Banner 468 X 60

Tampilkan postingan dengan label Hadits lemah dan palsu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits lemah dan palsu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

Bertaqwa Di Masa Tua

Bertaqwa kepada Allah bukan
hanya di masa tua, bahkan juga
harus di masa muda. Namun
tentunya ketaqwaan lebih
ditingkatkan lagi di masa tua
berdasarkan hadits-hadits
shohih !! Bukan berdasarkan
hadits palsu ini:

إِذَا أَتَى عَلَى الْعَبْدِ
أَرْبَعُوْنَ سَنَةً يَجِبُ
عَلَيْهِ أَنْ يَخَافَ اللهَ
تَعَالَى وَيَحْذَرَهُ

"Jika telah datang (lewat) 40
tahun pada diri seorang hamba,
maka wajib baginya untuk takut
dan khawatir kepada Allah -
Ta’ala- ". [HR. Ad-Dailamiy
dalam Al-Firdaus (1/89)]

Hadits ini palsu, karena ada rowi
dalam sanadnya yang bernama
Ahmad bin Nashr bin Abdillah
yang dikenal dengan Adz-Dari’.
Dia adalah seorang pemalsu
hadits, pendusta, dan dajjal.
Karenanya, Al-Albaniy Al-Atsariy
menyatakannya palsu dalam
Adh-Dho’ifah (2200)


Sumber : Hadits Dhoif Buletin
Jum’at Al-Atsariyyah edisi 63
Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu
Abbas. Alamat : Pesantren
Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne
No. 58, Kel. Borong Loe, Kec.
Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.
HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu
Fa’izah)

www.almakassari.com/artikel-islam/hadits/bertaqwa-di-masa-tua.html
Read more..

Menuntut Ilmu Di Masa Muda

Keutamaan menuntut ilmu
sangat banyak disebutkan dalam
ayat-ayat maupun hadits-hadits
shahih. Bahkan sampai di dalam
hadits yang dho’if dan palsu,
seperti berikut,

أَيُّمَا نَاشِئٍ نَشَأَ فِيْ
طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ
حَتَّى يَكْبُرَ وَهُوَ عَلَى
ذَلِكَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ ثَوَابَ اثْنَيْنِ
وَسَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا

"Anak muda mana pun yang
tumbuh dalam menuntut ilmu,
dan ibadah sampai ia menjadi
tua, sedangkan dia masih tetap
di atas hal itu, maka Allah akan
memberikannya pada hari
kiamat pahala 72 orang
shiddiqin". [HR.Tamam Ar-Raziy
dalam Al-Fawaid (2428), Ibnu
Abdil Barr dalam Jami' Al-Ilm
(1/82)].

Namun hadits ini derajatnya
adalah dho’if jiddan (lemah
sekali), bahkan boleh jadi hadits
ini palsu, karena di dalamnya
ada rawi yang bernama Yusuf
bin Athiyyah. Dia adalah seorang
yang mungkarul hadits. Bahkan
An-Nasa’iy menilainya matruk
(ditinggalkan karena biasa
berdusta atas nama manusia).
Karenanya Syaikh Al-Albaniy
menghukumi hadits ini dho’if
jiddan dalam Adh-Dho’ifah
(700).


Sumber : Buletin Jum’at Al-
Atsariyyah edisi 45 Tahun I.
Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.
Alamat : Pesantren Tanwirus
Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58,
Kel. Borong Loe, Kec. Bonto
Marannu, Gowa-Sulsel. HP :
08124173512 (a/n Ust. Abu
Fa’izah). Pimpinan Redaksi/
Penanggung Jawab : Ust. Abu
Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary,

www.almakassari.com/artikel-islam/hadits/menuntut-ilmu-di-masa-muda.html
Read more..

Sabtu, 14 Agustus 2010

Pemerintah Dan Ulama

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا
صَلَحَا, صَلَحَ سَائِرُ
النَّاسِ: الأُمَرَاءُ وَالْعُلَمَاءُ


“Ada dua golongan dari umatku,
kalau keduanya baik maka akan
baiklah seluruh manusia: Para
pemerintah dan para ulama.”

As-Syaikh Nashir Al-Albani -
rahimahullah- berkata dalam
Adh-Dhaifah (1/70/no. 16):
Hadits ini diriwayatkan oleh
Tammam dalam Al-Fawaid
(1/238), Abu Nuaim dalam Al-
Hilyah (4/96) dan Ibnu Abdil Barr
dalam Jami ’ Bayan Al-Ilmi (1/184)
dari jalann Muhammad bin Ziyad
Al-Yasykuri dari Maimun bin
Mihran dari Ibnu Abbas secara
marfu’.
Ini adalah sanad yang palsu.
Ahmad berkomentar tentang
Muhammad bin Ziyad ini,
“Seorang pendusta yang rusak
matanya, dia membuat hadits-
hadits palsu.” Ibnu Main dan Ad-
Daraquthni berkata, “Seorang
pendusta,” dan Abu Zur’ah serta
selainnya juga menghukumi dia
sebagai pendusta.
Hadits ini termasuk dari hadits-
hadits yang dibawakan oleh As-
Suyuthi dalam Al-Jami’ padahal
hadits ini bertentangan dengan
pensyaratannya dalam kitab itu.
Al-Ghazali juga membawakan
hadits ini dalam Al-Ihya` (1/6)
dengan memastikan
penisbatannya kepada Nabi -
shallallahu alaihi wasallam-. Dan
Al-Hafizh Al-Iraqi -pentakhrij
kitabnya- berkata -setelah
menisbatkan periwayatan hadits
ini kepada Ibnu Abdil Barr dan
Abu Nuaim-, “Sanadnya lemah.”


www.al-atsariyyah.com/wp-content/themes/atsary-sky/images/bg_main_withnav.jpg
Read more..

Boleh Menghadap Kiblat Ketika Buang Air Di WC

Dari Marwan Al Ashfar dia
berkata:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ
رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ
الْقِبْلَةِ ثُمَّ جَلَسَ
يَبُولُ إِلَيْهَا فَقُلْتُ يَا
أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ
قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا قَالَ
بَلَى إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ
فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ
بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ
شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا
بَأْسَ

“Saya pernah melihat Ibnu Umar
menderumkan untanya
menghadap kiblat, lalu dia
duduk dan buang air kecil dalam
keadaan menghadapnya. Lalu
saya bertanya, “Wahai Abu
Abdirrahman, bukankah hal ini
telah dilarang?” Dia menjawab,
“Benar, akan tetapi hal itu
dilarang jika dilakukan di tempat
terbuka, tapi apabila antara
dirimu dan kiblat ada sesuatu
yang menutupimu, maka itu
tidaklah mengapa.”

Takhrij:
Atsar ini diriwayatkan oleh Abu
Daud no. 114, Ibnu Al-Jarud no.
32, Ibnu Khuzaimah no. 60, Ad-
Daraquthni (1/58), Al-Hakim no.
551, dan Al-Baihaqi (1/92).
Semuanya dari jalan Shafwan bin
Isa dari Al-Hasan bin Dzakwan
dari Marwan Al-Ashfar dari Ibnu
Umar.
Sebab lemahnya atsar ini adalah
Al-Hasan bin Dzakwan, berikut
komentar para ulama
tentangnya:

Yahya bin Main berkata, “Al-
Hasan bin Dzakwan, dhaif.”
Abu Hatim Ar-Razi berkata,
“Hasan bin Dzakwan, dhaiful
hadits, tidak kuat.”

Ali bin Al-Madini berkata tentang
gurunya (Yahya Al-Qaththan),
“Yahya bin Said meriwayatkan
hadits dari Al-Hasan bin
Dzakwan, walaupun dia adalah
rawi yang dhaif menurutnya.”
Ahmad berkata, “Hadits-haditsna
batil.”

An-Nasai berkata, “Tidak kuat.”

Al-Hafizh berkata dalam At-
Taqrib, “Jujur tapi banyak
bersalah, dituduh
berpemahaman Qadariah, dan
dia juga seorang mudallis.”

Maka nampak dari keterangan
ini bahwa atsar ini lemah dari
dua sisi:

1. Al-Hasan bin Dzakwan
adalah rawi yang lemah.

2. Dia juga seorang mudallis,
dan dalam sanad ini dia
meriwayatkan dengan lafazh ‘an
(dari) yang menunjukkan dia
tidak pasti mendengar hadits ini
dari gurunya. Dan seorang
mudallis jika meriwayatkan
dengan lafazh yang tidak pasti
dia mendengar atau tidak maka
haditsnya tertolak.


www.al-atsariyyah.com/wp-content/themes/atsary-sky/images/bg_main_withnav.jpg
Read more..

Minggu, 01 Agustus 2010

Beramalah Untuk Duniamu Seakan Hidup Selamanya

إعمل لدنياك كأنك تعيش أبداواعمل لاخرتك كانك تموت غدا

Beramalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok.

Sekalipun riwayat diatas sangat masyhur dan hampir setiap orang mengutipnya, tetapi sanadnya tidak ada yang marfu'(sampai pada Rasulullah). Bahkan Syaikh Abdul Karim Al Amri tidak mencantumkannya dalam kitabnya Al jaddul Hatsits fi bayani ma laysa bi hadits.
Namu, saya(Syaikh Albani) telah mendapatkan sumbernya dengan sanad yang mauquf(sampai pada sahabat) yaitu diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitab Gharibul Hadits I/46, dengan matan ihrits lidunyaaka.... dan seterusnya.
Juga saya dapatkan dalam riwayat Ibnu Mubarak pada kitab Az Zuhud II/28 dengan sanad lain yang juga mauquf dan munqathi(terputus/tidak bersambung).

Ringkasnya, riwayat hadits tersebut dha'if karena adanya dua penyakit dalam sanadnya. Pertama, majhulnya(tak dikenalnya/asing) maula(budak/pengikut) Umar bin Abdul Aziz sebagai salah satu perawi sanadnya. Kedua, dha'ifnya pencatat bagi laits yang bernama Abdullah bin Shaleh, yang juga merupakan perawi sanad dalam riwayat ini.


Sumber: Terjemah Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu jld 1 Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
Read more..

Minggu, 04 Juli 2010

Tidak Ada Al Mahdi Kecuali Isa 'Alaihissalam

لا مهد ي إلا عيسى

Tidak ada Al Mahdi kecuali Isa alaihissalam.

Hadits ini mungkar. Ia telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah II/495, juga oleh Al Hakim IV/441, Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya jami' al ilmi I/155, dari sanad Muhammad bin Khalid al jundi, dari Ibnu Aban bin Shaleh, dari Al Hasan dari Anas.
Sanad ini sangat lemah,kelemahannya terletak pada tiga hal,yaitu:
  1. An'anah(maksudnya yang sanadnya dengan menggunakan kata 'an fulan,'an fulan dan seterusnya). Hasan Basri,terbukti telah dengan sengaja pernah mencampur aduk riwayat.
  2. Kemajhulan perawi Muhammad bin Khalid seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya at taqrib.
  3. Perselisihan dan perbedaan sanadnya. Al Baihaqi berkata, Al Hafizh Abu Abdullah menyatakan bahwa Muhammad bin Khalid adalah majhul,tidak di kenal di kalangan pakar hadits.

Adz Dzahabi berkata, riwayat ini munkar sambil mengutarakan hadits serupa dengan sanad dari Ibnu Abi Ayyasyi dari Hasan secara mursal(terhenti sanadnya sampai kepada tabiin atau sahabat).
Ringkasnya,hadits-hadits yang menyatakan akan munculnya al Mahdi di akhir jaman nanti adalah shahih. Di riwayatkan oleh seluruh ashabus sunan dan shahihain.
Hadits dha'if yang oleh ash Shaghani dan asy Syaukani bahkan dinyatakan maudhu' ini adalah riwayat yang dijadikan landasan dalil bagi firqah Ahmadiyah dalam usahanya menguatkan anggapan mereka(para pengikutnya)bahwa Mirza ghulam ahmad adalah nabi. Kemudian ia mendakwa sebagai Isa atas dasar hadits tersebut tadi.
Dakwaan Mirza ini telah banyak menggoyahkan iman kaum dhuafa yang pengetahuan agamanya sangat minim. Dan seperti biasa,para penyeru yang batil selalu hanya di ikuti oleh orang-orang yang lemah imannya dan sangat minim pengetahuan agamanya.
Wallahul musta'an.


Sumber: Silsilah Hadits Dha'if Dan Maudhu jilid 1 Muhammad Nashiruddin Albani
Gema insani press cet 2 1998

Read more..

Jumat, 02 Juli 2010

Perselisihan Umatku Adalah Rahmat

Sudah menjadi takdir Allah -Azza
wa Jalla-, adanya perpecahan di
dalam Islam dan memang hal
tersebut telah disampaikan oleh
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- . Di negara kita
sendiri, sekte-sekte dan aliran
sesat yang menyandarkan diri
kepada Islam sudah terlalu
banyak. Apabila kita
memperingatkan dan
membantah kesesatan aliran-
aliran tersebut, maka sebagian
kaum muslimin membela aliran-
aliran tersebut. Mereka berdalil
dengan hadits berikut,

إِخْتِلَافُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

Padahal hadits ini dho’if (palsu),
bahkan tidak ditemukan dalam
kitab-kitab hadits. Syaikh Al-
Albaniy -rahimahullah- berkata,
"Hadits ini tak ada asalnya. Para
ahli hadits telah mengerahkan
tenaga untuk mendapatkan
sanadnya, namun tak mampu".

Dari segi makna,
hadits juga batil. Ibnu Hazm -
rahimahullah- dalam Al-Ihkam
(5/64) berkata, "Ini merupakan
ucapan yang paling batil, karena
andaikan ikhtilaf (perselisihan)itu
rahmat, maka kesepakatan(persatuan)
adalah kemurkaan. Karena,
disana tak ada sesuatu, kecuali
kesepakatan, dan perselihan; tak
ada, kecuali rahmat atau
kemurkaan".


Sumber : Buletin Jum’at Al-
Atsariyyah edisi 18 Tahun I.
Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.
www.almakassari.com/artikel-islam/aqidah/perselisihan-umatku-adalah-rahmat.html#more-132
Read more..

Kisah Harut Dan Marut

Hadits palsu, dan
berita isra’iliyyat
banyak "menghiasi"
kitab-kitab tafsir.
Ambil saja sebagai
contoh, hadits
tentang Harut, dan Marut. Oleh
karenanya, saat membaca
sebagian kitab-kitab tafsir,
seorang harus pandai memilah,
dan memilih hadits, jangan
sampai memilih hadits palsu,
atau berita Isra’iliyyat yang
diadopsi dari Taurat, dan Injil,
atau dari ucapan para pendeta
dan mantan pendeta yang
masuk ke dalam Islam, seperti
hadits berikut:

"Sesungguhnya Adam ketika ia
diturunkan oleh Allah ke bumi,
para malaikat berkata, "Wahai
Robb-ku, apakah Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau?" Allah
berfirman: "Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui." Mereka berkata,
"Wahai Rabb kami, kami lebih
taat kepadamu dari pada bani
adam". Allah berkata kepada
para malaikat, "Datangkan
kepadaku dua malaikat dari
malaikat-malaikat yang ada
sehingga keduanya diturunkan
ke bumi dan kita lihat bagaimana
keduanya berbuat?". Para
malaikat berkata, "Wahai Rabb
kami, turunkanlah Harut dan
Marut". Kemudian keduanya
pun diturunkan ke bumi, dan
dinampakkanlah hiasan dunia
kepada mereka berdua dalam
bentuk seorang wanita yang
paling cantik. Wanita itu pun
datang kepada mereka berdua
dan kedua malaikat itu meminta
diri wanita tersebut. Sang wanita
berkata, "Tidak !! Demi Allah,
sampai kalian berdua
mengucapkan kalimat syirik ini.
Keduanya berkata, "Demi Allah,
kami tidak akan berbuat syirik
kepada Allah. Wanita itu pun
meninggalkan mereka berdua.
Kemudian wanita itu kembali
dengan membawa seorang bayi,
maka kedua malaikat itu kembali
meminta diri sang wanita. Sang
wanita berkata, "Tidak!! Demi
Allah, sampai kalian membunuh
bayi ini. Kedua malaikat itu
berkata, "Demi Allah, kami tidak
akan membunuhnya selamanya".
Maka sang wanita pergi.
Kemudian ia kembali lagi
membawa segelas khamer.
Kedua malaikat kembali meminta
diri sang wanita. Maka sang
wanita berkata, "Tidak!! Demi
Allah, sampai kalian minum
khamer ini". Akhirnya, keduanya
pun meminum khamer tersebut,
lalu keduanya mabuk sehingga
keduanya menyetubuhi sang
wanita itu, dan membunuh bayi.
Tatkala keduanya sadar, sang
wanita berkata, "Demi Allah,
tidak satu pun yang kalian
tinggalkan dari apa yang kalian
abaikan di hadapanku, kecuali
telah kalian lakukan ketika kalian
mabuk. Keduanya pun
diperintahkan untuk memilih
siksa dunia atau siksa akhirat.
Maka keduanya memilih siksa
dunia". [HR. Ahmad dalam Al-
Musnad (2/134/no. 6178), Ibnu
Hibban dalam Shohih-nya
(6186), Ibnu Abid Dunya dalam
Al-Uqubat (222), Abd bin
Humaid dalam Al-Muntakhob
(787), dan lainnya]

Hadits ini adalah hadits yang batil,
bukan sabda Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam-, karena dalam
sanadnya terdapat rawi yang
bernama Zuhair bin
Muhammad At-Tamimiy Al-
Marwaziy; ia tsiqoh, tapi biasa
meriwayatkan hadits yang
munkar, seperti hadits Harut,
dan Marut ini. Selain itu,
gurunya yang bernama Musa
bin Jubair; ia adalah seorang
yang mastur (tak dikenal
kedudukannya). Intinya, hadits
ini batil baik sanad, maupun
redaksinya, dan hadits ini adalah
berita isra’iliyyat yang terambil
dari Ka’ab Al-Ahbar
sebagaimana yang dijelaskan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam
Adh-Dho’ifah (170).


Sumber : Rubrik Hadits Lemah
Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 75
Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu
Abbas. Alamat : Pesantren
Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne
No. 58, Kel. Borong Loe, Kec.
Bonto Marannu, Gowa-Sulsel
www.almakassari.com/artikel-islam/hadits/kisah-harut-dan-marut.html#more-685
Read more..