Banner 468 X 60

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani

Al Ustadz Abu Faizah Abdul
Qadir

Tahukah anda siapa itu Syaikh
Abdul Qadir Al-Jailani?
Ya, semua orang tahu siapa itu
Abdul Qadir Jailani. Mulai dari
anak-anak kecil sampai orang-
orang tua pun tahu tentang
Abdul Qadir Jailani, sampai para
tukang becak pun tahu akan
siapa tokoh ini. Sampai-sampai
jika ada orang yang bernama
Abdul Qadir, maka orang akan
mudah menghafal namanya
disebabkan namanya ada
kesamaan dengan nama Abdul
Qadir Jailani. Yang jelas, selama
orangnya muslim, pasti tahu
siapa itu Abdul Qadir Jailany. Ya
minimal namanya.
Jika nama Abdul Qadir disebut
atau didengarkan oleh sebagian
orang, niscaya akan terbayang
suatu hal berupa kesholehan,
dan segala karomah, serta
keajaiban yang dimiliki oleh
beliau menurut mereka.Orang-
orang tersebut akan
membayangkan Abdul Qadir
Jailani itu bisa terbang di atas
udara, berjalan di atas laut tanpa
menggunakan seseuatu apapun,
mengatur cuaca, mengembalikan
ruh ke jasad orang,
mengeluarkan uang di balik
jubahnya, menolong perahu
yang akan tenggelam,
menghidupkan orang mati dan
lain sebagainya.
Apakah semua itu betul, ataukah
semua itu hanyalah karangan
dan kedustaan dari para
qashshash (pendongeng) yang
bodoh?

Berikut sedikit keterangan
mengenai siapakah Abdul Qadir
Al-Jailani.

Nama lengkap beliau

Seorang ahli sejarah Islam, Ibnul
Imad menyebutkan tentang
nama dan masa hidup Syaikh
Abdul Qadir Al-Jailany: “Pada
tahun 561 H hiduplah Asy-Syaikh
Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin
Janaky Dausat bin Abi Abdillah
Abdullah bin Yahya bin
Muhammad bin Dawud bin
Musa bin Abdullah bin Musa Al-
Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin
Al-Hasan bin Al-Mutsanna bin
Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib
Al-Jailany”. (Lihat Syadzarat Adz-
Dzahab (4/198) oleh Ibnul Imad
Al-Hanbaly)

Tempat kelahiran beliau

Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany adalah salah seorang
ulama ahlusunnah yang berasal
dari negeri Jailan. Kepada negeri
inilah beliau dinasabkan sehingga
disebut “Al-Jailany”, artinya
seorang yang berasal dari negeri
Jailan. Jailan merupakan nama
bagi beberapa daerah yang
terletak di belakang Negeri
Thobaristan. Tidak ada satu kota
pun terdapat di negeri Jailan
kecuali ia hanya merupakan
bentuk perkampungan yang
terletak pada daerah tropis di
sekitar pegunungan. (Lihat
Mu’jam Al-Buldan (4/13-16)
Oleh Abu Abdillah Yaqut bin
Abdillah Al-Hamawy)

Komentar para ulama tentang
beliau

Para ulama memberikan pujian
kepada Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany. Ibnu Rajab rahimahullah
berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany termasuk orang yang
berpegang-teguh dengan
sunnah dalam masalah-masalah
yang berkaitan dengan sifat-sifat
Allah, Qodar, dan semisalnya,
bersungguh-sungguh dalam
membantah orang yang
menyelisihi perkara tersebut.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany
berkata dalam kitabnya Al-
Ghun-yah yang masyhur: [Allah
berada di bagian atas langit,
bersemayam di atas Arsy,
menguasai kerajaan, ilmu-Nya
meliputi segala sesuatu, kepada-
Nya lah naik kata-kata yang baik
dan amalan sholeh diangkatnya.
Dia mengatur segala urusan dari
langit ke bumi, lalu urusan itu
naik kepada-Nya dalam satu hari
yang sama dengan seribu tahun
menurut perhitungan
kalian.Tidak boleh Allah
disifatkan bahwa Dia ada di
segala tempat. Bahkan Dia di
atas langit, di atas Arsy
sebagaimana Allah berfirman,
"Ar-Rahman (Allah) tinggi di atas
Arsy".
Kitab Al-Ghun-yah di atas, judul
lengkapnya adalah: "Ghun-yah
Ath-Tholibin" sebagaimana yang
disebutkan oleh Al-Azhim Abadi
dalam Aunul Ma’bud (3/300),
dan Al-Mubarakfury dalam
Tuhfah Al-Ahwadzi (7/430)
Imam Muwaffaquddin Ibnu
Qudamah berkata, "Kami masuk
Baghdad tahun 561 H. Ternyata
Syaikh Abdul Qadir termasuk
orang yang mencapai puncak
kepemimpinan dalam ilmu ,
harta, fatwa dan amal disana.
Penuntut ilmu tidak perlu lagi
menuju kepada yang lainnya
karena banyaknya ilmu,
kesabaran terhadap penuntut
ilmu, dan kelapangan dada pada
diri beliau. Orangnya
berpandangan jauh. Beliau telah
mengumpulkan sifat-sifat yang
bagus, dan keadaan yang agung.
Saya tak melihat ada orang yang
seperti beliau setelahnya.” (Lihat
Dzail Thobaqot Hanabilah
(1/293) karya Ibnu Rajab.)

Kehebatan-kehebatan yang
dinisbatkan kepada beliau


Adapun khurafat yang biasa
dinisbahkan kepada beliau
sebagaimana yang telah kami
sebutkan contohnya di atas,
maka Al-Hafizh Ibnu Rajab
Rahimahullah berkata: "Akan
tetapi Al-Muqri’ Abul Hasan Asy-
Syanthufi Al-Mishri telah
mengumpulkan berita-berita,
dan keistimewaan Syaikh Abdul
Qadir Al-Jailany sebanyak tiga
jilid. Ia telah menulis di dalamnya
suatu musibah, dan cukuplah
seseorang itu dikatakan berdusta
jika ia menceritakan segala yang
ia dengar. …. Di dalamnya
terdapat keanehan, malapetaka,
pengakuan dusta, dan ucapan
batil, yang tak bisa lagi dihitung.
Semua itu tak bisa dinisbahkan
kepada Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany rahimahullah.

Kemudian
saya mendapatkan Al-Kamal
Ja’far Al-Adfawy telah
menyebutkan bahwa Asy-
Syanthufi sendiri tertuduh dusta
dalam berita yang ia riwayatkan
dalam kitab ini.” (Lihat Dzail
Thobaqot Hanabilah (1/293)
karya Ibnu Rajab.)

Ibnu Katsir Rahimahullah
berkata: "Mereka telah
menyebutkan dari beliau (Abdul
Qadir Al-Jailany) ucapan-ucapan,
perbuatan-perbuatan,
pengungkapan urusan gaib, yang
kebanyakannya adalah ghuluw
(sikap berlebih-lebihan). Beliau
orangnya sholeh dan wara’.
Beliau telah menulis kitab Al-
Ghun-yah, dan Futuh Al-Ghaib.
Dalam kedua kitab ini terdapat
beberapa perkara yang baik, dan
ia juga menyebutkan di
dalamnya hadits-hadits dha’if,
dan palsu. Secara global, ia
termasuk di antara pemimpin
para masyayikh (orang-orang
yang berilmu)". (Lihat Al-Bidayah
wa An-Nihayah (12/252) oleh
Ibnu Katsir)

Kesimpulannya:

Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani
adalah seorang ulama
ahlussunnah wal jamaah, salafi.
Mempunyai karya-karya ilmiah di
antaranya kitab Al-Ghun-yah
dalam masalah tauhid Al-Asma`
wa Ash-Shifat, yang di dalamnya
beliau menjelaskan tentang
akidah ahlussunnah. Sebagian
ulama belakangan menyebutkan
bahwa memang beliau
mempunyai beberapa karamah,
hanya saja sebagian orang-orang
jahil lagi ghulum kepada beliau
terlalu memperbesar-besar
kejadiannya dan banyak
menambah kisah-kisah palsu lagi
dusta lalu menyandarkannya
kepada beliau -rahimahullah-.
Wallahu a’lam bishshawab

Ringkasan dari muqaddimah
tulisan Al-Ustadz Abu Faizah
Abdul Qadir yang berjudul
Biografi Abdul Qadir Al-Jailani
Sebuah sosok yang dikultuskan
ahli tasawwuf

Sumber: http://al-
atsariyyah.com/?p=405
www.ghuroba.blogsome.com/2008/12/11/asy-syaikh-abdul-qadir-al-jailani/
Read more..

Sabtu, 04 September 2010

Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ustadz Abu Muhammad Harits

Ahli bid’ah dan ahlul batil
senantiasa memiliki kepentingan
dan ambisi di bawah payung
kebid’ahan mereka. Setiap kali
muncul ulama As-Sunnah yang
menghadang mereka maka
runtuhlah kepentingan dan
ambisi tersebut. Sehingga
merekapun berusaha
menjauhkan kaum muslimin dari
ulama Ahlus Sunnah wal
Jamaah.
Sunnatullah sendiri berlaku pada
setiap hamba-Nya, Dia
menggilirkan kemenangan itu
bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Kadang Ahlus Sunnah wal
Jamaah yang berkuasa, kadang
ahli bid’ah dan sesat yang
menjajah.
Salah satu tanda kekuasaan dan
taufik Allah Subhanahu wa
Ta’ala adalah memunculkan di
tiap seratus tahun, tokoh yang
mengembalikan kemurnian
ajaran Islam ini bagi para
pemeluknya. Sebagaimana
dinyatakan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ
الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ
مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ
لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah
membangkitkan bagi umat ini, di
tiap ujung seratus tahun, orang
yang mengembalikan kemurnian
ajaran Islam ini bagi
pemeluknya.” (HR. Abu Dawud
no. 3740)
Di antara para mujaddid
(pembaru) tersebut adalah
Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul
‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim
bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah
bin Al-Khadhir bin Muhammad
bin Al-Khadhir bin ‘Ali bin
‘Abdullah bin Taimiyah Al-
Harrani Ad-Dimasyqi Al-Hanbali.
Semoga Allah Subhanahu wa
Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya
yang luas dan menempatkan
beliau di dalam surga-Nya.
Nasab dan Kelahiran
Beliau adalah Syaikhul Islam
Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad
bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus
Salam bin ‘Abdullah bin Al-
Khadhir bin Muhammad bin Al-
Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah
bin Taimiyah Al-Harrani. Nasab
beliau berujung pada kabilah
‘Arab Qaisiyah dari Bani Numair
bin ‘Amir bin Sha’sha’ah dari
Qais ‘Ailan bin Mudhar. Adapula
yang mengatakan dari Bani
Sulaim bin Manshur dari Qais
‘Ailan bin Mudhar.1
Ulama besar, penghancur bid’ah,
mujaddid dan mujahid yang
agung ini -semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala merahmati
beliau- dilahirkan pada hari
Senin, tanggal 10 Rabi’ul Awwal
tahun 661 H di desa Harran,
sebuah desa yang terletak di
antara Syam (mencakup
Palestina, Suriah, Jordania, dan
Lebanon) dan Irak, sebelah
tenggara Turki sekarang. Beliau
lahir di saat mulai meletusnya
gelombang ekspansi bangsa
Mongol (Tartar) ke beberapa
wilayah sekitarnya termasuk
Timur Tengah. Bangsa ini, yang
disatukan kembali oleh Jenghis
Khan tidak hanya menjarah
daratan Cina, tapi juga
menyerang Timur Tengah
bahkan sampai ke seberang
lautan (sampai ke Indonesia).
Allah Subhanahu wa Ta’ala
betul-betul menguji umat ini
dengan memunculkan bangsa
ini. Mereka adalah para
penyembah berhala. Ibnul Atsir
rahimahullahu mengatakan:
“Mereka sujud kepada matahari
ketika dia terbit, tidak
mengharamkan apapun. Mereka
melahap semua binatang
termasuk anjing dan babi serta
yang lainnya. Tidak mengenal
nikah... dan seterusnya.” Tetapi
belakangan, banyak dari mereka
yang masuk Islam.
Di masa itu juga, perang salib
masih berlangsung. Sehingga
berbagai kejadian ini
menimbulkan pengaruh dan
menumbuhkan kecemburuan
luar biasa pada diri beliau.
Betapa menyedihkan melihat
bekas-bekas kehancuran akibat
serangan Tartar.
Syaikhul Islam lahir dan
dibesarkan dalam sebuah
keluarga mulia yang diberkahi.
Keluarga yang sarat dengan ilmu
dan keutamaan. Kakek beliau
Abul Barakat Majduddin adalah
seorang tokoh terkemuka di
kalangan mazhab Hanbali.
Ayahandanya, Syihabuddin
‘Abdul Halim termasuk tokoh
ulama pembawa petunjuk.
Seolah-olah Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah mempersiapkan
kemuliaan beliau di dunia dan
akhirat.
Pada usia enam tahun, di saat
agresi Bangsa Tartar mulai terasa
di wilayah Timur Tengah, bahkan
sudah mendekati wilayah
Harran, beliau dibawa oleh
keluarganya pindah ke wilayah
Syam bersama saudara-
saudaranya yang lain. Mereka
berangkat di malam hari sambil
membawa buku-buku yang
diletakkan di atas gerobak
karena tidak mempunyai
kendaraan lain.
Dalam kondisi demikian, mereka
hampir tersusul oleh musuh.
Gerobakpun berhenti. Mereka
ber-ibtihal (berdoa), meminta
pertolongan (istighatsah) kepada
Allah Yang Maha Perkasa hingga
merekapun selamat dan lolos
dari kejaran musuh. Pada
pertengahan tahun 667 H,
tibalah mereka di Damaskus.
Mengapa beliau dikenal dengan
Ibnu Taimiyah?
Suatu ketika, kakek beliau
berangkat menunaikan ibadah
haji dalam keadaan istrinya yang
ditinggal sedang mengandung.
Setibanya di Taima’, sang kakek
melihat seorang bocah
perempuan keluar dari sebuah
tenda. Begitu tiba di Harran,
sepulangnya dari ibadah haji,
beliau mendapati istrinya telah
melahirkan seorang anak
perempuan. Ketika melihat bayi
tersebut, beliau berkata: “Wahai
Taimiyah, wahai Taimiyah.”
Akhirnya keluarga ini dikenal
dengan nama tersebut.
Penulis lain mengatakan bahwa
kakek beliau Muhammad bin Al-
Khadhir, ibunya bernama
Taimiyah, seorang wanita yang
suka memberi nasihat, sehingga
mereka dinisbahkan kepadanya.
Akhlak dan Kepribadiannya
Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ibnu
Taimiyah rahimahullahu, tumbuh
dalam pengawasan sempurna,
sikap ‘iffah (menjaga
kehormatan), ketergantungan
dan pengabdian kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Sederhana dalam berpakaian
dan makanan.
Kulitnya putih, dengan rambut
dan janggut hitam serta sedikit
beruban. Rambut beliau sampai
menyentuh ujung telinga beliau.
Kedua matanya bersinar-sinar
seolah-olah dua buah lisan yang
sedang berbicara. Perawakannya
sedang, dadanya bidang.
Suaranya besar, fasih, sangat
cepat membaca dan tajam, tapi
beliau tekan dengan sifat santun
yang dimilikinya.
Keutamaannya sudah tampak
sejak kecilnya. Diceritakan oleh
Al-Bazzar dalam A’lamul
‘Aliyyah, setiap kali hendak
menuju tempat belajarnya, Ibnu
Taimiyah dihadang oleh seorang
Yahudi dengan sejumlah
pertanyaan karena melihat
kecerdasannya yang luar biasa.
Semua pertanyaan itu dijawab
dengan cepat oleh Ibnu
Taimiyah. Bahkan beliau
menjelaskan kepada Yahudi itu
kebatilan yang diyakininya
selama ini. Tidak lama setelah
mendengarkan keterangan dari
beliau setiap kali mereka
bertemu, Yahudi itupun masuk
Islam dan baik Islamnya.
Seiring dengan kemasyhuran
beliau dalam ilmu dan fiqih,
amar ma’ruf nahi munkar, Allah
Subhanahu wa Ta’ala
anugerahkan pula kepada beliau
berbagai perilaku yang terpuji,
hingga beliau dikenal bahkan
dipersaksikan oleh manusia
tentang keadaan ini.
Di rumah, beliau sangat santun.
Ash-Shafadi mengisahkan dalam
Al-Wafi bil Wafayat (2/375):
“Diceritakan kepadaku, bahwa
ibunda Syaikhul Islam pernah
memasak makanan sejenis labu
tetapi rasanya pahit. Mulanya
dicicipi oleh ibunda beliau. Ketika
merasakan pahitnya, dia
meninggalkan makanan itu
sebagaimana adanya. Suatu
ketika, Syaikhul Islam
menanyakan adakah sesuatu
yang dapat dimakan? Ibunya
menceritakan bahwa tadi dia
memasak makanan tetapi
rasanya pahit. Syaikhul Islam
menanyakan letak makanan itu.
Sang ibu menunjukkan
tempatnya dan beliaupun duduk
menyantap makanan itu sampai
kenyang, tanpa mencelanya
sedikitpun.”
Demikianlah tuntunan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia
berkata:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا
قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ
وَإِلاَّ تَرَكَهُ

“Tidaklah pernah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mencela satu makanan sama
sekali. Kalau beliau suka, beliau
menyantapnya dan bila tidak,
beliaupun meninggalkannya.”
Keadaan-keadaan di mana
Syaikhul Islam hidup di
dalamnya, membuktikan bahwa
beliau senantiasa dalam keadaan
berhias dengan keyakinan dan
musyahadah yang
menumbuhkan rasa sangat
butuh, terjepit, penghambaan,
dan inabah (senantiasa kembali).
Diceritakan oleh Ibnu ‘Abdil
Hadi, bahwasanya pernah Ibnu
Taimiyah mengalami kesulitan
dalam sebuah masalah, atau sulit
memahami satu ayat. Beliau lalu
datang ke sebuah tempat yang
sepi di masjid, lalu mencecahkan
keningnya di atas tanah (sujud)
seraya berdoa kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala berulang-
ulang: “Wahai (Allah) Yang
Mengajari Ibrahim, pahamkanlah
diriku.”
Syaikhul Islam juga pernah
menceritakan: “Sungguh, pernah
ada sebuah masalah atau
keadaan yang mengganggu
pikiran saya. Lalu saya istighfar
(memohon ampun) kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala lebih
kurang seribu kali, hingga dada
saya terasa lapang dan lenyaplah
problem yang saya hadapi.”
Hal ini beliau lakukan di pasar,
masjid, ataupun madrasah.
Beliau memiliki keistimewaan
sendiri dalam beribadah kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika malam sudah mulai larut,
beliau menyendiri, berduaan
dengan Rabbnya k dengan
penuh ketundukan. Tubuhnya
bergetar ke kiri dan ke kanan
jika mulai tenggelam dalam
shalatnya. Apabila selesai shalat
fajar, beliau duduk sampai
matahari naik tinggi, dan
mengatakan: “Inilah sarapan
pagiku. Kalau aku tidak
menyantapnya, hilanglah
kekuatanku.”
Kezuhudan dan kerendahan
hatinya luar biasa. Beliau selalu
mengulang-ulang ucapannya:
“Saya tidak punya apa-apa.
Tidak ada sesuatu yang berasal
dari saya. Dan tidak ada apa-apa
pada diri saya.”
Jika ada yang memuji beliau di
hadapannya, beliau hanya
mengatakan: “Demi Allah, saya
sampai saat ini masih terus
memperbarui keislaman saya,
setiap waktu. Dan saya merasa
belum pernah masuk Islam
sebelum ini dengan keislaman
yang baik.”
Beliau selalu mengatakan:
Aku hanyalah pengemis, putra
pengemis,
demikianlah ayah dan kakekku
Ibnul Qayyim rahimahullahu
menukil sebuah ucapan beliau
tentang ketakwaan: “Orang yang
arif (bijak), tidak akan
memandang dia punya hak yang
harus dipenuhi orang lain. Tidak
pula mempersaksikan
keutamaan dirinya atas orang
lain. Karena itulah dia tidak
pernah mencela, menuntut, dan
tidak pula memukul.”
Pernah suatu kali beliau diisukan
akan merebut kekuasaan Raja
Nashir. Ketika dipanggil di
hadapan orang banyak, beliau
ditanya oleh Raja Nashir: “Aku
dengar orang banyak
menaatimu, dan engkau sedang
memikirkan rencana untuk
menguasai kerajaan ini?”
Mendengar hal ini, dengan suara
lantang dan didengar seluruh
yang hadir ketika itu Syaikhul
Islam berkata: “Saya melakukan
hal itu? Demi Allah. Sungguh,
kerajaan anda dan kerajaan
Moghul (Tartar) tak ada nilainya
sepeserpun bagi saya.”2
Ibnu Katsir rahimahullahu, salah
seorang murid yang mencintai
beliau, menceritakan:
Baginda Sultan An-Nashir Al-
Qalawun (wafat 741 H), ketika
kembali ke kerajaannya untuk
kedua kalinya, keinginan kuatnya
yang pertama adalah bertemu
dan melihat Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullahu.
Setelah keduanya bertemu,
mereka berpelukan, kemudian
berbincang-bincang. Di antara
pembicaraan mereka, Sultan An-
Nashir meminta Syaikhul Islam
mengeluarkan fatwa agar dia
menangkap dan menghukum
mati beberapa orang qadhi
(hakim) yang pernah menjelek-
jelekkan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah. Bahkan Sultan An-
Nashir mendesak beliau
mengeluarkan fatwa itu.
Hal itu karena Sultan sangat
marah kepada mereka yang
menggulingkannya serta
membai’at Al-Jasyinkir. Setelah
berhasil membunuh Al-Jasyinkir
dan menumpas beberapa tokoh
yang terlibat, termasuk Nashr Al-
Munbaji, Sultan bertekad
menangkap pula beberapa qadhi
dan ahli fiqih yang loyal kepada
Al-Jasyinkir, yang beberapa kali
mengeluarkan fatwa untuk
membunuh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah.
Bagi Sultan, ini merupakan
kesempatan melampiaskan
kejengkelannya kepada mereka.
Tetapi, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah sangat tanggap. Beliau
justru memberikan
penghormatan besar kepada
para qadhi dan ulama tersebut.
Beliau jelaskan kepada sultan
tentang kedudukan dan
keutamaan mereka. Bahkan
beliau mengingkari munculnya
ucapan-ucapan buruk terhadap
mereka. Kata beliau kepada
Sultan: “Jika Baginda membunuh
mereka ini, niscaya Baginda tidak
akan menemukan lagi sesudah
mereka, tokoh-tokoh seperti
mereka. Adapun mereka yang
menyakiti saya, maka dia halal
(tidak saya tuntut apapun, ed.),
dan saya tidak akan berusaha
mencari pembelaan untuk diri
saya.”
Demikianlah sikap seorang
muwahhid, dalam prinsip al-
wala’ wal bara’ (cinta dan benci).
Semua sikap al-wala’ dan al-
bara’ ini hanya berhak ditujukan
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tidak
sepantasnya seseorang mengikat
prinsip ini untuk kepentingan
dirinya, tokoh atau kelompoknya
semata.
Diceritakan pula oleh Ibnu ‘Abdil
Hadi, ketika Syaikhul Islam di
Mesir dan disakiti oleh musuh-
musuhnya, datanglah sepasukan
orang-orang Al-Husainiyah.
Mereka meminta izin beliau
untuk menangkap dan
membunuh orang-orang yang
menyakiti beliau. Kalau perlu
dan diizinkan, mereka siap
meratakan negeri Mesir dengan
tanah.
Tapi Syaikhul Islam menjelaskan
bahwa hal itu tidak halal.
Mereka membantah: “Apakah
yang dilakukan mereka terhadap
engkau itu halal?”
Syaikhul Islam menegaskan
bahwa dia tidak akan berupaya
mencari pembelaan untuk
pribadinya.
Perhatikan pula perkataan Ibnu
Makhluf, seorang qadhi
Malikiyah, salah seorang seteru
beliau, yang pernah
memerintahkan agar Syaikhul
Islam dipenjara: “Semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala merahmati
Ibnu Taimiyah. Di saat dia
berkuasa terhadap kami, dia
justru melimpahkan kebaikan.
Sedangkan kami, ketika kami
berkuasa terhadapnya, kami
justru berbuat jelek serta
melakukan makar terhadapnya.”
Kehidupan Ilmiah
Hari-hari beliau sarat dengan
ilmu. Belajar dan mengajar dari
satu majelis ke majelis lainnya
sampai di dalam penjara. Fatwa-
fatwa dan risalah beliau selalu
diharapkan meskipun beliau
mendekam dalam penjara.
Sejak kecil sudah nampak
kesungguhannya dalam belajar.
Terlebih lagi Allah Subhanahu
wa Ta’ala menganugerahkan
kepadanya kekuatan hafalan
dan sifat sulit lupa. Sehingga apa
yang dibacanya sekali sudah
terpatri dalam ingatannya, baik
lafadz maupun maknanya.
Al-Imam Abu Thahir As-Sarmari
menyebutkan dalam majelis
ke-67 dari majelis imlaknya
tentang dzikir dan al-hifzh: “Di
antara keajaiban-keajaiban
kekuatan hafalan (hifzh) di
zaman kita ini adalah Syaikhul
Islam Abul ‘Abbas Ahmad bin
‘Abdul Halim Ibnu Taimiyah.
Karena beliau pernah melihat
sebuah kitab lalu membacanya
satu kali, saat itu juga isi kitab itu
telah tercetak di dalam
benaknya. Kemudian dia
mengulang-ulang dan
menukilnya dalam tulisan-
tulisannya secara tekstual atau
makna.
Bahkan lebih menakjubkan lagi
yang pernah saya dengar
tentang beliau adalah kisah yang
diceritakan sebagian sahabatnya
ketika beliau masih anak-anak.
Ayahnya ingin membawa anak-
anaknya rekreasi ke sebuah
taman, lalu beliaupun berkata
kepada Syaikhul Islam: ‘Hai
Ahmad, engkau berangkat
bersama saudara-saudaramu
untuk bersantai.’ Tapi Ibnu
Taimiyah memberi alasan kepada
ayahandanya, sedangkan ayah
beliau terus mendesak. Syaikhul
Islam tetap menolak: ‘Saya ingin
ayah memaafkan saya untuk
tidak keluar.’
Akhirnya sang ayah
meninggalkannya dan berangkat
bersama saudara-saudara beliau
yang lain. Mereka menghabiskan
hari itu di taman tersebut, dan
kembali menjelang sore.
Setelah tiba di rumah, sang ayah
berkata: ‘Hai Ahmad, engkau
telah membuat saudaramu
kesepian dan menodai
kegembiraan mereka dengan
ketidakhadiranmu bersama
mereka. Mengapa?’
Beliau menjawab: ‘Wahai
ayahanda, sesungguhnya hari ini
tadi, ananda sudah menghafal
kitab ini.’ Beliau menunjukkan
sebuah kitab di tangan beliau.
Sang ayah terkejut, kagum dan
tidak percaya: ‘Engkau sudah
menghafalnya?’ Lalu beliau
berkata kepada Syaikhul Islam:
‘Bacakan kitab itu kepadaku.’
Syaikhul Islam membacakannya,
dan ternyata beliau memang
telah menghafal isi kitab itu
seluruhnya. Sang ayah segera
mendekap dan mencium
keningnya seraya berkata:
‘Wahai anakku, jangan engkau
ceritakan kepada siapapun apa
yang telah kau lakukan.’
Demikian katanya karena
khawatir ‘ain (mata hasad)
menimpa putranya tersebut.”
Ibnu ‘Abdil Hadi menyebutkan
pula, ada seorang syaikh dari
Halab datang ke Damaskus dan
mendengar berita tentang
seorang anak yang sangat cepat
hafalannya bernama Ahmad bin
Taimiyah. Dia ingin melihat anak
tersebut. Setelah ditunjukkan
jalan yang biasa dilalui Ibnu
Taimiyah ke tempat belajarnya,
syaikh itupun duduk menanti.
Tak lama kemudian, datanglah
Ibnu Taimiyah membawa batu
tulis besar. Syaikh itu
memanggilnya dan melihat batu
tulis itu lalu meminta agar Ibnu
Taimiyah menghapus tulisan
yang ada kemudian menuliskan
apa yang didiktekannya.
Ada belasan hadits yang
didiktekan, kemudian syaikh itu
memerintahkan beliau
membacanya lalu menyetorkan
apa yang dibacanya tadi.
Syaikhul Islam segera
menyetorkannya kepada syaikh
itu apa yang dibacanya dari batu
tulis itu.
Kemudian syaikh itu
mendiktekan beberapa sanad
lalu memerintahkan beliau
membacanya. Setelah itu syaikh
itu memerintahkannya agar
menyetorkan apa yang
dibacanya di atas batu tulis itu.
Setelah itu, syaikh tadi bangkit
berdiri dan mengatakan bahwa
kalau anak ini panjang umur,
urusannya sangat besar di masa
mendatang. Karena belum
pernah ada yang seperti dia
kekuatan hafalannya.
Guru dan Murid Beliau
Dalam usia masih belia, beliau
sudah belajar dari beberapa
orang guru ternama. Di antara
mereka adalah ‘Abdud Da’im,
Al-Qasim Al-Irbili, Al-Muslim bin
‘Allan, Zainuddin Ibnul Munja,
Al-Majd Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu
Abi ‘Umar serta para syaikh
lainnya yang hampir 200 orang
jumlahnya. Murid-murid
beliaupun bertebaran, bahkan
sebagian mereka telah sampai
pada tingkatan mujtahid.
Di antara murid beliau yang
paling terkenal dan paling
banyak mewarisi ilmu beliau
adalah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
rahimahullahu.
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani
rahimahullahu mengatakan:
“Seandainya Syaikh Taqiyuddin
tidak mempunyai keutamaan lain
selain hanya meluluskan seorang
murid yang terkenal seperti Asy-
Syaikh Syamsuddin Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah –pengarang
beberapa karya besar yang
diambil manfaatnya oleh
pendukung dan musuh beliau–,
itu saja sudah cukup kuat
sebagai bukti nyata betapa
agung kedudukan beliau (Ibnu
Taimiyah).”
Murid beliau lainnya adalah Ibnu
Katsir rahimahullahu, penyusun
tafsir yang menjadi salah satu
rujukan kaum muslimin. Setelah
wafatnya, Ibnu Katsir
dimakamkan di samping kuburan
guru yang dicintainya, Ibnu
Taimiyah di pemakaman
Shufiyah.
Murid beliau yang juga terkenal
adalah Adz-Dzahabi, penyusun
Tarikh Islam, dan kitab-kitab rijal
di antaranya Siyar A’lamin
Nubala’, Mizanul I’tidal, dan lain-
lain. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani
rahimahullahu penulis Fathul
Bari Syarh Shahih Al-Bukhari
pernah berdoa kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala sambil
minum zamzam di dekat
Baitullah (Ka’bah) agar diberi
anugerah kemampuan membaca
yang luas (istiqra’ tam) seperti
yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
beri kepada Al-Imam Adz-
Dzahabi.
Ilmu itu seolah-olah menyatu
dengan darah dan daging beliau.
Al-Imam Al-Bazzar
rahimahullahu menceritakan dari
Asy-Syaikh Tajuddin Muhammad
yang dikenal dengan Ibnu Ad-
Dauri rahimahullahu, dia pernah
menghadiri majelis Ibnu Taimiyah
yang ketika itu ditanya oleh
seorang Yahudi tentang masalah
al-qadar (taqdir) dalam bentuk
beberapa bait syair.
Setelah mendengar syair-syair
itu, Syaikhul Islam berpikir
sejenak, lalu mulai menulis
jawabannya. Kami mengira
beliau menulis jawaban dalam
bentuk uraian biasa. Ternyata
jawaban beliau juga dalam
bentuk syair, lebih kurang 100
bait, yang seandainya disyarah
(ditafsirkan, diuraikan) tentu
akan menjadi dua jilid kitab yang
besar.
Majelis beliau termasuk majelis
yang diberkahi. Al-Bazzar
menyebutkan, setiap kali beliau
menyebut nama Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau tidak lupa mengucapkan
shalawat dan salam untuk
beliau. Ibnu Taimiyah sangat
mengagungkan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hampir tidak ada yang lebih
mengagungkan dan lebih
semangat mengikuti Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam daripada Ibnu Taimiyah.
Selesai mengajar, beliau
membuka matanya dan
menghadapi hadirin dengan
wajah yang berseri-seri.
Senin, tanggal 2 Muharram
tahun 683 H, Asy-Syaikh Al-
Imam Al-‘Allamah Taqiyyuddin
Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul
Halim bin ‘Abdus Salam Ibnu
Taimiyah Al-Harrani mulai
memberi pelajaran di Darul
Hadits As-Sukkariyah di
Qashsha’in. Majelis tersebut
dihadiri pula oleh Baha’uddin
Yusuf bin Az-Zaki Asy-Syafi’i,
Tajuddin Al-Fazari Syaikh Asy-
Syafi’iyah, Asy-Syaikh Zainuddin
bin Al-Marhal, dan Asy-Syaikh
Zainuddin Al-Munja Al-Hanbali.
Sedangkan materi yang dipelajari
adalah masalah yang cukup
ramai dibahas, yaitu tentang
basmalah.
Asy-Syaikh Taqiyyuddin Al-Fazari
menyebutkan uraian itu melalui
tulisannya karena faedahnya
yang begitu melimpah. Demikian
pula halnya dengan persoalan-
persoalan lain yang dianggap
baik oleh para peserta yang
hadir. Padahal, usia beliau ketika
itu baru 22 tahun.
Pada tahun 755 H, beliau
memberi pelajaran di madrasah
Al-Hanbaliyah, menggantikan
Asy-Syaikh Zainuddin Ibnul
Munja, salah seorang ulama
mazhab Hanbali yang telah
wafat.
Belajar dan mengajar ini tidak
pernah beliau hentikan
meskipun dalam penjara.
Pengarang Al-Kawakibud
Durriyah menceritakan, bahwa
ketika Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah ditangkap lalu
dipenjara, beliau menampakkan
kegembiraan dan memang itulah
yang dia nantikan.
Di dalam penjara, situasi penjara
berubah menjadi majelis ilmu,
ibadah dan berbagai kebaikan.
Hingga akhirnya, para
narapidana yang selesai
menjalani masa hukumannya
dan keluar, lebih memilih tinggal
bersama beliau untuk
mendapatkan faedah.
Wallahu ta’ala a’lam bish-
shawab.
1 Lihat Jamharah Ansabil ‘Arab
karya Ibnu Hazm rahimahullahu
hal 275. Lihat At-Tibyan Syarh
Badi’atil Bayan karya Ibnu Nashir
(Program Syamilah).


www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=741
Read more..

Senin, 23 Agustus 2010

Mutiara Berkilau Dari Bukhara

Bukhara merupakan sebuah
daerah di belahan Asia Tengah.
Daerah ini memang pernah
menjadi jajahan negara Rusia
dan dimasukkan dalam sebuah
persekutuan dengan negara -
negara di sekitarnya yang lebih
dikenal dengan sebutan Uni
Sovyet dengan faham
komunisnya. Namun seiring
dengan perkembangan zaman
dimana faham komunis tidak
bisa lagi diterima oleh
masyarakat maka tumbanglah
kekuatan raksasa Uni Sovyet dan
menjadilah negara - negara
persekutuan tersebut menjadi
negara - negara yang merdeka,
yang memiliki kedaulatan penuh
dan terlepas dari kontrol pusat
Rezim Kremlin, Rusia.
Dan siapa yang menyangka,
bahwa dahulu pernah terlahir
disana seorang manusia yang
bakal menghebohkan dunia
dengan kecerdasan dan
kekuatan hafalannya yang luar
biasa.

Nama Lengkap dan Tanggal
Lahir :
Dia adalah Abu Abdillah
Muhammad bin Ismail bin
Ibrahim bin Al Mughirah bin
Bardizbah Al Ju’fi , yang lebih
dikenal dengan Imam Al
Bukhori penulis kitab Shahih Al
Bukhari.
Beliau dilahirkan pada hari
Jum’at tanggal 13 Syawal th 194
Hijriah setelah shalat Jum’at di
daerah Bukhoro. Oleh sebab
itulah beliau dinisbahkan dengan
Al Bukhari karena asal tanah
kelahiran beliau adalah dari
daerah Bukhoro.
Kakek beliau yang bernama
Bardizbah adalah berasal dari
suku Persia yang menganut
agama Majusi ( Penyembah Api ).
Kemudian anak Bardizbah yang
bernama Al Mughiroh masuk
Islam, yang mengislamkannya
adalah seorang yang bernama Al
Yaman Al Ju’fi. Oleh karena
itulah beliau juga dinisbahkan
dengan Al Ju’fi.
Bapak beliau yaitu Ismail
meninggal, dalam keadaan
beliau masih kecil. Dan beliau
juga mengalami kebutaan
semasa kecilnya. Namun ibunya
terus menerus berdoa kepada
Allah Ta’ala mengharapkan
kesembuhan terhadap musibah
kebutaan yang menimpa putra
tercintanya.
Dan Allah Ta’ala pun
mengabulkan permintaan dari
sang hamba yang shalehah
dengan memberikan
kesembuhan kepada sang putra
tercinta. Maka sejak saat itu sang
putra tercinta dapat menikmati
indahnya karunia Allah
Subhanahu wa Ta’ala
sebagaimana manusia yang lain.

Perjalanan Menuntut Ilmu :
Beliau mulai menghafal hadits
pada usia sekitar 10 tahun dan
ketika itu beliau belajar di
sebuah Madrasah.
Ketika usia beliau menginjak 16
tahun, beliau telah menghafal
kitab - kitab karya 2 orang tokoh
Tabi’ut Tabi’in yaitu Abdullah
ibnul Mubarak dan Waki’ ibnul
Jarrah. Pada usia tersebut pula
tepatnya pada tahun 120 H,
beliau bersama ibu dan saudara
laki - lakinya yang bernama
Ahmad pergi menunaikan Haji ke
Baitullah Al Haram di Mekkah.
Dan setelah selesai menunaikan
haji, beliau tetap tinggal di
Mekkah dalam rangka menuntut
ilmu. Sementara saudara laki -
lakinya yang bernama Ahmad,
kembali ke tempat asalnya di
Bukhara. Ketika usia beliau
mencapai 18 tahun, beliau
menulis kitab ” Qodhoya
Shohabah wa Tabi’in ” dan kitab
” At Tarikh “.
Beliau telah menuntut ilmu
kepada 1080 masyaikh ( guru )
Ahlus Sunnah. Beliau telah
melakukan rihlah ( perjalanan
menuntut ilmu ) ke berbagai
negeri seperti Balkh, Maru,
Naisabur, Ray ( sekarang
Teheran - Iran ), Baghdad,
Basrah, Kufah, Makkah, Mesir,
Syam, Hijaz dll.

Guru - guru ( Masyaikh )
beliau :
Telah disebutkan diatas bahwa
beliau memiliki 1080 masyaikh
( guru ). Diantaranya adalah :

1. Di Negeri Balkh belajar
kepada :
- Maky bin Ibrahim

2. Di Negeri Maru belajar
kepada :

A. Abdan bin Musa
B. Ali bin Hasan bin Syaqiq
C. Shadaqoh bin Al Fadhal

3. Di Negeri Naisabur belajar
kepada :
- Yahya bin Yahya

4. Di Negeri Ray ( Teheran -
Iran ) belajar kepada :
- Ibrahim bin Musa

5. Di Negeri Baghdad belajar
kepada :

A. Muhammad bin Isa Ath
Thaba’
B. Suraij bin An Nu’man
C. Muhammad bin Sabiq
D. ‘Affan

6. Di Negeri Basrah belajar
kepada :

A. Abu Ashim An Nabil
B. Al Anshory
C. Abdurrahman bin Hammad
D. Muhammad bin ‘Ar’ur
E. Hajjaj bin Minhal
F. Badl bin Al Mihbar
G. Abdullah bin Raja’

7. Di Negeri Kufah belajar
kepada :

A. Ubaidullah bin Musa
B. Abu Nu’aim
C. Khalid bin Al Makhlad
D. Thalq bin Ghanam
E. Kholid bin Yazid Al Muqri

8. Di Negeri Mekkah belajar
kepada :

A. Abu Abdurrahman Al Muqri
B. Khalad bin Yahya
C. Hisan bin Hisan Al Bashri
D. Abul Walid Ahmad bin
Muhammad Al Azraqi
E. Al Humaidy

9. Di Negeri Madinah belajar
kepada :

A. Abdul ‘Aziz Al ‘Uwaisy
B. Ayyub bin Sulaiman bin Bilal
C. Ismail bin Abi Uwais

10. Di Negeri Mesir belajar
kepada :

A. Sa’id bin Abi Maryam
B. Ahmad bin Iskab
C. Abdullah bin Yusuf
D. Asbagh bin Al Faraj

11. Di Negeri Syam belajar
kepada :

A. Abul Yaman Al Hakam bin
Nafi’
B. Adam bin Abi Iyas
C. Ali bin ‘Ayyas
D. Bisyr bin Syu’aib
Dan juga para tokoh - tokoh
ulama besar yang lain semisal
Ishaq bin Rahuyah, Ahmad bin
Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin
Al Madini, Nu’aim bin Hammad,
Muhammad bin Yahya Adz
Dzuhli dll.

Murid - Murid Beliau :
1. Imam Muslim bin Al Hajjaj
2. Imam At Tirmidzi
3. Imam Ibnu Khuzaimah
4. Abu Hatim dll.

Akhlak dan Ibadah beliau :

Beliau pernah mengatakan :Aku
berharap untuk bisa bertemu
Allah. Dan aku berharap ketika
nanti berada di Hari Perhitungan
amalan, aku dalam keadaan
tidak berbuat Ghibah ( suatu
perbuatan yang menyebutkan
saudaranya sesama muslim
dengan apa - apa yang tidak
disukainya jikalau ia
mendengarnya ) kepada seorang
pun.
Hal ini menunjukkan akan
takutnya beliau terhadap
perbuatan Ghibah.
Al kisah suatu hari beliau sedang
melaksanakan shalat. Tiba - tiba
datang seekor kumbang besar
datang menyengat beliau yang
sedang shalat sebanyak 17 kali
sengatan. Maka tatkala selesai
dari menunaikan shalatnya, dia
bertanya kepada orang - orang
yang ada di sekitarnya : ” tolong
lihatlah ! apa yang telah
membuatku sakit ini “. Maka
merekapun mendapati seekor
kumbang besar telah menyengat
beliau sebanyak 17 sengatan
dalam keadaan beliau tidak
membatalkan shalatnya.
Beliau berkata : Tidaklah aku
letakkan sebuah hadits di kitab
shahihku ini kecuali aku mandi
terlebih dahulu dan shalat 2
rakaat.

Wafat Beliau :
Beliau mengalami fitnah yang
sangat dahsyat yang
dihembuskan oleh orang - orang
yang merasa iri terhadap
keutamaan dari Allah yang
diberikan kepada beliau. Dan
tidaklah beliau menginjakkan
kaki ke suatu negeri kecuali
penduduk negeri tersebut
mengusirnya sebagai akibat dari
hembusan angin fitnah yang
disebarkan oleh orang - orang
yang iri. Karena beliau
mengalami pengusiran beberapa
kali, maka beliau memilih untuk
kembali ke daerah Khartanka
yaitu sebuah wilayah bagian dari
negeri Samarkand (sekarang
menjadi ibukota negara
Uzbekistan di Asia Tengah ).
Beliau pergi ke daerah tersebut
karena banyak dari karib
kerabatnya yang tinggal di
daerah tersebut. Beliau
merasakan bahwa hidup ini
terasa berat sekali, dan bumi
yang luas terasa sempit bagi
beliau. Hingga pada suatu
malam tatkala beliau selesai
menunaikan shalat malam
( Tahajud ), beliau berdoa
kepada Allah agar diberikan
jalan yang terbaik baginya.
Kemudian beberapa hari setelah
itu beliau mengalami sakit yang
cukup keras. Dan Allah
Subhanahu wa Ta’ala
mengetahui betapa berat
penderitaan yang dialami oleh
salah seorang hamba-Nya yang
sholeh ini, maka sebagai bentuk
Maha Belas Kasih Allah
Subhanahu wa Ta’ala kepada
hamba-Nya tersebut, beliau
dipanggil oleh Allah yang Maha
Pengasih lagi Maha penyayang
pada hari Sabtu malam ‘Idul
Fitri, pada tahun 256 Hijriah.
Semoga Allah Subhanahu wa
Ta’ala merahmati beliau.


Sumber;www.assalafy.org/mahad/?p=331
Read more..

Minggu, 22 Agustus 2010

Biografi Ringkas Faqih Az Zaman(Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al Utsaimin)

Nasab dan kelahirannya
Beliau adalah, yang mulia,
syaikh, ulama, peneliti, ahli fiqhi
dan mufassir yang wara’ lagi
zuhud. Muhammad bin Shalih
bin Muhammad bin Sulaiman bin
Abdurrahman (dari) keluarga
Utsaimin. berasal dari Wahbah
dari keluarga Bani Tamim.
Dilahirkan pada malam kedua
puluh tujuh dari bulan
Ramadhan yang penuh berkah,
tahun 1327 H. di Unaizah. Salah
satu kota (propinsi) Al-Qashim,
di Kerajaan Saudi Arabia.

Perkembangan Keilmuannya

Ayahnya, -rahimahullahu Ta’ala-,
mengikutkannya untuk belajar
Al-Qur’anul Karim pada
neneknya. Seorang guru dari
jihat ibunya; Abdurrahman bin
Sulaiman Ad-Daamigh, semoga
Allah merahmatinya. Kemudian,
beliau belajar menulis,
matematika dan teks-teks
kesusatraan pada sekolah Ustadz
Abdul Aziz bin Shaleh Ad-
Damigh hafidzahullah. Hal itu,
sebelum beliau ikut serta di
sekolah Ali bin Abdullah As-
Syahtan, semoga Allah
merahmatinya. Dimana beliau
menghapal Al-Qur’an di luar
kepala, sementara umurnya
belumlah melewati sebelas
tahun.
Atas anjuran orang tuanya,
semoga Allah merahmatinya,
beliau bersedia untuk menuntut
ilmu syar’i. Dan kala itu, yang
mulia Syaikh Al-Allamah
Abdurrahman bin Nashir As-
Sa`di, semoga Allah
merahmatinya meminta murid-
murid besarnya, diantaranya
syaikh Muhammad Abdul Aziz
Al-Muthawwi’ semoga Allah
merahmatinya, untuk mengajar
murid-murid pemula. Maka
bergabunglah beliau dalam
majlisnya. Hingga beliau
memperoleh ilmu Tauhid, Fiqhi
dan Nahmu.
Kemudian, beliau belajar di
majlis gurunya Al-Allamah
Abdurrahman bin Nashir As-
Sa’di semoga Allah
merahmatinya. Beliau belajar
padanya di bidang Tafsir, Hadits,
Shirah Nabawi, Tauhid, Fiqhi,
Usul, Faraid dan Nahwu serta
menghapal ringkasan-ringkasan
matan dalam ilmu-ilmu ini.
Syaikh Al-Allamah Abdurrahman
bin Nashir As-Sa’di dikategorikan
sebagai guru utamanya; karena
beliau mengambil ilmu,
pengetahuan dan metode
darinya, lebih banyak dari
selainnya. beliau terkesan
dengan metode, pengrujukan
dan pengikutan terhadap dalil
serta cara pengajarannya.
Tatkala syaikh Abdurrahman bin
Ali bin Audan, semoga Allah
merahmatinya (menjadi) hakim di
Unaizah, beliau belajar padanya
ilmu faraid. Begitupula, beliau
juga belajar pada syaikh
Abdurrazzak Afify, semoga Allah
meridhoinya, ketika dia menjadi
guru di kota itu; dalam ilmu
nahmu dan balaghah.
Ketika pondok pendidikan
dibuka di kota Riyad, sebahagian
teman-temannya menganjurkan
padanya agar ikut serta. Lalu
beliau meminta izin pada
gurunya Syaikh Abdurrahman
As-Sa’di, semoga Allah
merahmatinya. Lalu beliau
mengizinkannya. Dan
bergabunglah beliau di pondok
pendidikan itu pada tahun
1372-1373 H.
Selama dua tahun beliau
bergabung di Pondok
Pendidikan Riyad, beliau telah
mengambil faidah dari ulama-
ulama yang mengajar ketika itu.
Diantaranya; Al-Allamah syaikh
Muhammad bin Amin Asy-
Syinqithi, Syaikh Al-Faqih Abdul
Aziz bin Nashir bin Rasyid dan
Syaikh Al-Muhaddits
Abdurrazzak Al-Afriqy. Semoga
Allah merahmati mereka.
Ketika itu beliau mengadakan
kontak dengan Syaik Al-Allamah
Abdul Aziz bin Abdullah bin
Baaz. Semoga Allah
merahmatinya. Lalu beliau
belajar pada beliau, di masjid,
dari (kitab) Sahihul Bukhari dan
dari makalah-makalah Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah. Dan beliau
memperoleh ilmu dalam ilmu
hadits serta mengkaji dan
membandingkan pendapat-
pendapat ahli fiqhi mazhab
(aliran). Dan yang mulia Syaikh
Abdul Aziz bin Baaz, semoga
Allah merahmatinya, sebagai
guru keduanya dalam
memperoleh ilmu dan
keteladanan.
Beliau kembali ke Unaizah pada
tahun 1374 H. Dan belajar pada
gurunya Syaikh Al-Allamah
Abdurrahman bin Nashir As-
Sa’di. Dan beliau melanjutkan
studinya dengan bergabung di
fakultas syari’ah, yang pada
waktu itu sudah menjadi bagian
dari Universitas Imam
Muhammad bin Su’ud Al-
Islamiyah, hingga beliau
memperoleh ijazah sarjana.

Pengajaran Beliau

Guru beliau, melihat pada dirinya
keunggulan dan kecepatan
menangkap ilmu. Lalu dia
mendorongnya untuk mengajar.
Sedangkan beliau itu masih
sebagai murid di majlisnya. Lalu
mulailah beliau mengajar pada
tahun 1370 H. Di Masjid Raya
Unaizah.
Ketika beliau lulus di Pondok
pendidikan di Riyad, beliau
diangkat sebagai guru di pondok
pendidikan di Unaizah pada
tahun 1374 H.
Pada Tahun 1376 H. gurunya,
syaikh Abdurrahman bin Nashir
As-Sa’di, semoga Allah
merahmatinya, menginggal
dunia. Setelah itu, beliau
menjabat imam Masjid Raya
Unaizah serta menjadi imam dua
hari raya di masjid itu, dan
memberikan pelajaran di
Perpustakaan Nasional Unaizah
yang menginduk pada Masjid
Raya Unaizah; yang didirikan
oleh gurunya, semoga Allah
merahmatinya, pada tahun 1359
H.
Tatkala murid-murid(nya) sudah
banyak, jadilah perpustakaan itu
tidak muat untuk mereka.
Mulailah Syaikh yang mulia,
semoga Allah merahmatinya,
mengajar di Masjid Raya. Dan
berkumpul dan berda-tanganlah
murid-murid dari Kerajaan Saudi
Arabia dan selainnya. Hingga
pada beberapa pelajaran, jumlah
mereka mencapai beberapa
ratus. Mereka belajar dengan
tekun dan mendapatkan ilmu,
bukan hanya sekedar
mendengar. Beliau tetap sebagai
imam, khatib dan guru, hingga
beliau wafat, semoga Allah
merahmatinya.
Beliau menjadi guru di pondok
pendidikan dari tahun 1374
sampai tahun 1398 H. ketika
beliau berpindah untuk
mengajar di Fakultas Syari’ah
dan Usuluddin di Qashim, yang
menginduk pada Universitas
Imam Muhammad bin Suud Al-
Islamiyah, beliau masih menjadi
guru di sana hingga wafatnya.
Semoga Allah merahmatinya.
Dahulu, beliau mengajar di
Masjidil Haram dan Masjid
Nabawi pada Musim Haji dan
Ramadahan serta liburan musim
panas, sejak tahun 1402 H.
hingga beliau wafat. Semoga
Allah merahmatinya.
Pada (diri) Syaikh, semoga Allah
merahmatinya,

(terdapat)
metode pendidikan yang tidak
ada duanya dalam hal
keberhasilan dan kelayak-
kannya. Beliau berdiskusi dengan
murid-muridnya serta menerima
perta-nyaan-pertanyaan mereka.
Beliau memberikan pelajaran
dan ceramah dengan semangat
yang tinggi, jiwa yang tenang,
percaya diri dan senang dalam
menyebarkan dan mendekatkan
ilmu pada manusia.
Peninggalan-Peninggalan Ilmiyah
Beliau
Kesungguhan beliau yang besar
dalam memberi dan memper-
sembahkan (karya) dalam
menyebarkan ilmu, dalam
mengajar, memberi nasehat,
petunjuk dan pengarahan serta
dalam memberikan ceramah dan
dakwah, terlihat selama lebih
dari lima puluh tahun. Maha suci
Allah!
Beliau memberikan perhatian
untuk menulis dan menerbitkan
fatwa dan jawaban-jawaban
(pertanyaan), yang menonjol
dengan sumber ilmu yang kuat.
Dan diterbitkan milik (karangan)
beliau berpuluh-puluh buku,
makalah, ceramah, fatwa,
khutbah, pertemuan (diskusi)
dan artikel-artikel. Begitupulah
beribu-ribu rekaman ceramah,
khutbah, pertemuan, program
siaran dan pelajaran-pelajaran
ilmiahnya diluncurkan, dalam
masalah tafsir Al-Qur’anul
Karim, serta uraian-uraian
istimewah dalam hal hadits, sirah
dan matan-matan yang teratur
dalam ilmu-ilmu syar’i dan
nahwu.
Sebagai bentuk realisasi dari
prinsip, ketentuan dan
pengarahan yang ditetapkan
oleh yang mulia, semoga Allah
merahmatinya, untuk
menyebarkan karangan,
makalah, pelajaran, ceramah,
khutbah, fatwa dan pertemuan-
pertemuannya, maka Yayasan
Sosial Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-Utsaimin melaksanakan
tanggung-jawab untuk
mempublikasikan dan
memelihara semua peninggalan-
peninggalan ilimiahnya.
Bertitik tolak pada nasehatnya/
anjuran beliau, semoga Allah
merahmatinya, dengan
pertolongan Allah, didirikan
tempat khusus pada jaringan
pendidikan Negara. dalam
rangka menyebarkan faedah
(ilmu) yang diharapkan dan
untuk menyajikan semua
peninggalan-peninggalan
ilmiahnya. dintaranya; tulisan
dan rekaman-remakan.

Kegiatan dan Aktifitas Lainnya

Disamping kerja keras yang
berhasil di bidang pengajaran,
penulisan, imam, khutbah,
fatwah dan dakwah kepada
Allah Subhanahu wa Taala.
Syaikh juga melakukan kegiatan-
kegiatan lain yang sukses,
diantaranya:

Anggota pada organisasi
ulama-ulama besar di Kerajaan
Saudi Arabia. dari tahun 1407
hingga beliau wafat.

Anggota pada Majlis ilmu di
Universitas Imam Muhammad
bin Suud Al-Islamiyah dalam dua
tahun pembelajaran, tahun
1398-1400 H.

Anggota Dewan Pengurus
Fakultas Syari’ah dan Ushuluddin
di Universitas Imam Muhammad
bin Suud cabang Al-Qashim dan
sekaligus menjadi Dekan jurusan
syari’ah.

Pada akhir masa
pengajarannya di Pondok
Pendidikan, beliau bergabung
dalam keanggotaan “Panitia
Program dan Perencanaan”
untuk pondok-pondok
pendidikan. Dan menerbitkan
sejumlah buku-buku
pembelajaran.

Pengurus pada Komite
Bimbingan (pengarahan) pada
musim haji. Dari tahun 1392
hingga wafatnya, semoga Allah
meridhoinya, dimana beliau
memberikan pelajaran dan
ceramah-ceramah di Makkah.
Beliau memberikan fatwa
berbagai permasalahan dan
hukum-hukum syariat.

Mengepalai lembaga
penghafalan Al-Qur’anul Karim
di Unaizah, sejak didirikannya
pada tahun 1405 H. hingga
wafatnya.

Beliau banyak
menyampaikan ceramah-
ceramah di dalam Kerajaan
Saudi Arabia pada kelompok-
kelompok yang berbeda-beda.
Begitupulah, beliau
menyampaikan ceramah melalui
telepon (ceramah jarak jauh)
pada perkumpulan dan pusat-
pusat kajian Islam di pelosok-
pelosok dunia yang berbeda.

Beliau termasuk ulama besar
kerajaan yang menjawab
pertanyaan-pertanyaan orang
seputar hukum-hukum agama
dan dasar-dasar aqidah dan
syariat. Hal itu melalui program
siaran dari Kerajaan Saudi
Arabia. Yang paling terkenal
adalah “Nuurun Alad
Darbi” (cahaya pada lorong).

Mewajibkan diri untuk
menjawab pertanyaan-
pertanyaan orang. Baik itu
melalui telepon, tulisan ataupun
melalui lisan.

Menyusun jadwal
pertemuan-pertemuan ilmiah;
mingguan, bulanan maupun
tahunan.

Ikut serta pada banyak
muktamar yang diadakan di
Kerajaan Saudi Arabia.

Oleh karena beliau
mementingkan etika pendidikan
dan nasehat, maka beliau
memberikan perhatian,
memberikan petunjuk dan
mengarahkan murid-murid
kepada etika dan metode yang
baik dalam menuntut dan
mencari ilmu. Beliau berusaha
untuk mengum-pulkan mereka.
Sabar dalam mengajar mereka.
Tabah dalam menjawab
pertanyan-pertanyaan mereka
yang berbeda-beda serta
memberikan perhatian pada
kepentingan-kepentingan
mereka.

Syaikh, semoga Allah
merahmatinya, memiliki
kegiatan-kegiatan yang banyak di
lapangan sosial, pintu-pintu
kebaikan dan sisi-sisi kebaikan
terhadap manusia. memenuhi
kebutuhan mereka serta
memberikan nasehat kepada
mereka dengan tulus dan ikhlas.
Kedudukan Keilmuan Beliau
Syaikh yang mulia, semoga Allah
merahmatinya, dikategorikan
termasuk orang yang kuat dalam
ilmu yang Allah berikan dengan
karunia dan kemuliaa-Nya.
Sumber dan penguasaan yang
besar dalam mengetahui dan
menggabungkan dalil dan
dalam menyimpulkan hukum
dan faedah-faedah dari kitab
dan sunnah. Beliau meneliti
dasar-dasar Bahasa Arab, baik
secara makna, I’rab dan
balaghah.
Tatkala beliau menonjol dengan
sifat-sifat ulama yang mulia,
akhlak yang terpuji.
menggabungkan antara ilmu dan
amal, orang-orang mencintainya
dengan kecintaan yang besar.
Menghargainya dengan segenap
penghargaan. Allah
mengkaruniakan beliau
sambutan baik (penerimaan)
dikalangan orang-orang. Mereka
merasa puas dengan pilihan
beliau dalam ilmu fiqhi. Mereka
menerima pelajaran, fatwa dan
peninggalan-peninggalan
ilmiahnya, yang tumpah ruah
dari mata air ilmunya serta
mengambil faidah dari nasehat
dan wejangan-wejangan beliau.
Beliau telah diberikan hadiah
tingkat dunia “Raja Faisal”,
semoga Allah merahmatinya,
untuk pengabdian(nya) dalam
Islam, pada tahun 1414 H. Dan
adapun pertimbangan-
pertimbangan yang dimunculkan
oleh panitia untuk
memberikannya hadiah, adalah
sebagai berikut:
Pertama: Beliau menonjol
dengan akhlak ulama yang
utama. Yang paling menonjol
adalah wara’ (ketaqwaan),
lapang dada, menyam-paikan
yang haq, beraktifitas untuk
kemaslahatan kaum muslimin
dan memberi nasehat kepada
orang tertentu dan kepada
orang banyak.
Kedua: Banyaknya
pemamfaatan ilmunya;
pembelajaran, fatwa dan
karangan beliau.
Ketiga: Penyampaian ceramah-
ceramah umum yang
bermamfaat di banyak daerah
yang berbeda dalam kerajaan.
Keempat: Banyaknya keikut-
sertaan beliau pada muktamar
islam.
Kelima: penggabungan antara
metode-metode istimewa dalam
dakwah kepada Allah dengan
hikmah dan nasehat yang baik.
Pengenalan contoh yang ideal
terhadap manhaj
shalafushsholeh; pemikiran
maupun tingkah laku.

Keturunan Beliau

Beliau mempunyai lima anak
laki-laki, dan tiga anak
perempuan. Adapun anak laki-
lakinya adalah: Abdullah,
Abdurrahman, Ibrahim, Abdul
Aziz dan Abdurrahim.

Wafatnya Beliau

Beliau, semoga Allah
merahmatinya, wafat di Kota
Jeddah, sebelum masuk waktu
magrib pada hari rabu, tanggal
lima belas bulan Syawwal, tahun
1421 H. Dan dishalatkan pada
hari kamis, setelah shalat ashar.
kemudian diantar jenazahnya
oleh beribu-ribu peserta shalat
dan khalayak ramai, dalam
sebuah pemandangan yang
berkesan. Dimakamkan di
Makkah Al-Mukarramah.
Setelah shalat jum’at pada hari
berikutnya, Beliau dishalatkan
dengan shalat ghaib di seluruh
kota Saudi Arabia.
Semoga Allah mengasihi guru
kita dengan kasih sayang orang-
orang yang beruntung.
Menempatkan beliau dalam
keluasan surga-Nya.
Mengkaruniainya magfirah dan
keridhoan-Nya. Memmberinya
ganjaran yang baik terhadap apa
yang telah beliau persembahkan
untuk Islam dan Kaum Muslimin.
Komite pendidikan
Yayasan Sosial Syaikh
Muhammad bin Shaleh Al-
Utsaimin

[Diterjemah dari Muqaddimah
Syarh As-Siyasah Asy-Syar'iyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah
karya Asy-Syaikh Ibnu al-
Utsaimin]


www.al-atsariyyah.com/?p=612#more-612
Read more..

Siapakah Abdul Qodir Al Jailaniy?

Tahukah anda siapa itu Syaikh
Abdul Qadir Al-Jailani?
Ya, semua orang tahu siapa itu
Abdul Qadir Jailani. Mulai dari
anak-anak kecil sampai orang-
orang tua pun tahu tentang
Abdul Qadir Jailani, sampai para
tukang becak pun tahu akan
siapa tokoh ini. Sampai-sampai
jika ada orang yang bernama
Abdul Qadir, maka orang akan
mudah menghafal namanya
disebabkan namanya ada
kesamaan dengan nama Abdul
Qadir Jailani. Yang jelas, selama
orangnya muslim, pasti tahu
siapa itu Abdul Qadir Jailany. Ya
minimal namanya.
Jika nama Abdul Qadir disebut
atau didengarkan oleh sebagian
orang, niscaya akan terbayang
suatu hal berupa kesholehan,
dan segala karomah, serta
keajaiban yang dimiliki oleh
beliau menurut mereka.Orang-
orang tersebut akan
membayangkan Abdul Qadir
Jailani itu bisa terbang di atas
udara, berjalan di atas laut tanpa
menggunakan seseuatu apapun,
mengatur cuaca, mengembalikan
ruh ke jasad orang,
mengeluarkan uang di balik
jubahnya, menolong perahu
yang akan tenggelam,
menghidupkan orang mati dan
lain sebagainya.
Apakah semua itu betul, ataukah
semua itu hanyalah karangan
dan kedustaan dari para
qashshash (pendongeng) yang
bodoh?

Berikut sedikit keterangan
mengenai siapakah Abdul Qadir
Al-Jailani.

Nama lengkap beliau

Seorang ahli sejarah Islam, Ibnul
Imad menyebutkan tentang
nama dan masa hidup Syaikh
Abdul Qadir Al-Jailany: “Pada
tahun 561 H hiduplah Asy-Syaikh
Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin
Janaky Dausat bin Abi Abdillah
Abdullah bin Yahya bin
Muhammad bin Dawud bin
Musa bin Abdullah bin Musa Al-
Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin
Al-Hasan bin Al-Mutsanna bin
Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib
Al-Jailany”. (Lihat Syadzarat Adz-
Dzahab (4/198) oleh Ibnul Imad
Al-Hanbaly)

Tempat kelahiran beliau

Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany adalah salah seorang
ulama ahlusunnah yang berasal
dari negeri Jailan. Kepada negeri
inilah beliau dinasabkan sehingga
disebut “Al-Jailany”, artinya
seorang yang berasal dari negeri
Jailan.Jailan merupakan nama
bagi beberapa daerah yang
terletak di belakang Negeri
Thobaristan. Tidak ada satu kota
pun terdapat di negeri Jailan
kecuali ia hanya merupakan
bentuk perkampungan yang
terletak pada daerah tropis di
sekitar pegunungan. (Lihat
Mu’jam Al-Buldan (4/13-16)
Oleh Abu Abdillah Yaqut bin
Abdillah Al-Hamawy)

Komentar para ulama
tentang beliau

Para ulama memberikan pujian
kepada Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany. Ibnu Rajab rahimahullah
berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany termasuk orang yang
berpegang-teguh dengan
sunnah dalam masalah-masalah
yang berkaitan dengan sifat-sifat
Allah, Qodar, dan semisalnya,
bersungguh-sungguh dalam
membantah orang yang
menyelisihi perkara tersebut.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany
berkata dalam kitabnya Al-
Ghun-yah yang masyhur: [Allah
berada di bagian atas langit,
bersemayam di atas Arsy,
menguasai kerajaan, ilmu-Nya
meliputi segala sesuatu, kepada-
Nya lah naik kata-kata yang baik
dan amalan sholeh diangkatnya.
Dia mengatur segala urusan dari
langit ke bumi, lalu urusan itu
naik kepada-Nya dalam satu hari
yang sama dengan seribu tahun
menurut perhitungan
kalian.Tidak boleh Allah
disifatkan bahwa Dia ada di
segala tempat. Bahkan Dia di
atas langit, di atas Arsy
sebagaimana Allah berfirman,
“Ar-Rahman (Allah) tinggi di atas
Arsy”.
Kitab Al-Ghun-yah di atas, judul
lengkapnya adalah: “Ghun-yah
Ath-Tholibin” sebagaimana yang
disebutkan oleh Al-Azhim Abadi
dalam Aunul Ma’bud (3/300),
dan Al-Mubarakfury dalam
Tuhfah Al-Ahwadzi (7/430)
Imam Muwaffaquddin Ibnu
Qudamah berkata, “Kami masuk
Baghdad tahun 561 H. Ternyata
Syaikh Abdul Qadir termasuk
orang yang mencapai puncak
kepemimpinan dalam ilmu ,
harta, fatwa dan amal disana.
Penuntut ilmu tidak perlu lagi
menuju kepada yang lainnya
karena banyaknya ilmu,
kesabaran terhadap penuntut
ilmu, dan kelapangan dada pada
diri beliau. Orangnya
berpandangan jauh. Beliau telah
mengumpulkan sifat-sifat yang
bagus, dan keadaan yang agung.
Saya tak melihat ada orang yang
seperti beliau setelahnya.” (Lihat
Dzail Thobaqot Hanabilah
(1/293) karya Ibnu Rajab.)

Kehebatan-kehebatan yang
dinisbatkan kepada beliau

Adapun khurafat yang biasa
dinisbahkan kepada beliau
sebagaimana yang telah kami
sebutkan contohnya di atas,
maka Al-Hafizh Ibnu Rajab
Rahimahullah berkata: “Akan
tetapi Al-Muqri’ Abul Hasan Asy-
Syanthufi Al-Mishri telah
mengumpulkan berita-berita,
dan keistimewaan Syaikh Abdul
Qadir Al-Jailany sebanyak tiga
jilid. Ia telah menulis di dalamnya
suatu musibah, dan cukuplah
seseorang itu dikatakan berdusta
jika ia menceritakan segala yang
ia dengar. …. Di dalamnya
terdapat keanehan, malapetaka,
pengakuan dusta, dan ucapan
batil, yang tak bisa lagi dihitung.
Semua itu tak bisa dinisbahkan
kepada Syaikh Abdul Qadir Al-
Jailany rahimahullah. Kemudian
saya mendapatkan Al-Kamal
Ja’far Al-Adfawy telah
menyebutkan bahwa Asy-
Syanthufi sendiri tertuduh dusta
dalam berita yang ia riwayatkan
dalam kitab ini.” (Lihat Dzail
Thobaqot Hanabilah (1/293)
karya Ibnu Rajab) Ibnu Katsir
Rahimahullah berkata: “Mereka
telah menyebutkan dari beliau
(Abdul Qadir Al-Jailany) ucapan-
ucapan, perbuatan-perbuatan,
pengungkapan urusan gaib, yang
kebanyakannya adalah ghuluw
(sikap berlebih-lebihan). Beliau
orangnya sholeh dan wara’.
Beliau telah menulis kitab Al-
Ghun-yah, dan Futuh Al-Ghaib.
Dalam kedua kitab ini terdapat
beberapa perkara yang baik, dan
ia juga menyebutkan di
dalamnya hadits-hadits dha’if,
dan palsu. Secara global, ia
termasuk di antara pemimpin
para masyayikh (orang-orang
yang berilmu)”. (Lihat Al-Bidayah
wa An-Nihayah (12/252) oleh
Ibnu Katsir)

Kesimpulannya:

Asy-Syaikh
Abdul Qadir Al-Jailani adalah
seorang ulama ahlussunnah wal
jamaah, salafi. Mempunyai
karya-karya ilmiah di antaranya
kitab Al-Ghun-yah dalam
masalah tauhid Al-Asma` wa
Ash-Shifat, yang di dalamnya
beliau menjelaskan tentang
akidah ahlussunnah. Sebagian
ulama belakangan menyebutkan
bahwa memang beliau
mempunyai beberapa karamah,
hanya saja sebagian orang-orang
jahil lagi ghulum kepada beliau
terlalu memperbesar-besar
kejadiannya dan banyak
menambah kisah-kisah palsu lagi
dusta lalu menyandarkannya
kepada beliau -rahimahullah-.
Wallahu a’lam bishshawab

Ringkasan dari muqaddimah
tulisan Al-Ustadz Abu Faizah
Abdul Qadir yang berjudul
Biografi Abdul Qadir Al-Jailani
Sebuah sosok yang dikultuskan
ahli tasawwuf


www.al-atsariyyah.com/?p=405#more-405
Read more..

Minggu, 01 Agustus 2010

Imam Ahmad Bin Hanbal Tauladan Dalam Semangat Dan Kesabaran

Al-Imam Asy-Syafi’i
rahimahullah berkata:
“ Ahmad bin Hanbal adalah
seorang tauladan dalam 8
hal: tauladan dalam bidang
hadits, fiqih, bahasa arab,
Al-Qur ’an, kefakiran,
zuhud, wara’ dan dalam
berpegang teguh dengan
sunnah Nabi
shalallahu ’alaihi wa sallam.

Kunyah dan Nama

Lengkap beliau
rahimahullah
Beliau adalah Abu Abdillah
Ahmad bin Muhammad bin
Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris
bin Abdillah bin Hayyan bin
Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin
Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz
Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi
Al-Baghdadi.
Lahir pada bulan Rabi’ul Awal
tahun 164 Hijriyah di kota Marwa.
Beliau lebih dikenal dengan
Ahmad bin Hanbal, disandarkan
kepada kakeknya. Karena sosok
kakeknya lebih dikenal daripada
ayahnya. Ayahnya meninggal
ketika beliau masih berusia 3
tahun. Kemudian sang ibu yang
bernama Shafiyah binti
Maimunah membawanya ke kota
Baghdad. Ibunya benar-benar
mengasuhnya dengan pendidikan
yang sangat baik hingga beliau
tumbuh menjadi seorang yang
berakhlak mulia.
Perjalanan beliau dalam
menuntut ilmu
Sungguh mengagumkan
semangat Al-Imam Ahmad bin
Hanbal di dalam menuntut ilmu.
Beliau hafal Al-Qur ’an pada masa
kanak-kanak. Beliau juga belajar
membaca dan menulis. Semasa
kecil beliau aktif mendatangi
kuttab (semacam TPA di zaman
sekarang).
Kemudian pada tahun 179
Hijriyah, saat usianya 15 tahun,
beliau memulai menuntut ilmu
kepada para ulama terkenal di
masanya. Beliau awali dengan
menimba ilmu kepada para
ulama Baghdad, di kota yang ia
tinggali.
Di kota Baghdad ini, beliau
belajar sejumlah ulama,
diantaranya:

1. Al-Imam Abu Yusuf, murid
senior Al-Imam Abu Hanifah.

2. Al-Imam Husyaim bin Abi
Basyir. Beliau mendengarkan dan
sekaligus menghafal banyak
hadits darinya selama 4 tahun.

3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.

4. Abdurrahman bin Mahdi.

5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.

Pada tahun 183 Hijriyah pada usia
20 tahun, beliau pergi untuk
menuntut ilmu kepada para
ulama di kota Kufah. Pada tahun
186 H beliau belajar ke Bashrah.
Kemudian pada tahun 187 H
beliau belajar kepada Sufyan bin
‘ Uyainah di Qullah, sekaligus
menunaikan ibadah haji yang
pertama kali. Kemudian pada
tahun 197 H beliau belajar
kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash
Shan’ani di Yaman bersama Yahya
bin Ma’in.
Yahya bin Ma’in menceritakan:
“Aku keluar ke Shan’a bersama
Ahmad bin Hanbal untuk
mendengarkan hadits dari
‘ Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam
perjalanan dari Baghdad ke
Yaman, kami melewati Makkah.
Kami pun menunaikan ibadah
haji. Ketika sedang thawaf, tiba-
tiba aku berjumpa dengan
‘ Abdurrazaq, beliau sedang
thawaf di Baitullah. Beliau sedang
menunaikan ibadah haji pada
tahun itu. Aku pun mengucapkan
salam kepada beliau dan aku
kabarkan bahwa aku bersama
Ahmad bin Hanbal. Maka beliau
mendoakan Ahmad dan
memujinya. Yahya bin Ma’in
melanjutkan, “Lalu aku kembali
kepada Ahmad dan berkata
kepadanya, “Sungguh Allah telah
mendekatkan langkah kita,
mencukupkan nafkah atas kita,
dan mengistirahatkan kita dari
perjalanan selama satu bulan.
Abdurrazaq ada di sini. Mari kita
mendengarkan hadits dari
beliau!”
Maka Ahmad berkata, “Sungguh
tatkala di Baghdad aku telah
berniat untuk mendengarkan
hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a.
Tidak demi Allah, aku tidak akan
mengubah niatku selamanya. ’
Setelah menyelesaikan ibadah
haji, kami berangkat ke Shan ’a.
Kemudian habislah bekal Ahmad
ketika kami berada di Shan ’a.
Maka ‘Abdurrazaq menawarkan
uang kepadanya, tetapi dia
menolaknya dan tidak mau
menerima bantuan dari siapa
pun. Beliau pun akhirnya bekerja
membuat tali celana dan makan
dari hasil penjualannya. ” Sebuah
perjalanan yang sangat berat
mulai dari Baghdad (‘Iraq) sampai
ke Shan’a (Yaman). Namun beliau
mengatakan: “Apalah arti
beratnya perjalanan yang aku
alami dibandingkan dengan ilmu
yang aku dapatkan dari
Abdurrazaq. ”
Al-Imam Abdurrazaq sering
menangis jika disebutkan nama
Ahmad bin Hanbal dihadapannya,
karena teringat akan semangat
dan penderitaannya dalam
menuntut ilmu serta kebaikan
akhlaknya.
Beliau melakukan perjalanan
dalam rangka menuntut ilmu ke
berbagai negeri seperti Syam,
Maroko, Aljazair, Makkah,
Madinah, Hijaz, Yaman, Irak,
Persia, Khurasan dan berbagai
daerah yang lain. Kemudian
barulah kembali ke Baghdad.
Pada umur 40 tahun, beliau mulai
mengajar dan memberikan fatwa.
Dan pada umur tersebut pula
beliau menikah dan melahirkan
keturunan yang menjadi para
ulama seperti Abdullah dan
Shalih. Beliau tidak pernah
berhenti untuk terus menuntut
ilmu. Bahkan, walaupun usianya
telah senja dan telah mencapai
tingkatan seorang Imam, beliau
tetap menuntut ilmu.
Guru-guru beliau
Beliau menuntut ilmu dari para
ulama besar seperti Husyaim bin
Abi Basyir, Sufyan bin Uyainah,
Al-Qadhi Abu Yusuf, Yazid bin
Harun, Abdullah bin Al-Mubarak,
Waki ’, Isma’il bin ‘Ulayyah,
Abdurrahman bin Mahdi, Al-
Imam Asy-Syafi ’i, Abdurrazaq,
Muhammad bin Ja’far (Ghundar),
Jarir bin Abdul Hamid, Hafsh bin
Ghiyats, Al-Walid bin Muslim,
Yahya bin Sa ’id Al-Qaththan, Abu
Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dan
lain-lain.
Al-Imam Adz Dzahabi
menyebutkan dalam kitab As-
Siyar, jumlah guru-guru Al-Imam
Ahmad yang beliau riwayatkan
dalam Musnadnya lebih dari 280
orang.
Murid-murid beliau
Para ulama yang pernah belajar
kepada beliau adalah para ulama
besar pula seperti Muhammad
bin Yahya Adz-Dzuhli, Al-Imam
Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu
Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi,
Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu
Hatim Ar-Razi, Abu Qilabah, Baqi
bin Makhlad, Ali bin Al-Madini,
Abu Bakr Al-Atsram, Shalih dan
Abdullah (putra beliau), dan
sejumlah ulama besar lainnya.
Bahkan yang dulunya pernah
menjadi guru-guru beliau,
kemudian mereka meriwayatkan
hadits dari beliau seperti Al-Imam
Abdurrazaq, Al-Hasan bin Musa
Al-Asyyab, Al-Imam Asy-Syafi ’i.
Al-Imam Asy-Syafi’i ketika
meriwayatkan dari Al-Imam
Ahmad tidak menyebutkan
namanya bahkan dengan
gelarnya, “Telah menghaditskan
kepadaku Ats-Tsiqat (seorang
yang terpercaya).
Demikian pula teman-temannya
seperjuangan dalam menuntut
ilmu, mereka juga meriwayatkan
dari beliau, seperti Yahya bin
Ma ’in.

Ahlak dan Ibadah Beliau

rahimahullah
Pertumbuhan beliau berpengaruh
terhadap kematangan dan
kedewasaannya. Sampai-sampai
sebagian ulama menyatakan
kekaguman akan adab dan
kebaikan akhlaknya, “Aku
mengeluarkan biaya untuk
anakku dengan mendatangkan
kepada mereka para pendidik
agar mereka mempunyai adab,
namun aku lihat mereka tidak
berhasil. Sedangkan ini (Ahmad
bin Hanbal) adalah seorang anak
yatim, lihatlah oleh kalian
bagaimana dia !”
Beliau adalah seorang yang
menyukai kebersihan, suka
memakai pakaian berwarna putih,
paling perhatian terhadap dirinya,
merawat dengan baik kumisnya,
rambut kepalanya dan bulu
tubuhnya.
Orang-orang yang hadir di majelis
beliau tidak sekedar menimba
ilmunya saja bahkan kebanyakan
mereka hanya sekedar ingin
mengetahui akhlaq beliau.
Majelis yang diadakan oleh beliau
dihadiri oleh sekitar 5000 orang.
Yang mencatat pelajaran yang
beliau sampaikan jumlahnya
adalah kurang dari 500 orang.
Sementara sisanya sekitar 4500
orang tidak mencatat pelajaran
yang beliau sampaikan namun
sekedar memperhatikan akhlak
dan samt (baiknya penampilan
dalam perkara agama) beliau.
Yahya bin Ma’in berkata: “Aku
tidak pernah melihat orang yang
seperti Ahmad. Kami bersahabat
dengannya selama 50 tahun. Dan
belum pernah kulihat ia
membanggakan dirinya atas kami
dengan sesuatu yang memang hal
itu ada pada dirinya.”
Beliau juga sangat benci apabila
namanya disebut-sebut (dipuji) di
tengah-tengah manusia, sehingga
beliau pernah berkata kepada
seseorang: “Jadilah engkau orang
yang tidak dikenal, karena
sungguh aku benar-benar telah
diuji dengan kemasyhuran. ”
Beliau menolak untuk dicatat
fatwa dan pendapatnya. Berkata
seseorang kepada beliau: “Aku
ingin menulis permasalahan-
permasalahan ini, karena aku
takut lupa. ” Berkata beliau:
“Sesungguhnya aku tidak suka,
engkau mencatat pendapatku.”
Beliau adalah seorang yang
sangat kuat ibadahnya. Putra
beliau yang bernama Abdullah
menceritakan tentang kebiasaan
ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat
sehari semalam sebanyak 300
rakaat. Dan tatkala kondisi fisik
beliau mulai melemah akibat
pengaruh dari penyiksaan yang
pernah dialaminya maka beliau
hanya mampu shalat sehari
semalam sebanyak 150 rakaat.”
Abdullah mengatakan:
“ Terkadang aku mendengar ayah
pada waktu sahur mendoakan
kebaikan untuk beberapa orang
dengan menyebut namanya. Ayah
adalah orang yang banyak
berdoa dan meringankan doanya.
Jika ayah shalat Isya, maka ayah
membaguskan shalatnya
kemudian berwitir lalu tidur
sebentar kemudian bangun dan
shalat lagi. Bila ayah puasa, beliau
suka untuk menjaganya kemudian
berbuka sampai waktu yang
ditentukan oleh Allah. Ayah tidak
pernah meninggalkan puasa
Senin-Kamis dan puasa ayyamul
bidh (puasa tiga hari, tanggal 13,
14, 15 dalam bulan Hijriyah).
Dalam riwayat lain beliau berkata:
“ Ayah membaca Al-Qur’an setiap
harinya 1/7 Al-Qur’an. Beliau
tidur setelah Isya dengan tidur
yang ringan kemudian bangun
dan menghidupkan malamnya
dengan berdoa dan shalat.
Suatu hari ada salah seorang
murid beliau menginap di
rumahnya. Maka beliau
menyiapkan air untuknya (agar ia
bisa berwudhu). Maka tatkala
pagi harinya, beliau mendapati air
tersebut masih utuh, maka beliau
berkata: “Subhanallah, seorang
penuntut ilmu tidak melakukan
dzikir pada malam harinya ?”
Beliau telah melakukan haji
sebanyak lima kali, tiga kali
diantaranya beliau lakukan
dengan berjalan kali dari
Baghdad dan pada salah satu
hajinya beliau pernah
menginfakkan hartanya sebanyak
30 dirham.

Ujian yang menimpa
beliau

Beliau menerima ujian yang
sangat berat dan panjang selama
3 masa kekhalifahan yaitu Al-
Ma ’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-
Watsiq. Beliau dimasukkan ke
dalam penjara kemudian
dicambuk atau disiksa dengan
berbagai bentuk penyiksaan. Itu
semua beliau lalui dengan
kesabaran dalam rangka menjaga
kemurnian aqidah Ahlus Sunnah
wal Jama ’ah, yaitu Al-Qur’an
adalah kalamullah dan bukan
makhluk. Di masa itu, aqidah
sesat yang menyatakan bahwa Al-
Qur ’an adalah makhluk (bukan
kalamullah) diterima dan
dijadikan ketetapan resmi oleh
pemerintah.
Sedangkan umat manusia
menunggu untuk mencatat
pernyataan (fatwa) beliau.
Seandainya beliau tidak sabar
menjaga kemurnian aqidah yang
benar, dan menyatakan bahwa
Al-Qur’an adalah makhluk,
niscaya manusia akan mengikuti
beliau. Namun beliau tetap tegar
dan tabah menerima semua ujian
tersebut. Walaupun beliau harus
mengalami penderitaan yang
sangat. Pernah beliau mengalami
80 kali cambukan yang kalau
seandainya cambukan tersebut
diarahkan kepada seekor gajah
niscaya ia akan mati. Namun
beliau menerima semua itu
dengan penuh kesabaran demi
mempertahankan aqidah Ahlus
Sunnah.
Sampai akhirnya, pada masa
khalifah Al-Mutawakkil, beliau
dibebaskan dari segala bentuk
penyiksaan tersebut.

Wafat beliau
rahimahullah
Pada Rabu malam tanggal 3
Rabi ’ul Awal tahun 241 Hijriyah,
beliau mengalami sakit yang
cukup serius. Sakit beliau semakin
hari semakin bertambah parah.
Manusia pun berduyun-duyun
siang dan malam datang untuk
menjenguk dan menyalami beliau.
Kemudian pada hari Jum’at
tanggal 12 Rabi’ul Awal, di hari
yang ke sembilan dari sakitnya,
mereka berkumpul di rumah
beliau sampai memenuhi jalan-
jalan dan gang. Tak lama
kemudian pada siang harinya
beliau menghembuskan nafas
yang terakhir. Maka meledaklah
tangisan dan air mata mengalir
membasahi bumi Baghdad. Beliau
wafat dalam usia 77 tahun.
Sekitar 1,7 juta manusia ikut
mengantarkan jenazah beliau.
Kaum muslimin dan bahkan
orang-orang Yahudi, Nasrani
serta Majusi turut berkabung
pada hari tersebut.
Selamat jalan, semoga Allah
merahmatimu dengan rahmat-
Nya yang luas dan
menempatkanmu di tempat yang
mulia di Jannah-Nya.

Maraji’:
1. Musthalah Hadits karya Asy-
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al- ’Utsaimin, hal. 63-66.
2. Pewaris Para Nabi hal.
49,55,91,94,173,1843. Mahkota
yang hilang hal.39
4. Kitab Fadhail Ash-Shahabah
jilid I hal 25-32.
5. Siyar A’lamin Nubala
6. Al-Bidayah wan Nihayah
7. Mawa’izh Al-Imam Ahmad


Sumber: http://www.assalafy.org/
mahad/?p=518

m.facebook.com/note.php?note_id=417512787560&r1512f4aa&refid=21&rd4e13ce8#anchor_fbid_417512787560
Read more..

Selasa, 06 Juli 2010

Biografi Ringkas Syaikh Rabi' Bin Hadi 'Umair Al Madkhali

Penulis:
Syaikh Khalid bin Dlahwi Adz-
Dzufairi

Nama dan nasab beliau:

Beliau adalah Asy-Syaikh
Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’
bin Hadi bin Muhammad ‘Umair
Al-Madkhali, berasal dari suku
Al-Madakhilah yang terkenal di
Jaazaan, sebuah daerah di
sebelah selatan Kerajaan Arab
Saudi. Suku ini termasuk
keluarga Bani Syubail, sedangkan
Syubail adalah anak keturunan
Yasyjub bin Qahthan.

Kelahiran beliau:

Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa
Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di
sebelah barat kota Shamithah
sejauh kurang lebih tiga
kilometer dan sekarang telah
terhubungkan dengan kota
tersebut. Beliau dilahirkan pada
akhir tahun 1351 H. Ayah beliau
meninggal ketika beliau masih
berumur sekitar satu setengah
tahun, beliau tumbuh
berkembang di pangkuan sang
ibu -semoga Allah Ta’ala
merahmatinya. Sang ibu
membimbing dan mendidik
beliau dengan sebaik-baiknya,
mengajarkan kepada beliau
akhlak yang terpuji, berupa
kejujuran maupun sifat amanah,
juga memotivasi putranya untuk
menunaikan shalat dan meminta
beliau menepati penunaian
ibadah tersebut. Selain
pengasuhan ibunya, beliau
diawasi dan dibimbing pula oleh
pamannya (dari pihak ayah).
Perkembangan Keilmuan
Ketika Syaikh Rabi’ berusia
delapan tahun, beliau masuk
sekolah yang ada di desanya. Di
sekolah tersebut beliau belajar
membaca dan menulis.
Termasuk guru yang
membimbing beliau dalam
belajar menulis adalah Asy-
Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-
Qadli Ahmad bin Muhammad
Jabir Al-Madkhali dan dari
seseorang yang bernama
Muhammad bin Husain Makki
yang berasal dari kota Shibya’.
Syaikh Rabi’ mempelajari Al
Qur`an di bawah bimbingan
Asy-Syaikh Muhammad bin
Muhammad Jabir Al-Madkhali
disamping belajar ilmu tauhid
dan tajwid.
Setelah lulus, beliau melanjutkan
studi ke Madrasah As-Salafiyyah
di kota Shamithah. Termasuk
guru beliau di madrasah tersebut
adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-
Faqih Nashir Khalufah Thayyasy
Mubaraki rahimahullah, seorang
alim kenamaan yang termasuk
salah satu murid besar Asy-
Syaikh Al-Qar’awi rahimahullah.
Di bawah bimbingannya, Syaikh
Rabi’ mempelajari kitab Bulughul
Maram dan Nuzhatun Nadhar
karya Al-Hafidh Ibnu Hajar
rahimahullah Ta’ala.
Kemudian beliau belajar di
Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah
kepada sejumlah ulama
terkemuka, yang paling terkenal
adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah
Al-Masyhur Hafidh bin Ahmad
Al-Hakami rahimahullah Ta’ala
dan saudaranya Fadlilatusy
Syaikh Muhammad bin Ahmad
Al-Hakami, juga kepada Asy-
Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits
Ahmad bin Yahya An-Najmi
hafidhahullah. Di ma’had
tersebut beliau belajar akidah
kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah
Doktor Muhammad Amman bin
‘Ali Al-Jami. Demikian pula
kepada Asy-Syaikh Al-Faqih
Muhammad Shaghir Khamisi,
beliau mempelajari ilmu fikih
dengan kitab Zaadul Mustaqni’
dan kepada beberapa orang lagi
selain mereka, di mana Syaikh
mempelajari ilmu bahasa Arab,
adab, ilmu Balaghah dan ilmu
‘Arudl (cabang-cabang ilmu
bahasa Arab-pent.)
Tahun 1380 H seusai ujian
penentuan akhir, beliau lulus
dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota
Shamithah dan di awal tahun
1381 H beliau masuk ke Fakultas
Syari’ah di Riyadl selama
beberapa waktu lamanya, sekitar
satu bulan, satu setengah atau
dua bulan saja. Ketika Universitas
Islam Madinah berdiri, beliau
pindah ke sana dan bergabung
di Fakultas Syari’ah. Beliau
belajar di Universitas tersebut
selama empat tahun dan lulus
darinya pada tahun 1384 H
dengan predikat cumlaude.
Diantara guru-guru beliau di
Universitas Islam Madinah
adalah:

• Mufti besar Kerajaan Arab
Saudi, Samahatusy Syaikh
Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin
‘Abdillah bin Baz rahimahullah
Ta’ala, kepada beliau Syaikh
Rabi’ mempelajari Aqidah
Thahawiyah.

• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah
Muhammad Nashiruddin Al-
Albani, mempelajari bidang ilmu
hadits dan sanad.

• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah
‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad,
mempelajari ilmu fikih tiga tahun
lamanya dengan kitab Bidayatul
Mujtahid.

• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah
Al-Hafidh Al-Mufassir Al-
Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi
wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’
Muhammad Al-Amin Asy-
Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul
Bayan, kepada beliau Syaikh
Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan
ushul fikih selama empat tahun.

• Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi,
belajar akidah.
• Asy-Syaikh Al-Muhaddits
‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi,
belajar ilmu hadits dan
mushthalah.

Setelah lulus, beliau menjadi
dosen di almamater beliau di
Universitas Islam Madinah
selama beberapa waktu,
kemudian beliau melanjutkan
studi ke tingkat pasca sarjana
dan berhasil meraih gelar master
di bidang ilmu hadits dari
Universitas Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz
cabang Mekkah pada tahun
1397 H dengan disertasi beliau
yang terkenal, berjudul Bainal
Imamain Muslim wad
Daruquthni. Pada tahun 1400 H
beliau berhasil menyelesaikan
program doktornya di Universitas
yang sama, dengan predikat cum
laude setelah beliau
menyelesaikan tahqiq (penelitian,
komentar –pent.) atas kitab An-
Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah,
karya Al-Hafidh Ibnu Hajar
rahimahullahu Ta’ala.
Syaikh Rabi’ kemudian kembali
ke Universitas Islam Madinah
dan menjadi dosen di Fakultas
Hadits. Beliau mengajar ilmu
hadits dengan segala bentuk dan
cabangnya, serta berkali-kali
menjadi ketua jurusan Qismus
Sunnah pada program pasca
sarjana dan sekarang beliau
menjabat sebagai dosen tinggi.
Semoga Allah menganugerahkan
kepada beliau kenikmatan
berupa kesehatan dan
penjagaan dalam beramal
kebaikan.
Sifat dan akhlak beliau
Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala
memiliki keistimewaan berupa
sifat sangat rendah hati
dihadapan saudara-saudaranya,
murid-muridnya maupun kepada
para tamunya. Beliau seorang
yang sangat sederhana dalam
hal tempat tinggal, pakaian
maupun kendaraan, beliau tidak
menyukai kemewahan dalam
semua urusan ini.
Beliau adalah seorang yang
selalu ceria, berseri-seri wajahnya
dan sangat ramah, membuat
teman duduk beliau tidak
merasa bosan dengan kata-kata
beliau. Majelis beliau senantiasa
dipenuhi dengan pembacaan
hadits dan Sunnah serta tahdzir
(peringatan-pent.) dari
kebid’ahan dan para pelakunya,
sehingga orang yang belum
mengenal beliau akan
menyangka bahwa tidak ada lagi
kesibukan beliau selain hal
tersebut.
Syaikh Rabi’ sangat mencintai
salafiyyin penuntut ilmu, beliau
menghormati dan memuliakan
mereka. Beliau berusaha untuk
dapat memenuhi kebutuhan
mereka sesuai kemampuan
beliau, baik dengan diri sendiri
maupun dengan harta. Rumah
beliau selalu terbuka untuk para
penuntut ilmu, sampai-sampai
hampir tidak pernah beliau
menyantap sarapan pagi makan
siang maupun makan malam
sendirian, karena selalu saja ada
pelajar yang mengunjungi beliau.
Beliau menanyakan keadaan
mereka dan membantu mereka.
Syaikh Rabi’ termasuk ulama
yang sangat bersemangat
menyeru kepada Al-Kitab dan
As-Sunnah serta akidah salaf,
penuh semangat dalam
mendakwahkannya dan beliau
adalah pedang Sunnah dan
akidah salaf yang amat tajam,
yang amat sedikit bandingannya
di masa sekarang. Beliau adalah
pembela Sunnah dan
kehormatan salafus salih di
jaman kita ini, siang dan malam,
secara rahasia maupun terang-
terangan yang tidak terpengaruh
oleh celaan orang-orang yang
suka mencela.
Karya-karya beliau
Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah
karya tulis -Alhamdulillah –
beliau hafidzahullah telah
membicarakan berbagai bab
yang sangat dibutuhkan secara
proporsional, terlebih khusus lagi
dalam membantah para pelaku
bid’ah dan para pengikut hawa
nafsu di jaman yang penuh
dengan para perusak namun
sedikit orang yang berbuat ishlah
(perbaikan, pent.) Diantara karya
beliau :
1. Bainal Imamain Muslim wad
Daruquthni, sejilid besar dan ini
merupakan thesis beliau untuk
meraih gelar master.
2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-
Shalah, telah dicetak dalam dua
juz dan ini merupakan disertasi
program doktoral beliau.
3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila
Ash-Shahih lil Hakim, juz
pertama telah dicetak.
4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal
Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah,
dalam satu jilid.
5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah
ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.
6. Manhaj Ahlis Sunnah fii
Naqdir Rijal wal Kutub wat
Thawaif.
7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa
Hasan wa Dla’if baina Waqi’il
Muhadditsin wa Mughalithatil
Muta’ashibin, sebuah bantahan
terhadap ‘Abdul Fatah Abu
Ghuddah dan Muhammad
‘Awamah.
8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali
minas Sunnah wa Ahliha.
9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa
hukmul Isti’anah bi ghairil
Muslimin.
10. Makanatu Ahlil Hadits.
11. Manhajul Imam Muslim fii
Tartibi Shahihihi.
12. Ahlul Hadits Hum Ath-
Thaifah Al-Manshurah An-
Najiyah hiwar ma’a Salman
Al-‘Audah
13. Mudzakarah fil Hadits An-
Nabawi.
14. Adlwa` Islamiyyah ‘ala
‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.
15. Matha’inu Sayyid Quthb fii
Ashhabi Rasulillahi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
16. Al-‘Awashim mimma fii
Kutubi Sayyid Quthb minal
Qawashim.
17. Al-Haddul Fashil bainal Haq
wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi
Zaid.
18. Mujazafaatul Hiddaad.
19. Al-Mahajjatul Baidla` fii
Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.
20. Jamaa’ah Waahidah Laa
Jamaa’aat wa Shiraathun
Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar
ma’a ‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.
21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-
Raddil Wajiiz.
22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim
wa Aatsaruhu, yang
dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.
23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar,
Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.
24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil
Milyibaari minal Abaathiil.
25. Dahdlu Abaathiil Musa Ad-
Duwaisy.
26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil
Lathif Basymiil.
27. Inqidladlusy Syihb As-
Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan
Al-Khalafiyyah.
28. An-Nashihah Hiyal
Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil
‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di
majalah At-Tau’iyyah Al-
Islamiyyah
29. Al-Kitab was Sunnah
Atsaruhuma wa makaanatuhuma
wadl Dlarurah ilaihima fii
Iqaamatit Ta’liimi fii
Madaarisinaa, artikel majalah Al-
Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.
30. Hukmul Islam fii man Sabba
Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli
Risaalatihi, artikel koran Al-
Qabas Al-Kuwaitiyyah edisi 8576
tahun 9/5/1997.
Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis
lain di luar apa yang telah
disebutkan di sini. Kita memohon
kepada Allah agar memberikan
pertolongan-Nya untuk
menyempurnakan usaha-usaha
kebaikan yang beliau lakukan
dan semoga Allah memberikan
taufik kepada beliau kepada
perkara-perkara yang dicintai
dan diridlai-Nya, Dia-lah
penolong semua itu dan maha
mampu atasnya.


(Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh
Rabi’ hafidzahullah dengan
sedikit perubahan)
(Dikutip dari terjemah buku
karya Syaikh Abu ‘Abdillah
Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi,
edisi Bahasa Indonesia Mengenal
Lebih Dekat Asy Syaikh Rabi' Bin
Haadi al Madkhali, Sosok Ulama
Pembela Sunnah Nabi.
Diterjemahkan Ummu Affan,
penerbit Media Ahlus Sunnah,
Purwokerto)
www.darussalaf.or.id
Read more..

Minggu, 20 Juni 2010

Biografi Al Imam Ibnu Ajurum

Siapa yang tidak kenal kitab Al
Ajurumiyah? Setiap penuntut
ilmu syar ’i pasti mengenal kitab
ini, kitab kecil yang menjadi
pegangan ilmu nahwu bagi para
pemula. Banyak dari para
penuntut ilmu memulai pelajaran
bahasa Arabnya melalui kitab ini.
Tidak hanya itu, banyak juga di
antara mereka yang
menghapalnya.
Siapakah pengarang kitab yang
sangat masyhur ini? Mari kita
simak biografi ringkas beliau.

Nama dan Nisbah Beliau

Beliau adalah Abu Abdillah
Muhammad bin Muhammad bin
Dawud Ash Shinhaji (kadang
disebut Ash Shonhaji), yang lebih
dikenal dengan nama Ibnu
Ajurum. Nisbah beliau Ash
Shinhaji, merupakan nisbah
kepada qabilah Shinhajah di
daerah Maghrib. Beliau dikenal
dengan nama Ibnu Ajurum.
Ajurum artinya orang yang fakir
dan seorang shufi.
Kelahiran Beliau
Ibnu Ajurum dilahirkan di kota
Fas, sebuah daerah yang besar
di Negeri Maghrib pada tahun
672 H. Pada tahun itu pula
seorang pakar nahwu yang
terkenal yaitu pengarang Kitab
Alfiyah yang bernama Ibnu Malik
– rahimahullah- meninggal dunia.

Wafat Beliau

Ibnu Ajurum rahimahullah wafat
di Kota Fas pada hari Senin,
tanggal 10 Safar 723 H.

Perjalanan Beliau Menimba
Ilmu


Awalnya, Ibnu Ajurum belajar di
kota Fas, kemudian beliau
berangkat haji ke kota Makkah.
Ketika melewati Kairo, beliau
belajar nahwu kepada Abu
Hayyan, salah seorang pakar
nahwu negeri Andalusia,
penyusun Kitab Al Bahrul
Muhith, sampai beliau
mendapatkan ijazah
(rekomendasi) dari Abu Hayyan.

Penyusunan Matan Al
Ajurumiyah


Ibnu Ajurum menyusun matan Al
Ajurumiyah pada tahun 719 H,
empat tahun sebelum beliau
wafat. Ibnu Maktum yang
sezaman dengan Ibnu Ajurum –
setelah memuji Ibnu Ajurum-
menyebutkan di dalam
Tadzkirahnya bahwa pada saat
dia menulis tadzkirah tersebut,
Ibnu Ajurum masih hidup.
Ar Ra’i dan Ibnul Haj
menyebutkan bahwa Ibnu
Ajurum menulis kitab ini di
hadapan Ka ’bah. Dan
ditambahkan oleh Al Hamidi
bahwa setelah menulis kitab ini,
Ibnu Ajurum membuang
kitabnya ke laut sambil berkata,
“ Kalau memang kitab ini kutulis
ikhlas karena Allah, maka
niscaya kitab ini tidak akan
basah. ” Ternyata kitab Al
Ajurumiyah yang beliau tulis
tidak basah. Sehingga walaupun
kitab ini tipis dan ditujukan bagi
pemula, namun karya tulis beliau
ini diterima oleh semua
kalangan.

Madzhab Ibnu Ajurum dalam
Penyusunan Kitab

Dalam menyusun kitab ini, Ibnu
Ajurum mengikuti madzhab
Kufah. Di antara bukti-buktinya
adalah:
  1. Beliau menyebut kasrah atau
    yang menggantikannya dengan
    khafd ( خفض). Adapun pengikut
    madzhab Basrah menyebutnya
    dengan jar ( جر).

  2. Beliau berpendapat bahwa fi’il
    amr itu di-jazm-kan. Ini adalah
    pendapat madzhab Kufah.
    Adapun ahlu Bashrah
    berpendapat bahwa fi ’il amr itu
    mabni ‘ala sukun.

  3. Beliau mengganggap kaifama
    ( كيفما) termasuk jawazim (alat
    yang menjazmkan fi’il mudhari’)
    sebagaimana pendapat Ahlu
    Kufah. Adapun ahlu Bashrah
    menolak kaifama sebagai
    jawazim.

  4. Ibnu Ajurum menyatakan
    bahwa di antara tanda isim
    adalah menerima alif dan lam
    ( الأليف واللام ). Ini adalah
    pendapat ulama nahwu Kufah.
    Adapun ahlu Bashrah
    menggunakan istilah “al” (ال).

  5. Beliau menyebutkan istilah
    asmaul khomsah ( الأسماء
    الخمسة) yang terdiri dari
    ذو مال, فوك, حموك أخوك ,أبوك
    Adapun ahli nahwu Bashrah
    menyebutnya dengan ( الأسماء
    الستة) dengan menambahkan
    هنوك

Ini sebagian bukti yang
menunjukkan bahwa Ibnu
Ajurum menganut madzhab
Kufah.
Beberapa Syarah (Penjelasan)
terhadap Kitab Al Ajurumiyah
Ada banyak ulama yang
mensyarah Kitab Al Ajurumiyah
baik dari kalangan ulama
terdahulu maupun ulama di
masa kita. Di antara ulama
terdahulu adalah Abu Abdillah
Muhammad bin Muhammad Al
Maliki yang dikenal dengan Ar
Ra ’i (wafat 853 H). Beliau menulis
syarah beliau yang berjudul
( المستقل بالمفهوم في شرح
ألفاظ الللآجرمية )
Adapun syarah yang ditulis oleh
ulama muta ’akhirin (ulama di
masa belakangan ini) antara lain:

1. ( التحفة السانية بشرح
المقدمة الآجرمية ) karya
Muhammad Muhyiddin Abdul
Hamid

2. ( شرح المقدمة الآجرمي )
karya Asy Syaikh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin.

Wallahu a’lam bisshawwab


Sumber:
- Dars Al Ajurumiyah bersama Al
Ustadz Agus Suaidi hafizhahullah

- At Ta’liqaat Al Jaliiyah ‘ala
Syarh Muqaddimah Al
Ajurumiyah, Abu Anas Asyraf bin
Yusuf bin Hasan, Darul Aqidah,
Kairo.

Ditulis oleh Abu Umar Al
Bankawy di Sidayu, Gresik.

ulamasunnah.wordpress.com/2009/11/30/biografi-al-imam-ibnu-ajurum-penulis-matan-al-ajurumiyah/#more-1191

Read more..

Biogrgfi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Bani

Beliau adalah
Pembaharu Islam
(mujadid) pada abad
ini. Karya dan jasa-jasa
beliau cukup banyak
dan sangat membantu
umat Islam terutama
dalam menghidupkan
kembali ilmu Hadits.
Beliau telah
memurnikan Ajaran
islam terutama dari
hadits-hadits lemah
dan palsu, meneliti
derajat hadits.

Nasab (Silsilah Beliau)
Nama beliau adalah
Abu Abdirrahman
Muhammad
Nashiruddin bin Nuh
al-Albani. Dilahirkan
pada tahun 1333 H di
kota Ashqodar ibu
kota Albania yang
lampau. Beliau
dibesarkan di tengah
keluarga yang tak
berpunya, lantaran
kecintaan terhadap
ilmu dan ahli ilmu.
Ayah al Albani yaitu Al
Haj Nuh adalah
lulusan lembaga
pendidikan ilmu-ilmu
syari`at di ibukota
negara dinasti
Utsmaniyah (kini
Istambul), yang ketika
Raja Ahmad Zagho
naik tahta di Albania
dan mengubah sistem
pemerintahan menjadi
pemerintah sekuler,
maka Syeikh Nuh amat
mengkhawatirkan
dirinya dan diri
keluarganya. Akhirnya
beliau memutuskan
untuk berhijrah ke
Syam dalam rangka
menyelamatkan
agamanya dan karena
takut terkena fitnah.
Beliau sekeluargapun
menuju Damaskus.
Setiba di Damaskus,
Syeikh al-Albani kecil
mulai aktif mempelajari
bahasa arab. Beliau
masuk sekolah pada
madrasah yang
dikelola oleh Jum`iyah
al-Is`af al-Khairiyah.
Beliau terus belajar di
sekolah tersebut
tersebut hingga kelas
terakhir tingkat
Ibtida`iyah.
Selanjutnya beliau
meneruskan belajarnya
langsung kepada para
Syeikh. Beliau
mempelajari al-Qur`an
dari ayahnya sampai
selesai, disamping itu
mempelajari pula
sebagian fiqih madzab
Hanafi dari ayahnya.
Syeikh al-Albani juga
mempelajari
keterampilan
memperbaiki jam dari
ayahnya sampai mahir
betul, sehingga beliau
menjadi seorang ahli
yang mahsyur.
Ketrampilan ini
kemudian menjadi
salah satu mata
pencahariannya.
Pada umur 20 tahun,
pemuda al-Albani ini
mulai mengkonsentrasi
diri pada ilmu hadits
lantaran terkesan
dengan pembahasan-
pembahsan yang ada
dalam majalah al-
Manar, sebuah
majalah yang
diterbitkan oleh Syeikh
Muhammad Rasyid
Ridha. Kegiatan
pertama di bidang ini
ialah menyalin sebuah
kitab berjudul al-
Mughni `an Hamli al-
Asfar fi Takhrij ma fi al-
Ishabah min al-Akhbar.
Sebuah kitab karya al-
Iraqi, berupa takhrij
terhadap hadits-hadits
yang terdapat pada
Ihya` Ulumuddin al-
Ghazali. Kegiatan
Syeikh al-Albani dalam
bidang hadits ini
ditentang oleh ayahnya
seraya berkomentar.
Sesungguhnya ilmu
hadits adalah
pekerjaan orang-orang
pailit (bangkrut).
Namun Syeikh al-
Albani justru semakin
cinta terhadap dunia
hadits. Pada
perkembangan
berikutnya, Syeikh al-
Albani tidak memiliki
cukup uang untuk
membeli kitab-kitab.
Karenanya, beliau
memanfaatkan
Perpustakaan adh-
Dhahiriyah di sana
(Damaskus). Di
samping juga
meminjam buku-buku
dari beberapa
perpustakaan khusus.
Begitulah, hadits
menjadi kesibukan
rutinnya, sampai-
sampai beliau menutup
kios reparasi jamnya.
Beliau lebih betah
berlama-lama dalam
perpustakaan adh-
Dhahiriyah, sehingga
setiap harinya
mencapai 12 jam. Tidak
pernah istirahat
mentelaah kitab-kitab
hadits, kecuali jika
waktu sholat tiba.
Untuk makannya,
seringkali hanya sedikit
makanan yang
dibawanya ke
perpustakaan.
Akhirnya kepala kantor
perpustakaan
memberikan sebuah
ruangan khusus di
perpustakaan untuk
beliau. Bahkan
kemudiaan beliau
diberi wewenang untuk
membawa kunci
perpustakaan. Dengan
demikian, beliau
menjadi leluasa dan
terbiasa datang
sebelum yang lainnya
datang. Begitu pula
pulangnya ketika
orang lain pulang pada
waktu dhuhur, beliau
justru pulang setelah
sholat isya. Hal ini
dijalaninya sampai
bertahun-tahun.

Pengalaman Penjara
Syeikh al-Albani
pernah dipenjara dua
kali. Kali pertama
selama satu bulan dan
kali kedua selama
enam bulan. Itu tidak
lain karena gigihnya
beliau berdakwah
kepada sunnah dan
memerangi bid`ah
sehingga orang-orang
yang dengki
kepadanya
menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang
Pernah Diemban
Syeikh al-Albani Beliau
pernah mengajar di
Jami`ah Islamiyah
(Universitas Islam
Madinah) selama tiga
tahun, sejak tahun
1381-1383 H, mengajar
tentang hadits dan
ilmu-ilmu hadits.
Setelah itu beliau
pindah ke Yordania.
Pada tahun 1388 H,
Departemen
Pendidikan meminta
kepada Syeikh al-
Albani untuk menjadi
ketua jurusan Dirasah
Islamiyah pada
Fakultas Pasca Sarjana
di sebuah Perguruan
Tinggi di kerajaan
Yordania. Tetapi situasi
dan kondisi saat itu
tidak memungkinkan
beliau memenuhi
permintaan itu. Pada
tahun 1395 H hingga
1398 H beliau kembali
ke Madinah untuk
bertugas sebagai
anggota Majelis Tinggi
Jam`iyah Islamiyah di
sana. Mandapat
penghargaan tertinggi
dari kerajaan Saudi
Arabia berupa King
Faisal Fundation
tanggal 14 Dzulkaidah
1419 H.

Beberapa Karya Beliau
Karya-karya beliau
amat banyak,
diantaranya ada yang
sudah dicetak, ada
yang masih berupa
manuskrip dan ada
yang mafqud (hilang),
semua berjumlah 218
judul. Beberapa
Contoh Karya Beliau
yang terkenal adalah :
1. Adabuz-Zifaf fi As-
Sunnah al-
Muthahharah
2. Al-Ajwibah an-
Nafi`ah `ala as`ilah
masjid al-Jami`ah
3. Silisilah al-Ahadits
ash Shahihah
4. Silisilah al-Ahadits
adh-Dha`ifah wal
maudhu`ah
5. At-Tawasul wa
anwa`uhu
6. Ahkam Al-Jana`iz
wabida`uha
Di samping itu, beliau
juga memiliki kaset
ceramah, kaset-kaset
bantahan terhadap
berbagai pemikiran
sesat dan kaset-kaset
berisi jawaban-jawaban
tentang pelbagai
masalah yang
bermanfaat.
Selanjutnya Syeikh al-
Albani berwasiat agar
perpustakaan
pribadinya, baik
berupa buku-buku
yang sudah dicetak,
buku-buku foto
copyan, manuskrip-
manuskrip (yang ditulis
oleh beliau sendiri
ataupun orang lain)
semuanya diserahkan
ke perpustakaan
Jami`ah tersebut
dalam kaitannya
dengan dakwah
menuju al-Kitab was
Sunnah, sesuai dengan
manhaj salafush Shalih
(sahabat nabi
radhiyallahu anhum),
pada saat beliau
menjadi pengajar
disana.


Wafatnya
Beliau wafat pada hari
Jum`at malam Sabtu
tanggal 21 Jumada
Tsaniyah 1420 H atau
bertepatan dengan
tanggal 1 Oktober
1999 di Yoradania.
Rahimallah asy-Syaikh
al-Albani rahmatan
wasi`ah wa
jazahullahu`an al-
Islam wal muslimiina
khaira wa adkhalahu fi
an-Na`im al-Muqim.


Sumber: http://
ahlulhadist.wordpress.com//?
p=11

http://ulamasunnah.wordpress.com

Read more..