlah sekali-kali kamu
terperdaya oleh kebebasan
orang-orang kafir bergerak di
dalam negeri-negeri". (QS.Ali
Imran : 196).
Imam Para Ahli Tafsir, Abu
Ja’far Ath-Thobariy-
rahimahullah- berkata, "Allah -
Ta’ala Dzikruh- melarang Nabi-
Nya -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- agar jangan tertipu
dengan bergerak (bebas)nya
orang-orang kafir di negeri-
negeri, dan penangguhan Allah
bagi mereka, padahal mereka
berbuat syirik, mengingkari
nikmat-nikmat-Nya, dan
beribadahnya mereka kepada
selain-Nya". [Lihat Jami' Al-
Bayan (3/557)]
Jadi, bebasnya mereka di muka
bumi ini, dan majunya mereka
dalam segala lini kehidupan
jangan membuat kita tertipu
dengan mereka, sehingga
akhirnya tak lagi mengingkari
kekafiran mereka, dan malah
memilih sikap toleran bersama
mereka dalam urusan agama
(aqidah, ibadah, akhlaq, dan
lainnya).

Sincan (Simbol Anak
Durhaka)


Sincan adalah anak yang sering
mendurhakai kedua orang
tuanya, dia suka berbohong,
mengeluarkan kata-kata yang
kurang ajar kepada kedua orang
tuanya, dan suka membuat
orang tuanya marah dan jengkel.
Jadi, jangan heran kalau banyak
anak-anak yang meniru watak
Sincan tersebut, karena telah
terpengaruh oleh cerita kartun
tersebut.
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Tuhanmu Telah
memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain dia
dan hendaklah kamu berbuat
baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. jika
salah seorang di antara
keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-
kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah
kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia". (QS. Al-
Isroo’: 23 ).
Nabi -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- sebutkan diantara
dosa-dosa besar,
"Menyekutukan Allah, durhaka
kepada kedua orang tua".
Kemudian Beliau -Shollallahu
‘alaihi wasallam- duduk -
sebelumnya bersandar- sambil
bersabda, "Ingatlah, dan juga
perkataan dusta". [HR. Al-
Bukhoriy dalam Shohih-nya
(2511), Muslim Shohih-nya (87),
At-Tirmidziy Sunan-nya (1901),
Ahmad Musnad-nya (20401)]
Abu Amr Ibnush Sholah-
rahimahullah- berkata,
"Mungkin bisa dikatakan, Taat
kepada kedua orang tua adalah
wajib dalam segala sesuatu yang
bukan maksiat; menyelisihi
perintah keduanya dalam hal itu
adalah kedurhakaan". [Lihat
Umdah Al-Qoriy (13/216)]
Jadi, termasuk dosa besar, jika
seseorang mencela, membentak,
merendahkan orang tuanya.
Semua ini adalah bentuk-bentuk
durhaka yang terlarang di dalam
agama kita yang memiliki aturan
yang amat sempurna !!
Inilah beberapa kesesatan film-
film kartun tersebut. Namun
kesalahan dan kesesatannya,
sebenarnya masih banyak.


Sumber : Buletin Jum’at Al-
Atsariyyah edisi 38 Tahun I.
Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.
www.almakassari.com/artikel-islam/aqidah/membongkar-kesesatan-doraemon-cs.html
Read more..

Silaunya Kilatan Pedang(Sepetik Kisah Dari Perang Uhud)

Penulis:
Buletin Islam Al Ilmu

Para pembaca, semoga Allah
Subhaanallaahu wa Ta’aala
senantiasa mencurahkan
rahmat-Nya kepada kita semua,
salah satu potret realita yang
terkandung dalam rahim sejarah
Islam. Peristiwa monumental
yang tidak akan pernah
terlupakan dalam benak muslim
sejati. Peristiwa yang
menggambarkan pertentangan
dua sisi yang berlawanan.
Pertarungan antara kebenaran
melawan kebatilan. Manusia
beradab melawan manusia
biadab. Manusia mulia melawan
manusia tercela. Kaum muslimin
yang cinta kedamaian berseteru
dengan kaum kafir yang suka
kekacauan. Sebuah tragedi
memilukan hati yang terkandung
pelajaran penting dan berharga
bagi muslim sejati terhadap
petuah dan perintah (sunnah-
sunnah) Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa Sallam. Sebuah insiden
berdarah kontak senjata antara
kaum muslimin melawan kaum
musyrikin Quraisy yang terjadi
pada bulan Syawwal tahun
ketiga Hijriyah, peristiwa tersebut
dikenal dengan Perang Uhud.
Berikut petikan ringkas kisahnya:

Latar belakang pertempuran
Mendung kesedihan masih saja
menyelimuti kota Makkah. Tak
bisa dipungkiri lagi bahwa
Musyrikin Quraisy tak mampu
menyembunyikan duka lara
mendalam perihal kekalahan
telak mereka pada perang Badar
tahun kedua Hijriyah, hati
mereka tersayat pilu tak terkira.
Berita kalahnya pasukan Quraisy
terasa begitu cepat menyebar
keseluruh penjuru kota Makkah,
bak awan bergerak menutupi
celah celah langit yang kosong di
musim penghujan. Berita duka
itu serasa gempa bumi
menggoncang batok kepala
orang-orang musyrik. Namun
sangat disayangkan, kekalahan
telak kaum paganis Quraisy pada
perang itu tak mampu merubah
sikap bengis mereka terhadap
kaum muslimin. Dendam
kesumat nan membara tertancap
kokoh dalam hati mereka,
tewasnya tokoh-tokoh Quraisy
berstrata sosial tinggi pada
peristiwa nahas itu semakin
menambah kental kebencian
Quraisy terhadap kaum
muslimin.
Persiapan pasukan Quraisy
Tokoh-tokoh Quraisy seperti
Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan
bin Umayah, dan Abu Sufyan bin
Harb -sebelum mereka masuk
Islam- bangkit sebagai pelopor-
pelopor yang sangat getol
mengobarkan api balas dendam
terhadap Islam dan pemeluknya.
Para orator ulung bangsa Arab
tersebut menempuh langkah-
langkah jitu untuk memuluskan
program balas dendam tersebut,
mula-mula mereka melarang
warga Makkah meratapi
kematian korban tewas perang
Badar kemudian menunda
pembayaran tebusan kepada
pihak muslim untuk
membebaskan tawanan Quraisy
yang masih tersisa di Madinah.
Mereka sibuk menggalang dana
untuk menyongsong aksi balas
dendam, mereka datang kepada
para pemilik kafilah dagang
Quraisy yang merupakan pemicu
utama terjadinya perang Badar,
seraya menyeru: “Wahai orang-
orang Quraisy! Sungguh
Muhammad telah menganiaya
kalian serta membunuh tokoh-
tokoh kalian! Maka bantulah
kami dengan harta kalian untuk
membalasnya! Mudah-mudahan
kami bisa menuntut balas
terhadap mereka.”
Rencana tersebut mendapat
respon hangat dari masyarakat
Quraisy, kontan dalam waktu
yang sangat singkat terkumpul
dana perang yang cukup banyak
berupa 1000 onta dan 50.000
keping mata uang emas.
Sebagaimana yang Allah
Subhaanallaahu wa Ta’aala lansir
pada ayat ketigapuluh enam dari
surat Al-Anfal:

Sesungguhnya orang-orang kafir
itu mereka menginfakkan harta
mereka untuk menghalangi
manusia dari jalan Allah…
Hari demi hari tampak upaya
mereka mendapat hasil
signifikan. Betapa tidak, hanya
dalam kurun waktu satu tahun
saja mereka mampu
menghimpun pasukan tiga kali
lipat lebih besar dibanding
jumlah pasukan Quraisy pada
perang setahun lalu (perang
Badar) ditambah fasilitas
persenjataan yang memadai
terdiri dari 3000 onta, 200 kuda
dan 700 baju besi, jumlah total
pasukan tidak kurang dari 3000
prajurit ditambah lima belas
wanita bertugas mengobarkan
semangat tempur dan
menghalau pasukan lari mundur
kebelakang.
Bertindak sebagai panglima
tertinggi pasukan Quraisy adalah
Abu Sufyan bin Harb, adapun
pasukan berkuda dibawah
komando Khalid bin Al Walid
dan Ikrimah bin Abu Jahal,
sementara panji- panji perang
dipegang para ahli perang dari
Kabilah Bani Abdud Dar, dan
barisan wanita dibawah
koordinasi Hindun bintu ‘Utbah
istri Abu Sufyan. Terasa lengkap
dan cukup memadai persiapan
Quraisy dalam periode putaran
perang kali ini, arak-arakan
pasukan besar sarat anarkisme
dan angkara murka kini tengah
merangsek menuju Madinah
menyandang misi balas dendam
dan melampiaskan nafsu setan-
setan jahat.
Sampainya kabar kepada
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
Sallam
Beliau menerima surat rahasia
dari Al Abbas bin Abdul
Mutthalib paman beliau yang
masih bermukim di Makkah.
Kala itu Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa Sallam berada di
Quba, Ubay bin Ka’ab diminta
untuk membaca surat tersebut
dan merahasiakan isinya. Beliau
bergegas menuju Madinah
mengadakan persiapan militer
menyongsong kedatangan ‘tamu
tak diharapkan itu’.
Bak angin berhembus, berita
pergerakan pasukan kafir
Quraisy menyebar keseluruh
penjuru Madinah, tak ayal
kondisi kota itu kontan tegang
mendadak, penduduk kota siaga
satu, setiap laki-laki tidak lepas
dari senjatanya walau dalam
kondisi shalat. Sampai-sampai
mereka bermalam di depan
pintu rumah dalam keadaan
merangkul senjata.
Majelis musyawarah militer
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
Sallam mengumpulkan para
sahabatnya sembari bersabda:
“Demi Allah sungguh aku telah
melihat pertanda baik, aku
melihat seekor sapi yang
disembelih, pedangku tumpul,
dan aku masukkan tanganku
didalam baju besi, aku ta’wilkan
sapi dengan gugurnya
sekelompok orang dari
sahabatku, tumpulnya pedangku
dengan gugurnya salah satu
anggota keluargaku sementara
baju besi dengan Madinah”.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
Sallam berpendapat agar tetap
bertahan di dalam kota Madinah
dan meladeni tantangan mereka
di mulut-mulut lorong kota
Madinah. Pendapat ini disetujui
oleh gembong munafik Abdullah
bin Ubay bin Salul, musuh Allah
ini memilih pendapat ini bukan
atas pertimbangan strategi militer
melainkan agar dirinya bisa
dengan mudah kabur dari
pertempuran tanpa mencolok
pandangan manusia. Adapun
mayoritas para sahabat, mereka
cenderung memilih menyambut
tantangan Quraiys di luar
Madinah dengan alasan banyak
diantara mereka tidak sempat
ambil bagian dalam perang
Badar, kali ini mereka tidak ingin
ketinggalan untuk ‘menanam
saham’ pada puncak amalan
tertinggi dalam Islam. Hamzah
bin Abdul Mutthalib sangat
mendukung pendapat ini seraya
berkata: “Demi Dzat Yang
menurunkan Al Qur’an
kepadamu, sungguh Aku tidak
akan makan sampai Aku
mencincang mereka dengan
pedangku di luar Madinah”
Dengan mempertimbangkan
berbagai usulan para sahabat
akhirnya Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa Sallam memutuskan
untuk menjawab tantangan
Quraisy di medan terbuka luar
kota Madinah. Dan
meninggalkan selera Abdullah
bin Ubay.

Hari itu Jum’at tanggal 6 Syawwal
3 H beliau memberi wasiat
kepada para sahabat agar
bersemangat penuh
kesungguhan dan bahwasannya
Allah akan memberi pertolongan
atas kesabaran mereka. Lalu
mereka shalat Ashar dan Beliau
beranjak masuk kedalam rumah
bersama Abu Bakar dan Umar
bin Al Khathab, saat itu beliau
mengenakan baju besi dan
mempersiapkan persenjataan.
Para sahabat menyesal dengan
sikap mereka yang terkesan
memaksa Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa Sallam untuk keluar
dari Madinah, tatkala Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam
keluar mereka berkata: “Wahai
Rasulullah, kami tidak
bermaksud menyelisihi
pendapatmu, putuskanlah
sekehendakmu! Jika engkau lebih
suka bertahan di Madinah maka
lakukanlah!” Beliau menjawab:
“Tidak pantas bagi seorang nabi
menanggalkan baju perang yang
telah dipakainya sebelum Allah
memberi keputusan antara dia
dengan musuhnya.”
Kondisi umum pasukan Islam
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
Sallam membagi pasukan Islam
menjadi tiga batalyon:
Batalyon
Muhajirin dibawah komando
Mush’ab bin Umair, Batalyon
Aus dikomando oleh Usaid bin
Hudhair dan Batalyon Khazraj
dipimpin oleh Khabbab bin Al
Mundzir . Jumlah total pasukan
Islam hanya 1000 orang, dengan
perlengkapan fasilitas serba
minim berupa 100 baju besi dan
50 ekor kuda (dikisahkan dalam
sebuah riwayat: tanpa adanya
kuda sama sekali) dalam perang
ini. Wallahu a’lam
Sesampainya pasukan Islam
disebuah tempat yang dikenal
dengan Asy Syaikhan, Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam
menyeleksi beberapa para
sahabat yang masih sangat dini
usia mereka diantaranya
Abdullah bin Umar bin Al
Khathab, Usamah bin Zaid, Zaid
bin Tsabit, Abu Said Al Khudry
dan beberapa sahabat muda
lainnya, tak urung kesedihan
pun tampak di wajah mereka
dengan terpaksa mereka harus
kembali ke Madinah.
Orang-orang munafikin
melakukan penggembosan
Berdalih karena pendapatnya
ditolak oleh Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam,
tokoh munafik Abdullah bin
Ubay bin Salul melakukan aksi
penggembosan dalam tubuh
pasukan Islam. Musuh Allah ini
berhasil memprovokasi hampir
sepertiga jumlah total pasukan,
tidak kurang dari 300 orang
kabur meninggalkan front jihad
fisabilillah. ‘Manusia bermuka
dua’ ini memang sengaja
melakukan aksi penggembosan
ditengah perjalanan agar tercipta
kerisauan di hati pasukan Islam
sekaligus menyedot sebanyak
mungkin kekuatan muslimin.
Strategi militer Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan
tugas pasukan
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
Sallam sang ahli strategi militer
mengatur barisan pasukan dan
membagi tugas serta misi
mereka. Beliau menempatkan 50
pemanah di bukit Ainan bertugas
sebagai sniper-sniper dibawah
komando Abdullah bin Jubair bin
Nu’man Al Anshary, Beliau
memberi intruksi militer seraya
bersabda:“Gempurlah mereka
dengan panah-panah kalian!
Jangan tinggalkan posisi kalian
dalam kondisi apapun! Lindungi
punggung-punggung kami
dengan panah-panah kalian!
Jangan bantu kami sekalipun
kami terbunuh! Dan jangan
bergabung bersama kami
sekalipun kami mendapat
rampasan perang!. Dalam
riwayat Bukhari: jangan
tinggalkan posisi kalian sekalipun
kalian melihat burung-burung
telah menyambar kami sampai
datang utusanku kepada kalian!
Sesampainya di Uhud kedua
pasukan saling mendekat,
panglima kafir Quraisy Abu
Sufyan berupaya memecah
persatuan pasukan Islam, dia
berkata kepada kaum Anshar:
“Biarkan urusan kami dengan
anak-anak paman kami
(Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
Sallam dan kaum Muhajirin)!
Maka kami tidak akan mengusik
kalian, kami tidak ada
kepentingan memerangi kalian!”
Akan tetapi, upaya Abu Sufyan
tidak menuai hasil karena
kokohnya keimanan kaum
Anshar. Justru sebaliknya,
mereka membalasnya dengan
ucapan yang amat pedas yang
membuat panas telinga orang
yang mendengarnya.
Awal mula pertempuran
Thalhah bin Abi Thalhah Al
Abdary pengampu panji perang
kafir Quraisy seorang yang
dikenal sangat mahir dan
pemberani maju menantang
mubarazah (duel), secepat kilat
Zubair Ibnul Awwam menerkam
dan membantingnya kemudian
menggorok lehernya, Thalhah
tak berdaya melepas nafas
terakhirnya. Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam
bertakbir dan bertakbirlah kaum
muslimin. Bangkitlah Abu
Syaibah Utsman bin Abi Thalhah
mengibarkan kembali panji
tersebut, dengan penuh
kesombongan menantang duel,
secepat kilat pula Hamzah bin
Abdul Mutthalib menghantam
pundaknya dengan sabetan
pedang yang sangat kuat hingga
menembus pusarnya tak ayal
tangan dan pundaknya terlepas,
Utsman tersungkur tak berdaya
meregang nyawa. Berikutnya
Abu Sa’ad bin Abi Thalhah
mengambil panji tersebut namun
seiring dengan itu anak panah
Sa’ad bin Abi Waqash
menembus kerongkongannya,
tak pelak dia jatuh terjerembab
ketanah menjulurkan lidah
menjadi seonggok mayat. Musafi’
bin Abi Thalhah memberanikan
diri mengangkat kembali panji
Quraisy namun ia tewas
mendadak tersambar runcingnya
anak panah Ashim bin Tsabit bin
Abul Aflah. Berikutnya Kilab bin
Thalhah bin Abi Thalhah saudara
kandung Musafi’ mengibarkan
kembali panji itu namun ia
segera roboh ketanah
mengakhiri hidupnya setelah
pedang Zubair bin Al Awwam
menyambar badannya. Al Jallas
bin Abi Thalhah segera
menopang kembali menopang
panji itu, namun sabetan pedang
Thalhah bin Ubaidillah segera
memecat nyawa dari tubuhnya.
Keenam pemberani tersebut
berasal dari satu keluarga
kabilah Bani Abdi Dar. Kemudian
Arthah bin Syurahbil maju
namun Ali bin Abi Thalib tak
membiarkannya hidup lama
menenteng panji dan langsung
melibasnya, realita spektakuler
aneh tapi nyata, tidaklah seorang
dari musyrikin mengambil panji
tersebut melainkan terenggut
nyawanya hingga genap sepuluh
orang menemui ajalnya disekitar
panji perang musyrikin. Setelah
itu tak ada seorang pun dari
mereka yang bernyali mengambil
panji yang tergeletak di bumi
Uhud.

Wallahu Ta’ala A’lamu bish
Shawab.


http://www.assalafy.org/mahad/?
p=510#more-510
www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1769

Read more..

Jin Melihat Kita Dan Kita Tidak Melihat Jin

Penulis:
Syaikh Saleh Al-Fauzan
hafizahullah

Apakah benar apa yang
disebutkan bahwa kaum jin
melihat kita dimana kita tidak
dapat melihat mereka di dunia,
dan kita dapat melihat mereka
dimana mereka tidak dapat
melihat kita di akhirat?

Beliau menjawab:

يروننا من حيث لا نراهم هذا في
القرآن " إنه يراكم هو " أي
الشيطان "يراكم هو وقبيله "
أي الجن "من حيث لا ترونهم "
أما في الآخرة والله أعلم ، ما
أعلم شئ يدل على هذا أننا في
الآخرة ينعكس الأمر فنراهم ولا
يروننا ما أدري عن هذا . نعم .

"Mereka dapat melihat kita
dimana kita tidak dapat melihat
mereka, ini disebutkan dalam
Alqur'an bahwa "dia dapat
melihat kalian" yaitu syaitan, dia
dan kaum jin dapat melihat
kalian dan kalian tidak dapat
melihat mereka.
Adapun diakhirat wallahul a'lam,
Saya tidak mengetahui satupun
yang menunjukkan bahwa kita
diakhirat kondisinya berbalik,
yaitu kita melihat mereka dan
mereka tidak melihat kita, saya
tidak mengetahui tentang ini.

http://sahab.net/forums/
showthread.php?t=378513

Syaikh Saleh Al-Fauzan
Hafizahullah Ta'ala ditanya:

Apakah benar bahwa Jin
menyebar disebuah negeri lebih
banyak jumlahnya dari negeri
lain. Sebagaimana yang kami
dengarkan tentang tersebarnya
mereka di sebagian negeri Arab
lebih banyak dari negeri yang
lain. Apakah ada sebab tertentu
dalam hal jumlah menyebarnya
mereka yang lebih banyak?

Syaikh menjawab:

نعم الجن لهم مواطن يكثرون
فيها بلا شك، لهم مواطن
يجتمعون فيها ويكثرون
فيها مثل ما الإنس لهم مواطن
يجتمعون فيها ويسكنون
فيها فهم مثل الإنس في هذا .
نعم

"Iya, tidak diragukan lagi bahwa
kaum Jin memiliki tempat-
tempat yang jumlah mereka
lebih banyak, mereka Punya
tempat berkumpul dan
berjumlah banyak sebagaimana
halnya manusia Punya tempat-
tempat berkumpul dan mereka
tinggal padanya, maka kaum jin
Sama seperti manusia dalam hal
ini.


http://sahab.net/forums/
showthread.php?t=378513

Sumber : http://
www.salafybpp.com
www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1766
Read more..