Banner 468 X 60

Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2010

Kisah Orang-orang Yang Terkurung Di Dalam Gua

Oleh:Ustadz Abu Muhammad Harist

Peristiwa ini terjadi pada zaman
Bani Israil, jauh sebelum
diutusnya Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam. Beliau
mengisahkannya kepada kita
berdasarkan wahyu dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

بَيْنَمَا ثَلاَثَةُ نَفَرٍ
يَتَمَشَّوْنَ أَخَذَهُمُ
الْمَطَرُ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ
فِي جَبَلٍ فَانْحَطَّتْ
عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ
مِنَ الْجَبَلِ فَانْطَبَقَتْ
عَلَيْهِمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ: انْظُرُوا أَعْمَالاً
عَمِلْتُمُوهَا صَالِحَةً لِلهِ
فَادْعُوا اللهَ تَعَالَى بِهَا،
لَعَلَّ اللهَ يَفْرُجُهَا
عَنْكُمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ:
اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي
وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ
وَامْرَأَتِي وَلِي صِبْيَةٌ
صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا
أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ حَلَبْتُ
فَبَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ
فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ
بَنِيَّ، وَأَنَّهُ نَأَى بِي
ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ
آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ
فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَا
فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ
أَحْلُبُ فَجِئْتُ
بِالْحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ
رُءُوسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ
أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا
وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِيَ
الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا،
وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ
عِنْدَ قَدَمَيَّ، فَلَمْ يَزَلْ
ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ
حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ، فَإِنْ
كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي
فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ
وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا
فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ.
فَفَرَجَ اللهُ مِنْهَا فُرْجَةً
فَرَأَوْا مِنْهَا السَّمَاءَ،
وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ
كَانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمٍّ
أَحْبَبْتُهَا كَأَشَدِّ مَا
يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ
وَطَلَبْتُ إِلَيْهَا نَفْسَهَا
فَأَبَتْ حَتَّى آتِيَهَا
بِمِائَةِ دِينَارٍ فَتَعِبْتُ
حَتَّى جَمَعْتُ مِائَةَ دِينَارٍ
فَجِئْتُهَا بِهَا فَلَمَّا
وَقَعْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا
قَالَتْ: يَا عَبْدَ اللهِ، اتَّقِ
اللهَ وَلاَ تَفْتَحِ الْخَاتَمَ
إِلاَ بِحَقِّهِ. فَقُمْتُ
عَنْهَا، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ
أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ
ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ
لَنَا مِنْهَا فُرْجَةً. فَفَرَجَ
لَهُمْ، وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ
إِنِّي كُنْتُ اسْتَأْجَرْتُ
أَجِيرًا بِفَرَقِ أَرُزٍّ فَلَمَّا
قَضَى عَمَلَهُ قَالَ: أَعْطِنِي
حَقِّي فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ
فَرَقَهُ فَرَغِبَ عَنْهُ،
فَلَمْ أَزَلْ أَزْرَعُهُ حَتَّى
جَمَعْتُ مِنْهُ بَقَرًا
وَرِعَاءَهَا، فَجَاءَنِي فَقَالَ:
اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَظْلِمْنِي
حَقِّي. قُلْتُ: اذْهَبْ إِلَى
تِلْكَ الْبَقَرِ وَرِعَائِهَا
فَخُذْهَا. فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ
وَلاَ تَسْتَهْزِئْ بِي.
فَقُلْتُ: إِنِّي لاَ
أَسْتَهْزِئُ بِكَ، خُذْ ذَلِكَ
الْبَقَرَ وَرِعَاءَهَا. فَأَخَذَهُ
فَذَهَبَ بِهِ، فَإِنْ كُنْتَ
تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ
ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ
فَافْرُجْ لَنَا مَا بَقِيَ.
فَفَرَجَ اللهُ مَا بَقِيَ

Ketika ada tiga orang sedang
berjalan, mereka ditimpa oleh
hujan. Lalu mereka pun
berlindung ke dalam sebuah gua
di sebuah gunung. Tiba-tiba
jatuhlah sebuah batu besar dari
gunung itu lalu menutupi mulut
gua mereka. Lalu sebagian
mereka berkata kepada yang
lain: “Perhatikan amalan shalih
yang pernah kamu kerjakan
karena Allah, lalu berdoalah
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan amalan itu.
Mudah-mudahan Allah
menyingkirkan batu itu dari
kalian.”
Lalu berkatalah salah seorang
dari mereka: “Ya Allah,
sesungguhnya aku mempunyai
dua ibu bapak yang sudah tua
renta, seorang istri, dan anak-
anak yang masih kecil, di mana
aku menggembalakan ternak
untuk mereka. Kalau aku
membawa ternak itu pulang ke
kandangnya, aku perahkan susu
dan aku mulai dengan kedua ibu
bapakku, lantas aku beri minum
mereka sebelum anak-anakku.
Suatu hari, ternak itu
membawaku jauh mencari
tempat gembalaan. Akhirnya aku
tidak pulang kecuali setelah sore,
dan aku dapati ibu bapakku
telah tertidur. Aku pun memerah
susu sebagaimana biasa, lalu aku
datang membawa susu tersebut
dan berdiri di dekat kepala
mereka, dalam keadaan tidak
suka membangunkan mereka
dari tidur. Aku pun tidak suka
memberi minum anak-anakku
sebelum mereka (kedua
orangtuanya, red.) meminumnya.
Anak-anakku sendiri menangis di
bawah kakiku meminta minum
karena lapar. Seperti itulah
keadaanku dan mereka, hingga
terbit fajar. Maka kalau Engkau
tahu, aku melakukan hal itu
karena mengharapkan wajah-
Mu, bukakanlah satu celah
untuk kami dari batu ini agar
kami melihat langit.”
Lalu Allah bukakan satu celah
hingga mereka pun melihat
langit.
Yang kedua berkata:
“Sesungguhnya aku punya
sepupu wanita yang aku cintai,
sebagaimana layaknya cinta
seorang laki-laki kepada seorang
wanita. Aku minta dirinya
(melayaniku), tapi dia menolak
sampai aku datang kepadanya
(menawarkan) seratus dinar. Aku
pun semakin payah, akhirnya
aku kumpulkan seratus dinar,
lalu menyerahkannya kepada
gadis itu. Setelah aku berada di
antara kedua kakinya, dia
berkata: ‘Wahai hamba Allah.
Bertakwalah kepada Allah.
Jangan engkau buka tutup
(kiasan untuk keperawanannya)
kecuali dengan haknya.’ Maka
aku pun berdiri
meninggalkannya. Kalau Engkau
tahu, aku melakukannya adalah
karena mengharap wajah-Mu,
maka bukakanlah untuk kami
satu celah dari batu ini.”
Maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun membuka satu celah
untuk mereka.
Laki-laki ketiga berkata: “Ya
Allah, sungguh, aku pernah
mengambil sewa seorang buruh,
dengan upah satu faraq1 beras.
Setelah dia menyelesaikan
pekerjaannya, dia berkata:
‘Berikan hakku.’ Lalu aku
serahkan kepadanya beras
tersebut, tapi dia tidak
menyukainya. Akhirnya aku pun
tetap menanamnya hingga aku
kumpulkan dari hasil beras itu
seekor sapi dan
penggembalanya. Kemudian dia
datang kepadaku dan berkata:
‘Bertakwalah kepada Allah, dan
jangan zalimi aku dalam urusan
hakku.’
Aku pun berkata: ‘Pergilah,
ambil sapi dan penggembalanya.’
Dia berkata: ‘Bertakwalah
kepada Allah dan jangan
mempermainkan saya.’ Aku pun
berkata: ‘Ambillah sapi dan
penggembalanya itu.’ Akhirnya
dia pun membawa sapi dan
penggembalanya lalu pergi.
Kalau Engkau tahu bahwa aku
melakukannya karena
mengharap wajah-Mu, maka
bukakanlah untuk kami apa
yang tersisa.”
Maka Allah pun membukakan
untuk mereka sisa celah yang
menutupi.

Itulah kisah yang diceritakan
oleh beliau Shalallahu ‘alaihi wa
sallam. Sebuah kisah yang di
dalamnya sarat dengan pelajaran
yang sangat berharga. Dalam
kisah ini terkandung dalil tentang
tawassul (perantara) yang
dibolehkan, yaitu dengan amal
shalih yang pernah dikerjakan.
Orang pertama bertawassul
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan baktinya kepada
kedua orangtuanya. Dia seorang
penggembala, dan makanan
pokoknya tergantung kepada
susu ternaknya. Kebiasaan orang
ini adalah memerah susu itu
sesudah dia pulang dan mulai
memberi minum kepada kedua
orangtuanya sebelum anak dan
istrinya.
Inilah salah satu bentuk bakti
kepada ibu dan bapak.
Betapa banyak di antara manusia
saat ini yang berbakti kepada
orangtua sesuai keridhaan anak
dan istrinya. Mereka
mendahulukan anak dan istrinya,
kemudian baru berbakti kepada
ibu bapak mereka. Yang lebih
menyedihkan lagi, sebagian
mereka lebih suka menitipkan
ibu bapaknya di panti-panti
jompo.
Tidak takutkah mereka dengan
peringatan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sebuah
hadits, ketika beliau naik ke atas
mimbar sambil mengucapkan
amin, setiap kali menapakkan
kaki di atas mimbarnya? Para
sahabat yang begitu antusias
dengan kebaikan, bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Apa yang
anda aminkan, wahai
Rasulullah?”
Beliau berkata: “Jibril datang
kepadaku lalu berkata –di
antaranya–:

رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ
وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ
يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ، قُلْتُ
آمِيْن

‘Alangkah celakanya seseorang
yang mendapati kedua
orangtuanya atau salah satunya,
namun keduanya tidak
menyebabkan dia masuk ke
dalam jannah.’ Aku pun berkata:
‘Amiin’.”2
Adapun kebiasaan si
penggembala ini, dia menjauh
untuk mencari ladang
gembalaan ternaknya, dan tidak
kembali kecuali sesudah malam
agak larut. Dia pun memerahkan
susu untuk ibu bapaknya yang
ternyata telah tertidur. Dia tidak
suka membangunkan mereka
dan tidak mau memberikan susu
itu untuk anaknya. Akhirnya dia
pun berjaga sepanjang malam itu
dengan susu itu masih di
tangannya, sedangkan anaknya
menangis di bawah kakinya.
Sungguh, hanya Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang tahu
betapa sulitnya keadaan si
penggembala malam itu. Jauh-
jauh dia menggembalakan
kambing, lalu bergegas pulang
dan belum sempat makan
malam, sementara anaknya
menangis di bawah kakinya.
Gambaran yang sangat agung
yang ditunjukkan oleh iman,
hingga membawanya sampai
pada tingkatan demikian tinggi
karena baktinya kepada ibu
bapaknya dan semangatnya
melakukan hal itu, sehingga
menjadi salah satu sebab Allah
Subhanahu wa Ta’ala membuka
sedikit celah yang menutupi gua
itu.
Ini adalah peringatan bagi umat
ini, sekaligus anjuran agar
berbakti kepada ibu bapaknya
dan bersegera menjalankannya.
Kemudian Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan
kisahnya.
Orang kedua, dia bertawassul
kepada Rabbnya dengan rasa
takutnya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Rasa takut
itu mendorongnya untuk
meninggalkan perbuatan keji
dan bujukan syahwat. Dia begitu
mencintai dan ingin memiliki
putri pamannya, bahkan
membujuk gadis itu agar mau
mengikuti keinginannya, namun
wanita itu menolak.
Pada suatu ketika wanita itu
ditimpa kesulitan ekonomi. Hal
ini mendorongnya datang
menemui si pemuda. Tapi
keadaan ini seolah menjadi
sebuah kesempatan baik bagi si
pemuda agar melampiaskan
syahwatnya. Akhirnya, dia
membujuk wanita agar menuruti
keinginannya dan dia siap
membantunya. Dengan terpaksa,
wanita itu meluluskan keinginan
si pemuda setelah dia menerima
sejumlah uang yang cukup besar
dan diserahkan sebelum dia
melayani si pemuda.
Akan tetapi, di saat pemuda itu
sudah siap untuk melakukan
segala perkara yang hanya layak
dilakukan oleh suami kepada
istrinya, dan tidak ada lagi yang
akan mencegah si pemuda
berbuat apa yang diinginkannya
terhadap tubuh wanita itu, tiba-
tiba wanita itu menangis dan
bergetar. Pemuda itu bertanya:
“Ada apa?” Si wanita
mengatakan bahwa dia takut
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, karena dia belum pernah
melakukan perbuatan keji (zina)
sebelum itu. Mendengar ucapan
wanita tersebut, pemuda itu
segera berdiri dan meninggalkan
si wanita yang sangat dicintainya
serta harta yang diberikannya
untuk si wanita.
Itulah keimanan, yang
mendorongnya meninggalkan
perbuatan zina. Padahal dia
mampu melakukannya, bahkan
semua sarana dan fasilitas serta
situasi sangat mendukung
keinginannya. Tetapi, iman dan
rasa takutnya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala
menuntutnya segera
meninggalkan perbuatan keji itu
dan bertaubat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Sungguh sangat disayangkan,
sebagian anak-anak kaum
muslimin, justru melangkah
menuju perbuatan keji ini. Lebih
celaka lagi, semua dikemas
dengan label Islam; Pacaran
Islami. Bahkan para orangtua
mendukung perbuatan tersebut.
Mereka merasa bangga bila anak
gadisnya bergandengan atau
berduaan dengan seorang
pemuda, entah teman
sekolahnya atau hasil perkenalan
di sebuah tempat. Sementara
pada diri para pemuda dan
pemudinya, rasa minder akan
menghinggapinya jika mereka
tidak mempunyai pacar.
Jadi, seolah-olah dalam Islam
perzinaan itu sah-sah saja.
Na’udzu billahi min dzalik. Maha
Suci Allah dari kedustaan yang
mereka ada-adakan.
Tapi, lihatlah bagaimana pemuda
itu. Dalam keadaan sudah
hampir melakukannya, terhadap
wanita yang dicintainya, tanpa
ada yang merintangi. Ternyata
dia segera beranjak pergi
meninggalkan si wanita dan
membiarkan harta itu untuknya.
Itulah taubat yang membasuh
dosa.
Rasa takut kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala membuat
laki-laki itu menjauhi putri
pamannya itu, padahal dia
adalah wanita yang paling
dicintainya. Wanita yang
memberi kesempatan kepada
dirinya untuk berbuat apa saja,
tapi juga mengingatkannya agar
bertakwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Wanita itu
mengingatkannya kepada Dzat
yang dirinya adalah hamba
sahaya-Nya. Wanita itu
mengingatkannya kepada Allah:
“Wahai hamba Allah,
bertakwalah kepada Allah!”
Artinya, buatlah antara dirimu
dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebuah pelindung, dengan
menjalankan perintah dan
menjauhi larangan-Nya dalam
keadaan penuh rasa takut dan
harap.
“Bertakwalah kepada Allah,
jangan kau buka tutupnya
kecuali dengan haknya,” kata
wanita itu.
“Lalu aku pun berdiri
meninggalkannya. Ya Allah,
kalau Engkau tahu aku
melakukannya karena
mengharap Wajah-Mu, maka
lepaskanlah kami dari batu ini.”
Maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun memberi celah lebih
lebar daripada sebelumnya,
namun mereka belum dapat
keluar.
Apa yang mendorongnya
meninggalkan wanita itu dalam
keadaan dia sudah ada di atas
tubuhnya? Apa yang
mencegahnya dari kemaksiatan?
Tidak ada yang menghalanginya
selain kokohnya sikap ta’zhim
(pengagungan) kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam
sanubarinya. Tidak ada yang
menghentikannya selain
kebesaran Rabbnya yang
bertahta di hatinya, sehingga
menimbulkan rasa takut dan
merasa diawasi oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dia segera
berdiri karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala, mengharap pahala
dan takut akan siksa-Nya.
Menghormati hak orang lain
Alangkah banyak di antara
manusia yang masih suka
mengangkangi hak orang lain.
Sementara Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda dalam
sebuah hadits shahih dari Ibnu
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

مَنِ اقْتَطَعَ مَالَ امْرِئٍ
مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَقِيَ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ
غَضْبَانُ

“Siapa yang mengambil harta
seorang muslim tanpa alasan
yang haq, niscaya dia bertemu
dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam keadaan Dia sangat
murka kepadanya.” (HR. Ahmad)
Bayangkanlah hari yang sangat
dahsyat tersebut. Ketika manusia
dikumpulkan dalam keadaan
tidak beralas kaki, tidak
berpakaian, dan tidak berkhitan,
di saat kita sangat membutuhkan
karunia dan rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dalam
hadits lain yang hampir serupa
dengan ini, terkait dengan
sumpah, mereka bertanya
kepada Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam: “Walaupun
sebatang kayu arak –untuk
siwak–?”
Kata beliau: “Walaupun hanya
sebatang kayu arak.”
Artinya, seandainya kita
mengambil sebatang kayu arak
dari seorang muslim dalam
keadaan dia tidak senang kamu
mengambilnya, niscaya kita akan
bertemu dengan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam
keadaan dia murka. Lantas, di
mana sikap ta’zhim
(pengagungan) kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dari
orang-orang yang berbuat zalim
seperti ini?
Seandainya dia memiliki sikap
ta’zhim kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, tentulah dia seperti
orang yang diceritakan oleh
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits ini. Kita
perhatikan kisah tentang orang
ketiga ini.
Dia menyewa seorang buruh
agar bekerja dengan upah yang
telah ditentukan, tetapi pekerja
itu tidak jadi mengambil
upahnya. Dia malah pergi tanpa
membuat kesepakatan dengan
majikannya agar upahnya
dikembangkan. Namun,
kedermawanan majikan tersebut
mendorongnya mengolah upah
buruh tadi sehingga bertambah
banyak.
Tak lama, dari upah buruh tadi
yang tidak seberapa, harta itu
berkembang menjadi berlimpah.
Kemudian datanglah si buruh
menagih upah yang dahulu dia
tinggalkan. Oleh si majikan, harta
yang berasal dari upah si buruh
diserahkan seluruhnya kepada
buruh tersebut.
Dia berkata: “Lalu aku berikan
kepada buruh itu semua yang
telah aku kembangkan dari
upahnya. Andai aku mau
tentulah tidak aku berikan
kepadanya melainkan upahnya
semata.” Artinya, dia kuasa
untuk tidak memberi buruh tadi
harta yang sudah
dikembangkannya dalam waktu
cukup lama. Akan tetapi, dengan
sikap pemurahnya itu, dia
menyerahkan semua harta yang
diperoleh dari upah buruh
tersebut.
Lalu dia pun berkata: “Ya Allah,
kalau Engkau tahu aku
melakukannya demi mengharap
rahmat-Mu dan takut akan
siksa-Mu, maka lepaskanlah
kami.” Maka batu itu pun
bergeser dan mereka berjalan
keluar dari gua tersebut.
Melalui kisah ini pula kita
dapatkan bahwa selamat dari
petaka/bencana adalah balasan
atas amal perbuatan yang shalih.
Betapa besar ganjaran yang
diterima oleh mereka yang jujur
dan amanah dalam
bermuamalah.
Majikan yang jujur dan amanah
yang mengembangkan upah
buruhnya adalah cermin bagi
kita melihat betapa langkanya
kejujuran dan amanah itu di
sekitar kita saat ini. Dia
menyerahkan semua harta yang
dihasilkan dari pengembangan
upah buruhnya, tanpa meminta
imbalan atau bagian atas
upayanya mengembangkan upah
buruh tersebut. Sementara di
sekitar kita, hal ini justru menjadi
peluang untuk memperoleh
harta tambahan. Wallahul
Musta’an.
Alangkah tepat ungkapan ini:
صَبْراً جَمِيلاً مَا أَقْرَبَ
الْفَرَجَا
مَنْ رَاقَبَ اللهَ فِي
الْأُمُوْرِ نَجَا
مَنْ صَدَقَ اللهَ لَمْ يَنَلْهُ
أَذَى
وَمَنْ رَجَاهُ يَكُونُ حَيْثُ
رَجَا
Bersabarlah dengan kesabaran
yang indah, alangkah dekatnya
jalan keluar
Siapa yang senantiasa yakin
diawasi oleh Allah dalam semua
urusan pasti selamat
Siapa yang jujur terhadap Allah
tentu tidak akan celaka
Dan siapa yang mengharapkan-
Nya tentu Dia ada di mana pun
diharap
Jelaslah, dari hadits ini bahwa
ketiga laki-laki mukmin ini, di
saat mereka ditimpa malapetaka
dan keadaan mengimpit mereka,
serta putus asa akan datangnya
kelonggaran dari semua jalan
selain jalan Allah Tabaraka wa
Ta’ala satu-satunya, maka
mereka pun berlindung dan
berdoa kepada-Nya dengan
ikhlas, serta menyebutkan
amalan-amalan shalih mereka
yang dahulu biasa mereka ingat
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala pada waktu-waktu
senang, sambil mengharapkan
agar Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengetahui keadaan mereka di
saat-saat yang sulit. Sebagaimana
hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي
الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي
الشِّدَّةِ
“Ingatlah kepada Allah ketika
dalam keadaan senang, tentu
Dia mengingatmu pada saat-saat
yang sulit.”2
Wallahu a’lam.
1 Kira-kira 16 ritl. Ritl adalah
ukuran yang dipakai untuk
menimbang, dan takarannya
berbeda antara satu negeri
dengan negeri lainnya. Di Mesir
misalnya, 1 ritl= 12 uqiyah, 1
uqiyah= 12 dirham. 1 dirham
sendiri = 3,98 gram perak,
berarti 1 faraq sekitar 9,17 kg.
Adapula yang berpendapat 1
uqiyah= 40 dirham, sehingga 1
faraq sekitar 30,5 kg.
2 Shahih Adabul Mufrad (no.
503), dihasankan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani rahimahullahu.
2 HR. Ahmad dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma dan
sanadnya sahih dengan
syawahid, lihat Zhilalul Jannah fi
Takhrij As-Sunnah (hal. 138),
karya Asy-Syaikh Al-Albani
rahimahullahu.


www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=865
Read more..

Kisah Orang-orang Yang Terkurung Di Dalam Gua

Oleh:Ustadz Abu Muhammad Harist

Peristiwa ini terjadi pada zaman
Bani Israil, jauh sebelum
diutusnya Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam. Beliau
mengisahkannya kepada kita
berdasarkan wahyu dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

بَيْنَمَا ثَلاَثَةُ نَفَرٍ
يَتَمَشَّوْنَ أَخَذَهُمُ
الْمَطَرُ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ
فِي جَبَلٍ فَانْحَطَّتْ
عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ
مِنَ الْجَبَلِ فَانْطَبَقَتْ
عَلَيْهِمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ: انْظُرُوا أَعْمَالاً
عَمِلْتُمُوهَا صَالِحَةً لِلهِ
فَادْعُوا اللهَ تَعَالَى بِهَا،
لَعَلَّ اللهَ يَفْرُجُهَا
عَنْكُمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ:
اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي
وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ
وَامْرَأَتِي وَلِي صِبْيَةٌ
صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا
أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ حَلَبْتُ
فَبَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ
فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ
بَنِيَّ، وَأَنَّهُ نَأَى بِي
ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ
آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ
فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَا
فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ
أَحْلُبُ فَجِئْتُ
بِالْحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ
رُءُوسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ
أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا
وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِيَ
الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا،
وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ
عِنْدَ قَدَمَيَّ، فَلَمْ يَزَلْ
ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ
حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ، فَإِنْ
كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي
فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ
وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا
فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ.
فَفَرَجَ اللهُ مِنْهَا فُرْجَةً
فَرَأَوْا مِنْهَا السَّمَاءَ،
وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ
كَانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمٍّ
أَحْبَبْتُهَا كَأَشَدِّ مَا
يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ
وَطَلَبْتُ إِلَيْهَا نَفْسَهَا
فَأَبَتْ حَتَّى آتِيَهَا
بِمِائَةِ دِينَارٍ فَتَعِبْتُ
حَتَّى جَمَعْتُ مِائَةَ دِينَارٍ
فَجِئْتُهَا بِهَا فَلَمَّا
وَقَعْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا
قَالَتْ: يَا عَبْدَ اللهِ، اتَّقِ
اللهَ وَلاَ تَفْتَحِ الْخَاتَمَ
إِلاَ بِحَقِّهِ. فَقُمْتُ
عَنْهَا، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ
أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ
ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ
لَنَا مِنْهَا فُرْجَةً. فَفَرَجَ
لَهُمْ، وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ
إِنِّي كُنْتُ اسْتَأْجَرْتُ
أَجِيرًا بِفَرَقِ أَرُزٍّ فَلَمَّا
قَضَى عَمَلَهُ قَالَ: أَعْطِنِي
حَقِّي فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ
فَرَقَهُ فَرَغِبَ عَنْهُ،
فَلَمْ أَزَلْ أَزْرَعُهُ حَتَّى
جَمَعْتُ مِنْهُ بَقَرًا
وَرِعَاءَهَا، فَجَاءَنِي فَقَالَ:
اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَظْلِمْنِي
حَقِّي. قُلْتُ: اذْهَبْ إِلَى
تِلْكَ الْبَقَرِ وَرِعَائِهَا
فَخُذْهَا. فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ
وَلاَ تَسْتَهْزِئْ بِي.
فَقُلْتُ: إِنِّي لاَ
أَسْتَهْزِئُ بِكَ، خُذْ ذَلِكَ
الْبَقَرَ وَرِعَاءَهَا. فَأَخَذَهُ
فَذَهَبَ بِهِ، فَإِنْ كُنْتَ
تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ
ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ
فَافْرُجْ لَنَا مَا بَقِيَ.
فَفَرَجَ اللهُ مَا بَقِيَ

Ketika ada tiga orang sedang
berjalan, mereka ditimpa oleh
hujan. Lalu mereka pun
berlindung ke dalam sebuah gua
di sebuah gunung. Tiba-tiba
jatuhlah sebuah batu besar dari
gunung itu lalu menutupi mulut
gua mereka. Lalu sebagian
mereka berkata kepada yang
lain: “Perhatikan amalan shalih
yang pernah kamu kerjakan
karena Allah, lalu berdoalah
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan amalan itu.
Mudah-mudahan Allah
menyingkirkan batu itu dari
kalian.”
Lalu berkatalah salah seorang
dari mereka: “Ya Allah,
sesungguhnya aku mempunyai
dua ibu bapak yang sudah tua
renta, seorang istri, dan anak-
anak yang masih kecil, di mana
aku menggembalakan ternak
untuk mereka. Kalau aku
membawa ternak itu pulang ke
kandangnya, aku perahkan susu
dan aku mulai dengan kedua ibu
bapakku, lantas aku beri minum
mereka sebelum anak-anakku.
Suatu hari, ternak itu
membawaku jauh mencari
tempat gembalaan. Akhirnya aku
tidak pulang kecuali setelah sore,
dan aku dapati ibu bapakku
telah tertidur. Aku pun memerah
susu sebagaimana biasa, lalu aku
datang membawa susu tersebut
dan berdiri di dekat kepala
mereka, dalam keadaan tidak
suka membangunkan mereka
dari tidur. Aku pun tidak suka
memberi minum anak-anakku
sebelum mereka (kedua
orangtuanya, red.) meminumnya.
Anak-anakku sendiri menangis di
bawah kakiku meminta minum
karena lapar. Seperti itulah
keadaanku dan mereka, hingga
terbit fajar. Maka kalau Engkau
tahu, aku melakukan hal itu
karena mengharapkan wajah-
Mu, bukakanlah satu celah
untuk kami dari batu ini agar
kami melihat langit.”
Lalu Allah bukakan satu celah
hingga mereka pun melihat
langit.
Yang kedua berkata:
“Sesungguhnya aku punya
sepupu wanita yang aku cintai,
sebagaimana layaknya cinta
seorang laki-laki kepada seorang
wanita. Aku minta dirinya
(melayaniku), tapi dia menolak
sampai aku datang kepadanya
(menawarkan) seratus dinar. Aku
pun semakin payah, akhirnya
aku kumpulkan seratus dinar,
lalu menyerahkannya kepada
gadis itu. Setelah aku berada di
antara kedua kakinya, dia
berkata: ‘Wahai hamba Allah.
Bertakwalah kepada Allah.
Jangan engkau buka tutup
(kiasan untuk keperawanannya)
kecuali dengan haknya.’ Maka
aku pun berdiri
meninggalkannya. Kalau Engkau
tahu, aku melakukannya adalah
karena mengharap wajah-Mu,
maka bukakanlah untuk kami
satu celah dari batu ini.”
Maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun membuka satu celah
untuk mereka.
Laki-laki ketiga berkata: “Ya
Allah, sungguh, aku pernah
mengambil sewa seorang buruh,
dengan upah satu faraq1 beras.
Setelah dia menyelesaikan
pekerjaannya, dia berkata:
‘Berikan hakku.’ Lalu aku
serahkan kepadanya beras
tersebut, tapi dia tidak
menyukainya. Akhirnya aku pun
tetap menanamnya hingga aku
kumpulkan dari hasil beras itu
seekor sapi dan
penggembalanya. Kemudian dia
datang kepadaku dan berkata:
‘Bertakwalah kepada Allah, dan
jangan zalimi aku dalam urusan
hakku.’
Aku pun berkata: ‘Pergilah,
ambil sapi dan penggembalanya.’
Dia berkata: ‘Bertakwalah
kepada Allah dan jangan
mempermainkan saya.’ Aku pun
berkata: ‘Ambillah sapi dan
penggembalanya itu.’ Akhirnya
dia pun membawa sapi dan
penggembalanya lalu pergi.
Kalau Engkau tahu bahwa aku
melakukannya karena
mengharap wajah-Mu, maka
bukakanlah untuk kami apa
yang tersisa.”
Maka Allah pun membukakan
untuk mereka sisa celah yang
menutupi.

Itulah kisah yang diceritakan
oleh beliau Shalallahu ‘alaihi wa
sallam. Sebuah kisah yang di
dalamnya sarat dengan pelajaran
yang sangat berharga. Dalam
kisah ini terkandung dalil tentang
tawassul (perantara) yang
dibolehkan, yaitu dengan amal
shalih yang pernah dikerjakan.
Orang pertama bertawassul
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan baktinya kepada
kedua orangtuanya. Dia seorang
penggembala, dan makanan
pokoknya tergantung kepada
susu ternaknya. Kebiasaan orang
ini adalah memerah susu itu
sesudah dia pulang dan mulai
memberi minum kepada kedua
orangtuanya sebelum anak dan
istrinya.
Inilah salah satu bentuk bakti
kepada ibu dan bapak.
Betapa banyak di antara manusia
saat ini yang berbakti kepada
orangtua sesuai keridhaan anak
dan istrinya. Mereka
mendahulukan anak dan istrinya,
kemudian baru berbakti kepada
ibu bapak mereka. Yang lebih
menyedihkan lagi, sebagian
mereka lebih suka menitipkan
ibu bapaknya di panti-panti
jompo.
Tidak takutkah mereka dengan
peringatan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sebuah
hadits, ketika beliau naik ke atas
mimbar sambil mengucapkan
amin, setiap kali menapakkan
kaki di atas mimbarnya? Para
sahabat yang begitu antusias
dengan kebaikan, bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Apa yang
anda aminkan, wahai
Rasulullah?”
Beliau berkata: “Jibril datang
kepadaku lalu berkata –di
antaranya–:

رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ
وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ
يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ، قُلْتُ
آمِيْن

‘Alangkah celakanya seseorang
yang mendapati kedua
orangtuanya atau salah satunya,
namun keduanya tidak
menyebabkan dia masuk ke
dalam jannah.’ Aku pun berkata:
‘Amiin’.”2
Adapun kebiasaan si
penggembala ini, dia menjauh
untuk mencari ladang
gembalaan ternaknya, dan tidak
kembali kecuali sesudah malam
agak larut. Dia pun memerahkan
susu untuk ibu bapaknya yang
ternyata telah tertidur. Dia tidak
suka membangunkan mereka
dan tidak mau memberikan susu
itu untuk anaknya. Akhirnya dia
pun berjaga sepanjang malam itu
dengan susu itu masih di
tangannya, sedangkan anaknya
menangis di bawah kakinya.
Sungguh, hanya Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang tahu
betapa sulitnya keadaan si
penggembala malam itu. Jauh-
jauh dia menggembalakan
kambing, lalu bergegas pulang
dan belum sempat makan
malam, sementara anaknya
menangis di bawah kakinya.
Gambaran yang sangat agung
yang ditunjukkan oleh iman,
hingga membawanya sampai
pada tingkatan demikian tinggi
karena baktinya kepada ibu
bapaknya dan semangatnya
melakukan hal itu, sehingga
menjadi salah satu sebab Allah
Subhanahu wa Ta’ala membuka
sedikit celah yang menutupi gua
itu.
Ini adalah peringatan bagi umat
ini, sekaligus anjuran agar
berbakti kepada ibu bapaknya
dan bersegera menjalankannya.
Kemudian Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan
kisahnya.
Orang kedua, dia bertawassul
kepada Rabbnya dengan rasa
takutnya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Rasa takut
itu mendorongnya untuk
meninggalkan perbuatan keji
dan bujukan syahwat. Dia begitu
mencintai dan ingin memiliki
putri pamannya, bahkan
membujuk gadis itu agar mau
mengikuti keinginannya, namun
wanita itu menolak.
Pada suatu ketika wanita itu
ditimpa kesulitan ekonomi. Hal
ini mendorongnya datang
menemui si pemuda. Tapi
keadaan ini seolah menjadi
sebuah kesempatan baik bagi si
pemuda agar melampiaskan
syahwatnya. Akhirnya, dia
membujuk wanita agar menuruti
keinginannya dan dia siap
membantunya. Dengan terpaksa,
wanita itu meluluskan keinginan
si pemuda setelah dia menerima
sejumlah uang yang cukup besar
dan diserahkan sebelum dia
melayani si pemuda.
Akan tetapi, di saat pemuda itu
sudah siap untuk melakukan
segala perkara yang hanya layak
dilakukan oleh suami kepada
istrinya, dan tidak ada lagi yang
akan mencegah si pemuda
berbuat apa yang diinginkannya
terhadap tubuh wanita itu, tiba-
tiba wanita itu menangis dan
bergetar. Pemuda itu bertanya:
“Ada apa?” Si wanita
mengatakan bahwa dia takut
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, karena dia belum pernah
melakukan perbuatan keji (zina)
sebelum itu. Mendengar ucapan
wanita tersebut, pemuda itu
segera berdiri dan meninggalkan
si wanita yang sangat dicintainya
serta harta yang diberikannya
untuk si wanita.
Itulah keimanan, yang
mendorongnya meninggalkan
perbuatan zina. Padahal dia
mampu melakukannya, bahkan
semua sarana dan fasilitas serta
situasi sangat mendukung
keinginannya. Tetapi, iman dan
rasa takutnya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala
menuntutnya segera
meninggalkan perbuatan keji itu
dan bertaubat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Sungguh sangat disayangkan,
sebagian anak-anak kaum
muslimin, justru melangkah
menuju perbuatan keji ini. Lebih
celaka lagi, semua dikemas
dengan label Islam; Pacaran
Islami. Bahkan para orangtua
mendukung perbuatan tersebut.
Mereka merasa bangga bila anak
gadisnya bergandengan atau
berduaan dengan seorang
pemuda, entah teman
sekolahnya atau hasil perkenalan
di sebuah tempat. Sementara
pada diri para pemuda dan
pemudinya, rasa minder akan
menghinggapinya jika mereka
tidak mempunyai pacar.
Jadi, seolah-olah dalam Islam
perzinaan itu sah-sah saja.
Na’udzu billahi min dzalik. Maha
Suci Allah dari kedustaan yang
mereka ada-adakan.
Tapi, lihatlah bagaimana pemuda
itu. Dalam keadaan sudah
hampir melakukannya, terhadap
wanita yang dicintainya, tanpa
ada yang merintangi. Ternyata
dia segera beranjak pergi
meninggalkan si wanita dan
membiarkan harta itu untuknya.
Itulah taubat yang membasuh
dosa.
Rasa takut kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala membuat
laki-laki itu menjauhi putri
pamannya itu, padahal dia
adalah wanita yang paling
dicintainya. Wanita yang
memberi kesempatan kepada
dirinya untuk berbuat apa saja,
tapi juga mengingatkannya agar
bertakwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Wanita itu
mengingatkannya kepada Dzat
yang dirinya adalah hamba
sahaya-Nya. Wanita itu
mengingatkannya kepada Allah:
“Wahai hamba Allah,
bertakwalah kepada Allah!”
Artinya, buatlah antara dirimu
dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebuah pelindung, dengan
menjalankan perintah dan
menjauhi larangan-Nya dalam
keadaan penuh rasa takut dan
harap.
“Bertakwalah kepada Allah,
jangan kau buka tutupnya
kecuali dengan haknya,” kata
wanita itu.
“Lalu aku pun berdiri
meninggalkannya. Ya Allah,
kalau Engkau tahu aku
melakukannya karena
mengharap Wajah-Mu, maka
lepaskanlah kami dari batu ini.”
Maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun memberi celah lebih
lebar daripada sebelumnya,
namun mereka belum dapat
keluar.
Apa yang mendorongnya
meninggalkan wanita itu dalam
keadaan dia sudah ada di atas
tubuhnya? Apa yang
mencegahnya dari kemaksiatan?
Tidak ada yang menghalanginya
selain kokohnya sikap ta’zhim
(pengagungan) kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam
sanubarinya. Tidak ada yang
menghentikannya selain
kebesaran Rabbnya yang
bertahta di hatinya, sehingga
menimbulkan rasa takut dan
merasa diawasi oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dia segera
berdiri karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala, mengharap pahala
dan takut akan siksa-Nya.
Menghormati hak orang lain
Alangkah banyak di antara
manusia yang masih suka
mengangkangi hak orang lain.
Sementara Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda dalam
sebuah hadits shahih dari Ibnu
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

مَنِ اقْتَطَعَ مَالَ امْرِئٍ
مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَقِيَ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ
غَضْبَانُ

“Siapa yang mengambil harta
seorang muslim tanpa alasan
yang haq, niscaya dia bertemu
dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam keadaan Dia sangat
murka kepadanya.” (HR. Ahmad)
Bayangkanlah hari yang sangat
dahsyat tersebut. Ketika manusia
dikumpulkan dalam keadaan
tidak beralas kaki, tidak
berpakaian, dan tidak berkhitan,
di saat kita sangat membutuhkan
karunia dan rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dalam
hadits lain yang hampir serupa
dengan ini, terkait dengan
sumpah, mereka bertanya
kepada Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam: “Walaupun
sebatang kayu arak –untuk
siwak–?”
Kata beliau: “Walaupun hanya
sebatang kayu arak.”
Artinya, seandainya kita
mengambil sebatang kayu arak
dari seorang muslim dalam
keadaan dia tidak senang kamu
mengambilnya, niscaya kita akan
bertemu dengan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam
keadaan dia murka. Lantas, di
mana sikap ta’zhim
(pengagungan) kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dari
orang-orang yang berbuat zalim
seperti ini?
Seandainya dia memiliki sikap
ta’zhim kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, tentulah dia seperti
orang yang diceritakan oleh
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits ini. Kita
perhatikan kisah tentang orang
ketiga ini.
Dia menyewa seorang buruh
agar bekerja dengan upah yang
telah ditentukan, tetapi pekerja
itu tidak jadi mengambil
upahnya. Dia malah pergi tanpa
membuat kesepakatan dengan
majikannya agar upahnya
dikembangkan. Namun,
kedermawanan majikan tersebut
mendorongnya mengolah upah
buruh tadi sehingga bertambah
banyak.
Tak lama, dari upah buruh tadi
yang tidak seberapa, harta itu
berkembang menjadi berlimpah.
Kemudian datanglah si buruh
menagih upah yang dahulu dia
tinggalkan. Oleh si majikan, harta
yang berasal dari upah si buruh
diserahkan seluruhnya kepada
buruh tersebut.
Dia berkata: “Lalu aku berikan
kepada buruh itu semua yang
telah aku kembangkan dari
upahnya. Andai aku mau
tentulah tidak aku berikan
kepadanya melainkan upahnya
semata.” Artinya, dia kuasa
untuk tidak memberi buruh tadi
harta yang sudah
dikembangkannya dalam waktu
cukup lama. Akan tetapi, dengan
sikap pemurahnya itu, dia
menyerahkan semua harta yang
diperoleh dari upah buruh
tersebut.
Lalu dia pun berkata: “Ya Allah,
kalau Engkau tahu aku
melakukannya demi mengharap
rahmat-Mu dan takut akan
siksa-Mu, maka lepaskanlah
kami.” Maka batu itu pun
bergeser dan mereka berjalan
keluar dari gua tersebut.
Melalui kisah ini pula kita
dapatkan bahwa selamat dari
petaka/bencana adalah balasan
atas amal perbuatan yang shalih.
Betapa besar ganjaran yang
diterima oleh mereka yang jujur
dan amanah dalam
bermuamalah.
Majikan yang jujur dan amanah
yang mengembangkan upah
buruhnya adalah cermin bagi
kita melihat betapa langkanya
kejujuran dan amanah itu di
sekitar kita saat ini. Dia
menyerahkan semua harta yang
dihasilkan dari pengembangan
upah buruhnya, tanpa meminta
imbalan atau bagian atas
upayanya mengembangkan upah
buruh tersebut. Sementara di
sekitar kita, hal ini justru menjadi
peluang untuk memperoleh
harta tambahan. Wallahul
Musta’an.
Alangkah tepat ungkapan ini:
صَبْراً جَمِيلاً مَا أَقْرَبَ
الْفَرَجَا
مَنْ رَاقَبَ اللهَ فِي
الْأُمُوْرِ نَجَا
مَنْ صَدَقَ اللهَ لَمْ يَنَلْهُ
أَذَى
وَمَنْ رَجَاهُ يَكُونُ حَيْثُ
رَجَا
Bersabarlah dengan kesabaran
yang indah, alangkah dekatnya
jalan keluar
Siapa yang senantiasa yakin
diawasi oleh Allah dalam semua
urusan pasti selamat
Siapa yang jujur terhadap Allah
tentu tidak akan celaka
Dan siapa yang mengharapkan-
Nya tentu Dia ada di mana pun
diharap
Jelaslah, dari hadits ini bahwa
ketiga laki-laki mukmin ini, di
saat mereka ditimpa malapetaka
dan keadaan mengimpit mereka,
serta putus asa akan datangnya
kelonggaran dari semua jalan
selain jalan Allah Tabaraka wa
Ta’ala satu-satunya, maka
mereka pun berlindung dan
berdoa kepada-Nya dengan
ikhlas, serta menyebutkan
amalan-amalan shalih mereka
yang dahulu biasa mereka ingat
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala pada waktu-waktu
senang, sambil mengharapkan
agar Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengetahui keadaan mereka di
saat-saat yang sulit. Sebagaimana
hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي
الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي
الشِّدَّةِ
“Ingatlah kepada Allah ketika
dalam keadaan senang, tentu
Dia mengingatmu pada saat-saat
yang sulit.”2
Wallahu a’lam.
1 Kira-kira 16 ritl. Ritl adalah
ukuran yang dipakai untuk
menimbang, dan takarannya
berbeda antara satu negeri
dengan negeri lainnya. Di Mesir
misalnya, 1 ritl= 12 uqiyah, 1
uqiyah= 12 dirham. 1 dirham
sendiri = 3,98 gram perak,
berarti 1 faraq sekitar 9,17 kg.
Adapula yang berpendapat 1
uqiyah= 40 dirham, sehingga 1
faraq sekitar 30,5 kg.
2 Shahih Adabul Mufrad (no.
503), dihasankan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani rahimahullahu.
2 HR. Ahmad dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma dan
sanadnya sahih dengan
syawahid, lihat Zhilalul Jannah fi
Takhrij As-Sunnah (hal. 138),
karya Asy-Syaikh Al-Albani
rahimahullahu.


www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=865
Read more..

Minggu, 22 Agustus 2010

Kisah Orang Yang Mengejek Sunnah

Penulis: Abul Abbas Khadhir
Al-Limbory

Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab Al-Wushobiy -
hafidzahullah- berkata: “Telah
disebutkan oleh Ibnu Katsir –
rahimahullah- didalam Al-
Bidayah wan Nihayah tentang
kejadian-kejadian pada tahun
665, beliau –rahimahullah-
berkata Asy-Syaikh Qathbuddin
Al-Yunani berkata: “Telah sampai
kepada kami bahwasanya
seorang laki-laki yang dipanggil
dengan Abu Salamah dari
daerah Bushra, dia suka
bercanda dan berbicara tanpa
dipikirkan terlebih dahulu.
Disebutkan disisinya tentang
siwak dan keutamaannya, maka
dia berkata: “Demi Allah, aku
tidak akan bersiwak kecuali di
dubur, kemudian dia mengambil
sebatang siwak dan
memasukkannya keduburnya
kemudian dikeluarkan kembali. ”
Berkata Qathbuddin Al-Yunani:
“ Setelah melakukan perbuatan
tersebut, ia tinggal selama
sembilan bulan dalam keadaan
mengeluh sakit perut dan dubur.
Berkata Qathbuddin Al-Yunani:
“ Lalu ia melahirkan anak seperti
tikus yang pendek dan besar,
memiliki empat kaki, kepalanya
seperti kepala ikan, memiliki
empat taring yang menonjol,
panjang ekornya satu jengkal
empat jari dan duburnya seperti
dubur kelinci. Ketika lelaki itu
melahirkannya, hewan tersebut
menjerit tiga kali, maka
bangkitlah putrinya laki-laki tadi
dan memecahkan kepalanya
sehingga matilah hewan
tersebut. Laki-laki itu hidup
setelah melahirkan selama dua
hari, dan meninggal pada hari
yang ketiga. Dan ia sebelum
meninggal berkata “Hewan itu
telah membunuhku dan
merobek-robek ususku. ”
Sungguh kejadian tersebut telah
disaksikan oleh sekelompok
penduduk daerah tersebut dan
para khotib tempat tersebut.
diantara mereka ada yang
menyaksikan hewan itu ketika
masih hidup dan ada pula yang
menyaksikan ketika hewan itu
sudah mati. ” (Al-Qaulul Mufiid fii
Adillatit Tauhiid, hal. 106-107)

Kisah tersebut sangatlah pantas
dan cocok untuk kita ambil
pelajaran, dengan kisah itu
mengingatkan kita untuk tidak
bermudah-mudahan berucap
apalagi kalau sampai mengejek
As-Sunnah, sungguh jauh-jauh
hari sebelumnya Rasulullah
صلى الله عليه وسلم telah
bersabda:
“Wahai manusia, berhati-
hatilah terhadap ucapan
kalian, jangan sampai kalian
dijerumuskan oleh
syaithan. ” (HR. An-Nasai
dalam ‘Amalul Yaum wal
Lailah, dikatakan dalam Ash-
Shahihul Musnad fi Asy-
Syamail Muhammadiyah no.
786; hadits Shahih menurut
syarah Muslim).

Semoga dengan kisah tersebut
menjadi sebab bagi kita untuk
mudah dalam menerima dan
melaksakan As-Sunnah dan
menjauhkan kita dari sifat
meremehkan dan menentang
As-Sunnah. Sungguh Allah
–‘ Azza wa Jalla- telah
memberikan peringatan untuk
kita sebagaimana firmannya:

فَليَحذَرِ الَّذينَ
يُخالِفونَ عَن أَمرِهِ أَن
تُصيبَهُم فِتنَةٌ أَو
يُصيبَهُم عَذابٌ أَليمٌ ﴿٦٣

“…..maka hendaklah orang-
orang yang menyelisihi ajaran
Rasul takut ditimpa fitnah
atau ditimpa azab yang
pedih. ” (An-Nuur: 63).
Akhirnya, semoga Allah
menjadikan tulisan ini
bermanfaat bagi kami dan
segenap kaum muslimin.
Washallallahu ‘ala Muhammad
wa Aalihi Washahbihi wasallam
walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.


Sumber:
http://kaahil.wordpress.com/

rumahbelajarku.wordpress.com/2010/08/20/%20kisah-orang-yang-mengejek-%20sunnah/
Read more..

Rabu, 18 Agustus 2010

Kisah Dua Putra Adam 'alaihissalam

Penulis: Al-
Ustadz Abu Muhammad Harist

Sesungguhnya, wajib atas setiap
muslim mengimani segala yang
diberitakan di dalam Al-Qur’an.
Termasuk dalam hal ini, kisah
dua putra Adam Alaihissalam
yang dikisahkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-
Qur’anul Karim. Kisah ini
menjelaskan betapa buruknya
akibat kedengkian, kezaliman,
dan kejahatan serta permusuhan
dalam kisah dua putra Adam
tersebut, baik pemberian nama
mereka itu shahih atau tidak.1
Baik disebabkan perebutan calon
istri, sebagaimana dinukil
sebagian ulama, ataukah sebab
lainnya. Yang jelas, tujuannya
adalah kita memahami sebab
dan akibat yang sama berikut
hukum yang diberlakukan di
balik kisah tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ
ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ
قَرَّبَا قُرْبَانًا
فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا
وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ
قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ
الْمُتَّقِينَ. لَئِنْ
بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ
لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا
بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ
لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ
رَبَّ الْعَالَمِينَ. إِنِّي
أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي
وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ
أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ
جَزَاءُ الظَّالِمِينَ.
فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ
قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ
فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
فَبَعَثَ اللهُ غُرَابًا
يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ
لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي
سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ
يَاوَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ
أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ
فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي
فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Ceriterakanlah kepada mereka
kisah kedua putra Adam (Habil
dan Qabil) menurut yang
sebenarnya, ketika keduanya
mempersembahkan korban,
maka diterima dari salah seorang
dari mereka berdua (Habil) dan
tidak diterima dari yang lain
(Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku
pasti membunuhmu!” Berkata
Habil: “Sesungguhnya Allah
hanya menerima (korban) dari
orang-orang yang bertakwa.
Sungguh kalau kamu
menggerakkan tanganmu
kepadaku untuk membunuhku,
aku sekali-kali tidak akan
menggerakkan tanganku
kepadamu untuk membunuhmu.
Sesungguhnya aku takut kepada
Allah, Rabb semesta alam.
Sesungguhnya aku ingin agar
kamu kembali dengan
(membawa) dosa (membunuh)ku
dan dosamu sendiri, maka kamu
akan menjadi penghuni neraka,
dan yang demikian itulah
pembalasan bagi orang-orang
yang zalim.”
Maka hawa nafsu Qabil
menjadikannya menganggap
mudah membunuh saudaranya,
sebab itu dibunuhnyalah (Habil).
Maka jadilah ia seorang di antara
orang-orang yang merugi.
Kemudian Allah menyuruh
seekor burung gagak menggali-
gali di bumi untuk
memperlihatkan kepadanya
(Qabil) bagaimana dia
seharusnya menguburkan mayat
saudaranya. Berkata Qabil:
“Aduhai celaka aku, mengapa
aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu
aku dapat menguburkan mayat
saudaraku ini?” Karena itu
jadilah dia seorang di antara
orang-orang yang menyesal. (Al-
Maidah: 27-31)

Itulah kisah yang disebutkan
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam Al-Qur’an. Kisah yang
pasti mengandung pelajaran.
Sebagaimana yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala tegaskan
dalam ayat yang lain:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ
عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى

“Sesungguhnya pada kisah-kisah
mereka itu terdapat pengajaran
bagi orang-orang yang
mempunyai akal. Al-Qur’an itu
bukanlah cerita yang dibuat-
buat.” (Yusuf: 111)
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ
ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ

“Ceriterakanlah kepada mereka
kisah kedua putra Adam (Habil
dan Qabil) menurut yang
sebenarnya.” (Al-Maidah: 27)
Dalam ayat-ayat yang mulia ini,
Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan kepada Rasul-
Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
”Ceritakanlah –wahai Rasul–
kepada Bani Israil, cerita tentang
dua putra Adam ‘alaihissalam,
secara utuh, tidak menambah
atau menguranginya.”
Ceritakanlah agar orang yang
mau mengambil pelajaran dapat
memetik faedahnya, dengan
penuh kejujuran, tanpa
kedustaan, sungguh-sungguh,
dan bukan main-main.
Adam dan Hawwa turun ke
dunia
Adam ‘alaihissalam sudah turun
ke bumi. Hawwa pun demikian.
Iblis tak ketinggalan, dia diusir
dan diturunkan ke dunia disertai
laknat hingga hari pembalasan.
Para ulama berbeda pendapat
tentang di mana Adam dan
Hawwa diturunkan. Ada yang
mengatakan bahwa Adam
diturunkan di India, sedangkan
Hawwa di Jeddah. Ada pula yang
berpendapat Adam turun di
Shafa, sedangkan Hawwa di
Marwah.
Yang jelas, mereka semua
diturunkan ke dunia ini. Wallahu
a’lam.
Adam dan Hawwa mulai
merasakan pahit getir yang
belum pernah mereka dapatkan
di dalam jannah. Beberapa
waktu kemudian Hawwa mulai
mengandung dan tak lama dia
pun melahirkan anaknya.
Kemudian lahir pula putra
mereka berikutnya.
Anak-anak tersebut tumbuh
dewasa di bawah pengawasan
kedua orangtua mereka.
Mulailah mereka berusaha
mengolah bumi ini, mencari
rezeki Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Setan yang telah bersumpah
untuk menghancurkan manusia
dan menyeret mereka agar
menyertainya di dalam neraka,
tidak pernah berhenti mencari
jalan untuk menyesatkan
mereka. Akhirnya dia melihat
kesempatan tersebut.
Ketika dua anak tersebut sudah
tumbuh dewasa dan masing-
masing mempunyai usaha untuk
penghidupannya, mereka
diperintahkan untuk
mengeluarkan sebagian harta
mereka sebagai korban untuk
mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Qabil yang bekerja sebagai
petani, memilih harta yang akan
dikorbankannya dari hasil panen
sawah ladangnya. Dia pun
mengambil buah atau tanaman
yang buruk sebagai korbannya.
Sedangkan Habil, bekerja
sebagai penggembala ternak. Dia
memilih untuk korbannya salah
satu ternaknya yang terbaik,
paling gemuk dan sehat.
Dalam syariat umat terdahulu,
tanda diterimanya suatu korban
adalah dengan turunnya api
membakar korban tersebut.
Hari berikutnya, terlihatlah
bahwa hasil panen yang
dipersembahkan Qabil masih
utuh di tempatnya. Sedangkan
ternak gemuk yang dikorbankan
Habil tidak ada lagi, tanda
bahwa korbannya diterima.
Kenyataan ini menumbuhkan
kedengkian dalam diri Qabil, dia
berkata (sebagaimana dalam
ayat):
لَأَقْتُلَنَّكَ
“Aku pasti membunuhmu!”
Habil berkata kepadanya (seperti
dalam ayat):

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ
الْمُتَّقِينَ

“‘Sesungguhnya Allah hanya
menerima (korban) dari orang-
orang yang bertakwa.’ Apa dosa
dan kesalahanku hingga harus
kau bunuh? Tidak lain karena
aku bertakwa kepada Allah,
yang takwa itu wajib atasku,
atasmu, dan atas setiap orang.”
Qabil tetap meradang dan ingin
membunuh Habil. Sementara
Habil, tidak ada ucapan lain
selain mengingatkannya:

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ
يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا
بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ
لِأَقْتُلَكَ

“Sungguh kalau kamu
menggerakkan tanganmu
kepadaku untuk membunuhku,
aku sekali-kali tidak akan
menggerakkan tanganku
kepadamu untuk
membunuhmu.”
Yakni, seandainya engkau
memulai untuk membunuhku,
maka aku tidak akan
memulainya. Aku pun tidak akan
membalas seperti yang engkau
lakukan. Tapi aku hanya
mengingatkan engkau kepada
Allah Rabb semesta alam.
Artinya, dia tidak ingin membela
dirinya2 bila dibunuh oleh
saudaranya. Meskipun dia lebih
kuat dan mampu mengalahkan
saudaranya. Lalu Habil
menerangkan apa sebabnya dia
tidak ingin membalas
(sebagaimana ayat):

إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ
الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya aku takut
kepada Allah, Rabb semesta
alam.”
Itulah alasan mengapa dia tidak
ingin membalas. Orang yang
takut kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, tidak akan berani
berbuat dosa, terlebih dosa-dosa
besar.
Namun Qabil tidak bergeming
mendengar nasihat tersebut. Dia
tetap pada keinginannya
membunuh Habil. Maka Habil
beralih menakut-nakutinya
dengan azab Allah Subhanahu
wa Ta’ala, memberikan targhib
dan tarhib. Habil berkata kepada
Qabil (sebagaimana dalam ayat):

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ
بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ
فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ
النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ
الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya aku ingin agar
kamu kembali membawa dosa
(membunuh)ku dan dosamu
sendiri, maka kamu akan
menjadi penghuni neraka, dan
yang demikian itulah pembalasan
bagi orang-orang yang zalim.”
Artinya, aku ingin agar kamu
kembali kepada Rabb kita pada
hari kiamat dengan dosa
pembunuhan yang kau lakukan
terhadapku dan dosa yang kau
bawa selama hidupmu, sehingga
dengan sebab itu engkau
menjadi penghuni neraka, kekal
di dalamnya. Na’udzubillahi min
dzalik.
Namun, targhib dan tarhib ini
pun tidak berguna bagi Qabil.
Sebab, setan telah menguasai
dan memenuhi hatinya dengan
hasad dan dendam kepada
saudaranya. Akhirnya:

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ
قَتْلَ أَخِيهِ

“Maka hawa nafsu Qabil
menjadikannya menganggap
remeh membunuh saudaranya.”
Hawa nafsunya membangkitkan
keberaniannya, bahkan
membuatnya memandang indah
sehingga dia pun membunuhnya.
فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Maka jadilah ia seorang di
antara orang-orang yang
merugi.”
Dia menyesal karena tidak tahu
apa yang harus diperbuatnya
terhadap mayat saudaranya.
Itulah kejahatan pertama dalam
sejarah peradaban manusia.
Pemicunya adalah hasad. Jadi,
hasad adalah kemaksiatan
pertama yang dengan itu Allah
Subhanahu wa Ta’ala didurhakai
di muka bumi.
Inilah salah satu pangkal
terjadinya kekafiran di muka
bumi.
Kisah ini menunjukkan pula
kepada kita bahwa setiap orang
yang memperoleh nikmat tentu
akan menjadi sasaran
kedengkian dari orang yang
bersifat dengki.
Seperti diungkapkan:

وَإِذا أَرادَ اللهُ نَشْرَ
فَضيلَةٍ طُوِيَتْ
أَتـاحَ لَها لِسـانَ حَسـودِ
لَوْلَا اشْتِعَالُ النَّارِ
فِيمَا جاوَرَتْ
مَا كَانَ يُعرَفُ طِيبُ عُرْفِ
الْعَوْدِ

Dan jika Allah ingin tersebarnya
keutamaan yang tergulung
Dia bentangkan untuknya lisan
orang yang dengki
Kalau bukan karena nyala api
pada apa yang di dekatnya
Niscaya tak akan dikenal
harumnya kayu gaharu
Orang yang dengki itu, tidak
ridha dengan qadha dan qadar
Allah Subhanahu wa Ta’ala serta
pembagian-Nya.
Al-Hasan Al-Bashri
rahimahullahu menasihatkan:
”Wahai Bani Adam (manusia),
mengapa engkau mendengki
saudaramu? Kalau sesuatu yang
diberikan kepadanya itu adalah
kemuliaan baginya, maka
mengapa engkau dengki kepada
orang yang dimuliakan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan
kalau bukan, maka untuk apa
engkau dengki kepada orang
yang tempat kembalinya adalah
neraka?”3
Orang yang dengki adalah
musuh bagi kenikmatan yang
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berikan.
‘Aun bin ‘Abdillah memberi
nasihat kepada Al-Fadhl bin Al-
Muhallab yang saat itu menjadi
gubernur Wasith: ”Hati-hatilah,
jauhilah olehmu sifat dengki.
Karena yang mendorong anak
Adam membunuh saudaranya
adalah ketika dia dijangkiti rasa
dengki kepada saudaranya.”
Iri dan dengki adalah kezaliman.
Karena dia mengharapkan
hilangnya nikmat yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala berikan
kepada seseorang.
Dengki4 ini asalnya diharamkan,
kecuali pada dua tempat,
sebagaimana disebutkan dalam
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي
اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ
مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى
هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ؛
وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً
فَهُوَ يَقْضِي بِهَا
وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh dengki kecuali pada
dua hal; seseorang yang Allah
beri harta lalu dipakai untuk
dihabiskan di jalan al-haq; dan
seseorang yang diberi Allah
hikmah lalu dia memutuskan
dengan hikmah itu dan
mengajarkannya.”5
Dengki adalah penyakit
berbahaya yang pernah
menjangkiti bangsa manusia
sebelum kita. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ
قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ
وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ،
لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ
وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ

“Telah datang dan menyebar
kepada kamu penyakit umat
manusia sebelum kamu; (yaitu)
dengki dan kebencian; yang ini
merupakan pencukur. Saya tidak
katakan dia mencukur rambut,
tetapi mencukur agama.”6
Ibnul Qayyim rahimahullahu
mengatakan bahwa rukun
kekafiran ada empat, yaitu:
- Kibr (sombong, merasa besar)
- Hasad (iri, dengki)
- Marah
- Syahwat7
Kibr ini, didefinisikan sendiri oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ
وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kibr (sombong) artinya ialah
menolak kebenaran dan
meremehkan manusia.” (HR.
Muslim)
Bersemayamnya sifat ini di dalam
diri seorang manusia akan
menjadi penghalang baginya
untuk tunduk.
Adapun hasad yang artinya
adalah keinginan agar lenyapnya
kenikmatan yang diperoleh
orang lain, walaupun dia sendiri
tidak memperolehnya. Sifat ini
akan menghalangi pemiliknya
untuk menerima dan memberi
nasihat.
Rasa marah akan menghalangi
pemiliknya dari sifat adil dan
tawadhu’. Sedangkan syahwat
akan menghalangi pemiliknya
dari ibadah.
Maka, apabila kesombongan itu
runtuh, mudahlah bagi
seseorang untuk tunduk. Jika
sifat hasad ini lenyap niscaya
mudahlah baginya menerima
dan memberi nasihat. Kemudian,
apabila rasa marah ini runtuh,
mudahlah dia bersikap adil dan
rendah hati (tawadhu’). Jika
rukun syahwat ini juga runtuh
maka mudahlah baginya untuk
bersabar, memiliki sifat ‘iffah
(menjaga kehormatan dirinya),
lebur dalam ibadah.
Hancur leburnya gunung-
gunung dari tempatnya, lebih
mudah dibandingkan lenyapnya
keempat pilar ini dari mereka
yang diuji dengannya. Terlebih
lagi jika keempatnya telah
menjadi watak atau kepribadian
yang melekat dan kokoh. Karena
tidak akan mungkin lurus suatu
amal dikerjakan jika keempat hal
ini bersemayam dalam hati
seseorang. Jiwa tidak akan
menjadi suci dengan kekalnya
keempat pilar ini.
Semakin dia bersungguh-
sungguh (ijtihad) dalam beramal,
maka keempat rukun ini justru
merusak amalan tersebut.
Bahkan seluruh kerusakan dan
kekurangan itu terlahir dari
keempat perkara ini. Maka
apabila keempatnya semakin
kokoh tertanam di dalam hati
niscaya dia akan memperlihatkan
kebatilan sebagai suatu
kebenaran, yang benar sebagai
suatu kebatilan, yang ma’ruf
dalam bentuk kemungkaran,
dan kemungkaran sebagai suatu
yang ma’ruf. Dunia memang
semakin dekat kepadanya, tetapi
akhirat semakin jauh darinya.
Keempat rukun ini muncul dari
kebodohan pemiliknya tentang
Allah Subhanahu wa Ta’ala
(Rabbnya), dan tentang keadaan
dirinya. Sebab, kalau dia
mengenal Rabbnya, melalui sifat-
sifat dan keadaan-keadaan-Nya
Yang Maha Sempurna dan Maha
Mulia, mengenal pula keadaan
dirinya yang penuh kekurangan,
niscaya dia tidak akan merasa
besar (sombong, takabbur),
marah dan tidak dengki kepada
siapapun terhadap apa yang
telah Allah Subhanahu wa Ta’ala
berikan kepadanya. Karena
kedengkian itu hakikatnya
merupakan salah satu bentuk
permusuhan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, karena
pelakunya tidak senang dengan
nikmat Allah Subhanahu wa
Ta’ala tercurah kepada hamba-
Nya padahal Allah Subhanahu
wa Ta’ala mencintainya. Lalu dia
ingin nikmat itu lenyap dari
orang tersebut, padahal Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak
menyukai hal itu. Ini berarti dia
menentang Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam qadha dan qadar-
Nya, cinta dan benci-Nya.
Karena itulah, hakikatnya iblis
menjadi musuh Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Sebab, dosa yang
dilakukannya berangkat dari sifat
kibr dan hasad.
Maka untuk menumpas kedua
sifat ini, adalah dengan
mengenal Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan mentauhidkan-Nya,
ridha kepada-Nya, dan
senantiasa kembali kepada-Nya.
Sedangkan rasa marah, dicabut
dengan mengenal keadaan jiwa
kita sendiri, bahwasanya dia tidak
pantas serta tidak berhak marah
dan membalas karena pribadi.
Karena hal itu berarti dia
mementingkan dirinya daripada
Penciptanya. Sedangkan cara
paling ampuh memperbaiki hal
ini adalah dengan
mengembalikannya untuk
merasa marah dan ridha karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala
semata.
Adapun syahwat, obatnya adalah
lurusnya ilmu dan ma’rifat.
Setiap kali dia membuka pintu
syahwat ini, semakin
terhalanglah dia dari ilmu dan
ma’rifat tersebut.
Terakhir, rasa marah. Seperti
binatang buas, jika pemiliknya
melepasnya, niscaya dia akan
menerkam pemiliknya. Syahwat
itu seperti api yang dinyalakan
pemiliknya lalu membakar
segalanya. Sedangkan
kesombongan (kibr) seperti
pemberontak yang
menggulingkan seorang raja dari
kekuasaannya. Kalau dia tidak
membinasakanmu, maka dia
tentu mengusirmu dari dekatnya.
Dan hasad, seperti permusuhan
yang kita lancarkan kepada
orang yang lebih kuat dan
berkuasa daripada kita.
Orang yang mampu
mengalahkan syahwat dan rasa
marahnya, niscaya setan pun
takut mendekati bayangan orang
tersebut. Sebaliknya, orang yang
dikalahkan oleh syahwat dan
rasa marahnya, maka dia justru
takut kepada bayangan
khayalnya sendiri.
Demikian uraian Ibnul Qayyim
rahimahullahu.
Adapun Qabil, semakin panik.
Tidak tahu apa yang harus
dilakukannya terhadap mayat
saudaranya. Akhirnya dia
memikul jenazah itu beberapa
hari sampai Allah Subhanahu wa
Ta’ala kirim dua ekor gagak, lalu
salah satunya mengorek tanah
untuk menutupi bangkai gagak
lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
فَبَعَثَ اللهُ غُرَابًا
يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ
لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي
سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ
يَاوَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ
أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ
فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي
فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ
Kemudian Allah menyuruh
seekor burung gagak menggali-
gali di bumi untuk
memperlihatkan kepadanya
(Qabil) bagaimana dia
seharusnya menguburkan mayat
saudaranya. Berkata Qabil:
“Aduhai celaka aku, apakah aku
tidak mampu berbuat seperti
burung gagak ini, lalu aku dapat
menguburkan mayat saudaraku
ini?” Karena itu, jadilah dia
seorang di antara orang-orang
yang menyesal.
Di dalam kisah ini terdapat
banyak pelajaran yang dapat
diambil, di antaranya:
1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً
فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ
وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ
أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Dan siapa yang melakukan satu
sunnah yang buruk lalu
diamalkan (orang lain)
sepeninggalnya, maka dia
menanggung dosanya dan dosa
orang-orang yang mengamalkan
sunnah itu sepeninggalnya,
tanpa mengurangi dosa mereka
sedikitpun.”8
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda:
مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ
ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ
آدَمَ اْلأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ
دَمِهَا، ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ
مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ
“Tidak ada satu pun jiwa yang
terbunuh secara zalim melainkan
atas Ibnu Adam yang pertama
bagian dari darahnya. Karena
dialah yang mula-mula
melakukan sunnah (tuntunan/
contoh)pembunuhan.”9
Karena itu pula Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا
عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ
أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا
بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ
فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا
قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ
أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا
النَّاسَ جَمِيعًا
“Oleh karena itu Kami tetapkan
(suatu hukum) bagi Bani Israil,
bahwa: barangsiapa yang
membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau
bukan karena membuat
kerusakan di muka bumi, maka
seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya.
Dan barangsiapa yang
memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia
telah memelihara kehidupan
manusia semuanya.” (Al-Maidah:
32)
2. Kejinya tindak pembunuhan
dan betapa besar hukumannya
di sisi Allah Subhanahu wa
Ta’ala, bahkan Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا
مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ
خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ
عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ
عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang
membunuh seorang mukmin
dengan sengaja, maka
balasannya ialah Jahannam,
kekal ia di dalamnya dan Allah
murka kepadanya, dan
mengutukinya serta
menyediakan azab yang besar
baginya.” (An-Nisa’: 93)
Di dalam hadits shahih,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى
اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ
مُسْلِمٍ
“Sungguh, lenyapnya dunia ini
lebih ringan atas Allah
dibandingkan terbunuhnya
seorang muslim.”10
Karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala menciptakan dunia ini
untuknya agar dia melintasinya
menuju kampung akhirat dan
menjadikan dunia ini sebagai
ladang. Sehingga, siapa yang
melenyapkan orang yang dunia
ini diciptakan untuknya, berarti
dia sedang berusaha untuk
melenyapkan dunia.
Di dalam sebuah hadits, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ
يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ
الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ
مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ
مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ
الرَّحِمِ
“Tidak ada satu dosa yang lebih
pantas disegerakan Allah
hukumannya di dunia
bersamaan dengan apa yang
Allah persiapkan untuk
pelakunya di akhirat, daripada
kezaliman dan memutuskan
silaturrahmi.”11
Sementara kedua dosa ini
dilakukan oleh Qabil terhadap
Habil. Dia melakukan kezaliman
dengan membunuh Habil
saudara kandungnya serta
memutuskan silaturrahmi.
3. Hasad (dengki) itu sudah ada
dalam di dalam diri manusia.
Al-Hasan Al-Bashri
rahimahullahu mengatakan:
”Tidak ada satu jasad pun
melainkan ada hasad di
dalamnya.” Akan tetapi orang
yang beriman tentu berusaha
menjauhinya, karena yakin akan
kejelekannya.
Alangkah tepat ungkapan ini:
أَلاَ قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي
حَاسِدًا
أَتَدْرِي عَلَى مَن أَسَأْتَ
الْأَدَبَ
أَسَأْتَ عَلَى اللهِ
سُبْحَانَهُ
لِأَنَّكَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا
وَهَبَ
Ingatlah, katakan kepada yang
bermalam dalam keadaan hasad
kepadaku
Tahukah engkau kepada siapa
sesungguhnya engkau berbuat
kejelekan?
Engkau berbuat jelek kepada
Allah Subhanahu
Karena sesungguhnya engkau
tidak ridha terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadaku
Memang, karena hal itu
menunjukkan dia menentang
qadha dan qadar Allah
Subhanahu wa Ta’ala, menyia-
nyiakan dirinya serta benci
kepada karunia Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang
diberikannya kepada seseorang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى
مَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ
فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَا
ءَالَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَاهُمْ
مُلْكًا عَظِيمًا
“Ataukah mereka dengki kepada
manusia (Muhammad) lantaran
karunia yang Allah telah berikan
kepadanya? Sesungguhnya Kami
telah memberikan Kitab dan
Hikmah kepada keluarga
Ibrahim, dan Kami telah
memberikan kepadanya kerajaan
yang besar.” (An-Nisa’: 54)
4. Adanya cobaan di antara
sesama saudara jika yang satu
dilebihkan dari yang lain.
Inilah yang menjadi salah satu
penyebab kedengkian. Sebab
lainnya di antaranya hidup
berdampingan, bertetangga,
persaingan, berdampingan
dalam segala hal. Seorang
pedagang kaki lima dengan
pedagang lainnya. Salah satu
dari mereka dengki kepada
lainnya. Begitu pula wanita-
wanita yang dimadu, dengki
kepada madunya, kecuali
mereka yang dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian
cinta kedudukan, jabatan tinggi
yang diperebutkan oleh mereka
yang berlomba meraihnya.
Masing-masing dengki kepada
saingannya sehingga saingannya
tidak berhasil menduduki jabatan
tersebut. Kedengkian inilah yang
menjadi sebab kenifaqan
‘Abdullah bin Ubai bin Salul.
Oleh karena itu, wajib atas setiap
orang yang dihinggapi penyakit
ini bertaubat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala,
berlindung kepada-Nya ketika
hawa nafsunya mendorongnya
untuk berbuat keji terhadap
orang yang dihasadinya. Bahkan
dianjurkan untuk dia banyak
melakukan kebaikan terhadap
orang yang dihasadinya. Mudah-
mudahan Allah Subhanahu wa
Ta’ala melindungi kita dari
penyakit yang berbahaya ini.
Membersihkan hati kita dari
semua kekotorannya sehingga
kita bertemu dengan Allah
Subhanahu wa Ta’ala betul-betul
dalam keadaan membawa hati
yang selamat.
Wallahul Muwaffiq.
1 Penamaan Habil dan Qabil
bagi kedua putra Adam ini,
berasal dari nukilan para ulama
dari Ahli Kitab, dan tidak ada
satu pun nash Al-Qur’an
menerangkannya, demikian pula
sunnah yang tsabit (shahih).
Sehingga kita tidak bisa
memastikannya begitu saja. Lihat
‘Umdatut Tafsir Syaikh Ahmad
Syakir (4/123). Tetapi untuk
sekadar memudahkan kita
memahami alur cerita, kita sebut
juga kedua nama tersebut,
semoga dimaklumi.
2 Al-Qurthubi mengatakan:
“Ulama kita menyatakan bahwa
dalam syariat kita dibolehkan
untuk membela diri, secara ijma’.
Namun tentang wajib atau
tidaknya, ada perbedaan
pendapat. Yang benar adalah
wajib membela diri, karena di
dalamnya terkandung nahi
munkar (melarang dari
kemungkaran).” (ed)
3 Lihat Al-Lubab fi ‘Ulumil Kitab
7/282.
4 Dalam masalah ini, diistilahkan
oleh ulama dengan ghibthah.
5 HR. Al-Bukhari dan Muslim
dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu.
6 HR. At-Tirmidzi dan lainnya,
dishahihkan oleh Al-Imam Al-
Albani dalam Al-Irwa’ (2/290).
7 Lihat Al-Fawaid (hal. 174-176),
dengan sedikit perubahan.
8 HR. Muslim
9 HR. Al-Bukhari (2/79) dan
Muslim (3/1303).
10 HR. At-Tirmidzi dari Ibnu
‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
dishahihkan oleh Al-Albani
dalam Shahihul Jami’ no. 5077.
11 HR. At-Tirmidzi dari Abu
Bakrah radhiyallahu ‘anhu,
dishahihkan oleh Al-Albani
dalam Shahihul Jami’ no. 5704.
http://www.asysyariah.com/
syariah.php?
menu=detil&id_online=


www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1680
Read more..

Kamis, 05 Agustus 2010

Kisah Desa Yang Hilang Di Daerah Dieng

Kisah ini sudah lama, tetapi
banyak yang belum
mengetahuinya. Kisah ini
hendaknya menjadi ibrah
(Pelajaran), bahwa apabila suatu
daerah bermaksiat semua, bisa
jadi Allah akan mengazabnya
secara langsung.

ءَأَمِنتُم مَن فِى السَّماءِ أَن
يَخسِفَ بِكُمُ الأَرضَ فَإِذا
هِىَ تَمورُ

“Apakah kamu merasa aman
terhadap Allah yang dilangit
bahwa Dia akan
menjungkirbalikkan bumi
bersama kamu, sehingga
dengan tiba-tiba bumi itu
bergoncang ?” (QS Al Mulk 67:
16).

Dukuh Legetang adalah sebuah
daerah di lembah pegunungan
Dieng, sekitar 2 km ke utara dari
kompleks pariwisata Dieng
Kabupaten Banjarnegara.
Dahulunya masyarakat dukuh
Legetang adalah petani-petani
yang sukses sehingga kaya.
Berbagai kesuksesan duniawi
yang berhubungan dengan
pertanian menghiasi dukuh
Legetang. Misalnya apabila di
daerah lain tidak panen tetapi
mereka panen berlimpah.
Kualitas buah/sayur yang
dihasilkan juga lebih dari yang
lain. Namun barangkali ini
merupakan “istidraj” (disesatkan
Allah dengan cara diberi rizqi
yang banyak dan orang tersebut
akhirnya makin tenggelam dalam
kesesatan).
Masyarakat dukuh Legetang
umumnya ahli maksiat dan
bukan ahli bersyukur. Perjudian
disana merajalela, begitu pula
minum-minuman keras (yang
sangat cocok untuk daerah
dingin). Tiap malam mereka
mengadakan pentas Lengger
(sebuah kesenian yang
dibawakan oleh para penari
perempuan, yang sering
berujung kepada perzinaan).
Anak yang kawin sama ibunya
dan beragam kemaksiatan lain
sudah sedemikian parah di
dukuh Legetang.
Pada suatu malam turun hujan
yang lebat dan masyarakat
Legetang sedang tenggelam
dalam kemaksiatan. Tengah
malam hujan reda. Tiba-tiba
terdengar suara “buum”, seperti
suara benda yang teramat berat
berjatuhan. Pagi harinya
masyarakat disekitar dukuh
Legetang yang penasaran
dengan suara yang amat keras
itu menyaksikan bahwa Gunung
Pengamun-amun sudah terbelah
(bahasa jawanya: tompal) dan
belahannya itu ditimbunkan ke
dukuh Legetang.
Dukuh Legetang yang tadinya
berupa lembah itu bukan hanya
rata dengan tanah, tetapi
menjadi sebuah gundukan tanah
baru menyerupai bukit. Seluruh
penduduknya mati. Gegerlah
kawasan dieng. Seandainya
gunung Pengamun-amun
sekedar longsor, maka longsoran
itu hanya akan menimpa
dibawahnya. Akan tetapi
kejadian ini bukan longsornya
gunung.
Antara dukuh Legetang dan
gunung Pengamun-amun
terdapat sungai dan jurang, yang
sampai sekarang masih ada. Jadi
kesimpulannya, potongan
gunung itu terangkat dan jatuh
menimpa dukuh Legetang. Siapa
yang mampu mengangkat
separo gunung itu kalau bukan
Allah Tabaroka wata ’ala?
Kini diatas bukit bekas dukuh
Legetang dibuat tugu peringatan.
Ditugu tersebut ditulis dengan
plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS
TEWASNJA 332 ORANG
PENDUDUK DUKUH LEGETANG
SERTA 19 ORANG TAMU DARI
LAIN-LAIN DESA SEBAGAI
AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG
PENGAMUN-AMUN PADA TG.
16/17-4-1955″

Allahu Akbar.
Jika Anda dari daerah Dieng
menuju ke arah (bekas) dukuh
Legatang maka akan melewati
sebuah desa bernama Pakisan.
Sepanjang jalan itu Anda
mungkin akan heran melihat
wanita-wanitanya banyak yang
memakai jilbab panjang dan atau
cadar. Memang sejak dulu
masyarakat Pakisan itu
masyarakat yang agamis,
bertolak belakang dengan
dukuh Legetang, tetangga
desanya yang penuh dengan
kemaksiatan. Ketika kajian
triwulan Forum Komunikasi
Ahlussunnah wal Jamaah
Kabupaten Banjarnegara
bertempat di Pakisan, maka
masyarakat Pakisan berduyun-
duyun ke masjid untuk
mendengarkan kajian dari
Ustadz Muhammad Umar As
Sewed. Ya, hampir semua
masyarakat Pakisan aktif
mengikuti kajian.
Wallahu a’lam bish shawab.


Sumber:
http://sunniy.wordpress.com/

www.rumahbelajarku.wordpress.com/2010/08/04/%20kisah-desa-yang-hilang-di-%20daerah-dieng/

Read more..

Senin, 26 Juli 2010

Nabi Musa 'alaihissalam Dan Khidir 'alaihissalam

Kisah ini termaktub dalam Al Quran surat Al Kahfi dimulai dari ayat 60. Yang penuh dengan hikmah dan pelajaran bagi orang yang mau merenungi dan mentadaburinya.

Ubai bin Ka'ab menceritakan kepada kami bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda: Musa berkhutbah di hadapan bani israil. Dia di tanya, siapakah manusia yang paling pandai? Musa menjawab, "Aku" maka Allah mencelanya karena dia belum lagi diberikan pengetahuan yang banyak. Lalu Allah memberitahukan kepadanya, Aku punya seorang yang tinggal di pertemuan dua lautan. Dia lebih pandai dari pada kamu. Musa berkata, Ya Tuhanku bagaimana aku menemuinya? Allah menjawab, bawalah ikan dan simpanlah di keranjang. Di mana saja ikan itu hilang, disitulah hambaku berada. Kemudian Musa mengambil ikan dan menyimpannya di keranjang. Musa pergi di temani muridnya bernama Yusya bin Nun. Setelah keduanya sampai di batu besar, keduanya telentang di atas batu itu dan tertidur. Ikan yang ada dalam keranjang bergerak-gerak,lalu keluar dan jatuh ke laut. Ikan itu berjalan di atas laut seperti fatamorgana. Allah membekukan air yang dilalui ikan sehingga air itu seperti titian.

Tatkala keduanya bangun,muridnya lupa memberitahukan ihwal ikan itu. Lalu keduanya pergi menghabiskan sisa siang dan sepanjang malam. Pada pagi hari Musa berkata pada muridnya, bawalah kemari makanan kita,sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan ini. Musa tidak merasa letih sebelum melintasi tempat seperti yang ditunjukan Allah ta'ala kepadanya. Pemuda berkata kepada Musa, tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi,maka sesungguhny aku lupa ikan itu dan tidaklah membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh.
Ubai berkata,ikan berjalan diatas air seperti fatamorgana,sedang Musa dan muridnya keheranan. Musa berkata,itulah yang kita cari. Lalu keduanya kembali menelusuri jejak mereka semula.
Ubai berkata, keduanya kembali menelusuri jejak itu hingga tiba pada batu besar. Ternyata disana ada seorang laki-laki berpakaian lengkap. Musa memberi salam kepadanya. Khidir berkata,sesungguhnya aku berada dinegerimu dengan damai. Musa berkata, aku Musa. Khidir berkata,Musa bani israil? Musa membenarkannya. Musa berkata, aku datang menemuimu agar engkau mengajariku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu. Dia menjawab,sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, hai Musa. Sesunguhnya aku memiliki sebagian pengetahuan Allah yang di ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui,dan engkaupun memiliki sebagian pengetahuan Allah yang diajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.
Musa berkata,Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusanpun. Khidir berkata,jika kamu mengikuti aku,maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu. Kemudian keduanya berjalan dipantai. Tiba-tiba melintaslah sebuah perahu. Mereka meminta kepada awak perahu agar ikut membawanya. Awak perahu mengenali Khidir. Merekapun naik tanpa membayar sewa. Setelah keduanya naik perahu,tiba-tiba Khidir mencopoti papan perahu satu demi satu dengan kapak. Musa berkata kepada Khidir,mereka telah membawa kita tanpa meminta bayaran,lalu kamu merusak perahunya. Mengapa kamu melubanginya yang akibatnya menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar. Khidir berkata,bukankah aku telah berkata,sesungguhnya kamu tidak akan bersabar bersama denganku. Musa berkata,janganlah kamu menghukum aku karena kealpaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.
Ubai berkata,Rasulullah bersabda,inilah kelupaan pertama dari Musa.
Ubai berkata,kemudian datanglah burung pipit dan hinggap di pinggir perahu. Burung itu menukik kelaut satu atau dua kali. Khidir berkata kepada Musa,pengetahuan Allah yang di ajarkan kepadaku dan kepadamu hanyalah seperti air yang terbawa oleh paruh burung itu yang menukik kelaut ini.
Musa dan Khidir turun dari perahu. Ketika keduanya berjalan dipantai,Khidir melihat seorang anak tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Khidir memegang kepala anak itu,lalu memelintirnya hingga tewas. Musa berkata kepadanya,mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih,bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar. Khidir berkata,bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?
Ubai berkata,tindakan Khidir ini lebih dahsyat daripada yang pertama. Musa berkata,jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini,maka janganlah kamu membolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri,mereka minta dijamu oleh penduduk negeri itu. Tetapi penduduk negeri itu menolak untuk menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Lalu Khidir berisarat dengan tangannya. Maka Khidir menegakan dinding rumah itu. Musa berkata,penduduk yang kita jumpai tidak mau memberi kita makan dan menolak untuk menjamu kita. Jikalau kamu mau niscaya kamu dapat mengambil upah untuk itu. Khidir berkata,inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Penjelasannya tiga perkara itu pada QS Al Kahfi:79-82.

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir(Muhammad nasib Ar Rifa'i)
Read more..

Jumat, 23 Juli 2010

Kisah Nabi Yusup 'alaihissalam Dan Nabi Ya'kub 'alaihissalam

Penulis : Al-
Ustadz Abu Muhammad Harits
Abrar Thalib

Di antara nikmat Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang
diberikan kepada Nabi Yusuf
‘alaihissalam adalah dua
keutamaan: Kebaikan yang
bersifat lahiriah dan batiniah.
Secara lahiriah, Nabi Yusuf
‘alaihissalam adalah seorang
pemuda yang sangat tampan,
dan secara batiniah beliau
memiliki akhlak yang sangat
mulia. Dengan dua hal ini, Nabi
Yusuf ‘alaihissalam senantiasa
bersabar ketika menjalani ujian-
ujian yang diberikan Allah
Subhanahu wa Ta'ala, termasuk
ketika digoda oleh wanita cantik
dari kalangan bangsawan.
Kisah ini adalah kisah paling
menakjubkan. Allah Subhanahu
wa Ta'ala menyebutkannya
secara lengkap dan
memaparkannya dalam satu
surat khusus secara terperinci
dan jelas. Membaca surat ini saja
sudah cukup sehingga tidak
butuh penafsiran. Dan dalam
surat ini (Surat Yusuf), Allah
Subhanahu wa Ta'ala
menguraikan keadaan Nabi
Yusuf ‘alaihissalam mulai dari
awal hingga akhir kisah. Lengkap
dengan peralihan tempat
kejadian, pergantian situasi dan
keadaan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي يُوْسُفَ
وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ
لِلسَّائِلِيْنَ

Sesungguhnya ada beberapa
tanda kekuasaan Allah pada
(kisah) Yusuf dan saudara-
saudaranya bagi orang-orang
yang bertanya.” (Yusuf: 7)
Akan kami sebutkan beberapa
faedah penting yang disimpulkan
dari sejarah besar ini. Dengan
memohon pertolongan kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami
memulainya.
Beberapa Pelajaran Penting dari
Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam
Kisah ini merupakan kisah yang
paling baik dan jelas. Di
dalamnya dipaparkan berbagai
peralihan dari suatu keadaan
kepada keadaan lainnya; dari
satu ujian ke ujian berikutnya,
dan dari sebuah ujian kepada
karunia yang besar, dari
kehinaan kepada derajat
kemuliaan, dari rasa aman
kepada rasa takut dan
sebaliknya, dan seterusnya.
Maha Suci Allah yang telah
menceritakan hal ini dan
menjadikannya sebagai pelajaran
berharga bagi mereka yang bisa
menggunakan akalnya. Di antara
pelajaran tersebut adalah:

1. Diterangkan dalam kisah ini
berbagai landasan pokok
tentang ta’bir atau tafsir mimpi.
Ilmu ta’bir mimpi ini adalah ilmu
yang cukup penting yang
diberikan Allah Subhanahu wa
Ta'ala kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya. Dan
umumnya, hal-hal yang
berkaitan serta dijadikan
permisalan (tamtsil) dan
penyerupaan adalah tentang
sifat atau keadaan.
Dengan demikian, maka sisi
keterkaitan mimpi Nabi Yusuf
‘alaihissalam, di mana beliau
melihat matahari, bulan dan
sebelas bintang bersujud
kepadanya adalah sebagai
berikut: Semua ini adalah benda-
benda yang menghiasi langit,
yang mempunyai berbagai
manfaat. Begitu pula halnya para
nabi, ulama, orang-orang
pilihan, mereka adalah perhiasan
di muka bumi. Dengan
perantaraan mereka, seseorang
akan terbimbing dalam
kehidupannya di bumi
sebagaimana dia terbimbing pula
dengan cahaya dari langit
(angkasa raya).
Ayahnya (Nabi Ya’qub
‘alaihissalam) dan ibunya adalah
sumber (asal), sedangkan
saudara-saudaranya adalah
cabang (furu’). Maka sangat
sesuai jika bentuk dan cahaya
asal atau sumber lebih besar
daripada cabang. Dengan
demikian, dapat dikatakan
bahwa matahari atau bulan
adalah permisalan bagi ayah
atau ibunya. Bintang-bintang
menggambarkan saudara-
saudaranya. Dan menyangkut
hal ini, bahwa orang yang
bersujud menunjukkan
penghormatannya kepada yang
dia sujudi. Dan yang menerima
sujud ini, dia diagungkan lagi
dihormati. Hal ini menunjukkan
bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam
menjadi seorang yang
diagungkan dan dihormati oleh
kedua ibu bapaknya serta
saudara-saudaranya.
Namun hal ini tidak akan
sempurna kecuali dengan
beberapa pendahuluan yang
menggiring kepada semua
perkara ini. Di antaranya adalah
ilmu dan amalan serta sebagai
pilihan Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Sebab itulah Allah
Subhanahu wa Ta'ala
mengatakan:

وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ
رَبُّكَ

Dan demikianlah Rabbmu, telah
memilihmu. (Yusuf: 6)
Terkait dengan mimpi kedua
pemuda yang dipenjara bersama
Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau
menta’birkan (menafsirkan)
mimpi seorang di antara mereka
yang memeras anggur. Dan ini
menunjukkan bahwa orang yang
melakukan pekerjaan ini
biasanya adalah pelayan bagi
orang lain. Juga kenyataan
bahwa perasan anggur itu untuk
orang lain, sedangkan pelayan
biasanya mengikuti yang dilayani.
Atau dapat pula ditakwilkan
memeras anggur di sini dengan
memberi minum, yang juga
menunjukkan pelakunya adalah
pelayan bagi orang lain. Oleh
sebab itulah beliau
menakwilkannya kepada hal
yang sesuai.
Adapun mimpi orang yang
melihat dirinya membawa roti di
atas kepalanya dan sebagiannya
dimakan oleh burung, beliau
menakwilkan bahwa dia akan
dibunuh dan disalib sehingga
burung memakan otaknya.
Lalu beliau menafsirkan mimpi
Raja Mesir yang melihat
beberapa ekor sapi dan butir-
butir gandum sebagai masa-
masa subur dan paceklik.
Hubungannya adalah bahwa
melalui raja itulah terikatnya
segala persoalan kemaslahatan
rakyat. Apabila rajanya baik
maka baik pula urusan rakyat,
dan apabila rajanya buruk
(akhlaknya) urusan rakyatnya
juga akan rusak. Inilah
hubungan ketika dia melihat
mimpi itu.
Apalagi tahun-tahun kesuburan
dan paceklik terkait dengan
keteraturan kehidupan atau
tidaknya. Sapi termasuk alat
untuk membajak tanah dan
mengolah pertanian. Di sini
terlihat adanya sebab dan akibat.
Dalam mimpi itu terlihat pula 7
ekor sapi gemuk dan 7 ekor sapi
kurus, 7 tangkai gandum yang
hijau dan 7 tangkai yang kering.
Maksudnya, tentu akan ada 7
tahun yang subur yang disusul 7
tahun kekeringan. Apa yang
didapatkan dari pertanian
diambil dan tidak disisakan
kecuali sedikit yang mereka
simpan.
Kalau dikatakan darimana
diambil pengertian ayat:

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذلِكَ
عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ
وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَ

Kemudian setelah itu akan
datang tahun yang padanya
manusia diberi hujan dan di
masa itu mereka memeras
anggur.” (Yusuf: 49)
Karena beberapa ahli tafsir
mengatakan bahwa ini adalah
tambahan dari Nabi Yusuf
‘alaihissalam dalam
menerangkan takwil mimpi
menurut wahyu yang
diterimanya?
Jawabnya: Persoalannya tidaklah
demikian. Sesungguhnya
perkataan tersebut juga
diucapkan berdasarkan mimpi
raja itu. Karena masa-masa
kekeringan hanya 7 tahun. Ini
menunjukkan akan datang
sesudahnya tahun-tahun
kesuburan penuh keberkahan,
yang akan menghapus
kekeringan yang terjadi pada
masa paceklik yang tidak dapat
terhapus oleh masa-masa subur
yang biasa. Namun hanya akan
hilang dengan masa subur yang
luar biasa keadaannya. Ini sangat
jelas dan termasuk mafhum
al-’adad (dikaitkannya suatu
hukum dengan jumlah tertentu,
ed).

2. Di dalamnya terdapat dalil
atau bukti tentang kenabian
Muhammad Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Yaitu dengan
diceritakannya sejarah ini secara
terperinci dan panjang lebar
kepada beliau sesuai kenyataan,
yang mempunyai maksud dan
tujuan yang jelas. Padahal beliau
tidak (bisa) membaca kitab
orang-orang terdahulu. Bahkan
Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam tidak pernah
belajar kepada seorangpun,
sebagaimana yang jelas diketahui
oleh kaumnya. Beliau sendiri
adalah seorang ummi, tidak
pandai membaca dan menulis.
Sebab itulah Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:

ذلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ
نُوْحِيْهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ
لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ
وَهُمْ يَمْكُرُوْنَ

Demikian itu di antara berita
ghaib yang Kami wahyukan
kepadamu (Muhammad),
padahal kamu tidak berada di
sisi mereka, ketika mereka
memutuskan rencananya dan
mengatur tipu daya. (Yusuf:
102)

3. Sepantasnya seorang manusia
menjauhi faktor-faktor atau jalan
yang mendorongnya kepada
kejahatan. Dan hendaknya dia
menyembunyikan hal-hal yang
dikhawatirkan menimbulkan
kemudaratan bagi dirinya.
Sebagaimana perkataan Nabi
Ya’qub kepada Yusuf dalam
kisah ini:

لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى
إِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوا لَكَ
كَيْدًا

Janganlah kamu ceritakan
mimpimu itu kepada saudara-
saudaramu, maka mereka akan
membuat makar
terhadapmu.” (Yusuf: 5)

4. Bolehnya menerangkan
sesuatu yang tidak
menyenangkan kepada
seseorang dengan jujur dan
sebagai nasehat bagi dirinya dan
orang lain yang terkait.
Sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala tentang
ucapan Nabi Ya’qub:

فَيَكِيْدُوا لَكَ كَيْدًا

Maka mereka akan membuat
makar terhadapmu. (Yusuf: 5)

5. Bahwa kenikmatan yang
diberikan Allah Subhanahu wa
Ta'ala kepada seseorang adalah
nikmat pula bagi orang-orang
yang berkaitan atau
berhubungan dengannya, baik
keluarga, kerabat, ataupun
sahabat-sahabatnya. Tentunya
semua itu mencakup atau
meliputi mereka. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ
وَعَلَى آلِ يَعْقُوْبَ

Dan disempurnakan-Nya
nikmat-Nya kepadamu dan
kepada keluarga Ya’qub. (Yusuf:
6)
Yaitu dengan semua yang
engkau terima. Oleh karena itu,
ketika nikmat itu semakin
sempuna dirasakan oleh Nabi
Yusuf, keluarga Nabi Ya’qub juga
mendapatkan kemuliaan,
kekuasaan dan kegembiraan.
Hilanglah hal-hal yang tidak
menyenangkan yang selama ini
mereka rasakan dengan
munculnya hal-hal yang
menyenangkan sebagaimana
disebutkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala di akhir
kisah ini.

6. Nikmat paling besar yang
dianugerahkan Allah Subhanahu
wa Ta'ala kepada manusia
adalah nikmat diniyah (agama
Islam). Dan semua itu harus ada
sebab-sebab yang
mendahuluinya serta jalan-jalan
yang membawa kepada
kenikmatan ini. Karena
sesungguhnya Allah Subhanahu
wa Ta'ala –Yang Maha Memiliki
hikmah dan mempunyai sunnah
(aturan) yang tidak berubah–
telah menetapkan bahwa cita-
cita yang tinggi tidak mungkin
tercapai kecuali dengan sebab
yang bermanfaat. Khususnya
dalam hal ini adalah ilmu
bermanfaat berikut cabang-
cabangnya, seperti akhlak dan
perbuatan. Oleh karena itulah
Nabi Ya’qub mengetahui bahwa
Yusuf telah mencapai kedudukan
yang mulia ini, di mana ayah
ibunya serta saudara-saudaranya
tunduk hormat kepadanya.
Semua ini sudah tentu dengan
kemudahan yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala berikan
kepada Nabi Yusuf untuk
menempuh sebab atau jalan
menuju derajat yang tinggi ini.
Firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:

وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ
رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ
تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ
وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Dan demikianlah Rabbmu, telah
memilih kamu dan mengajarkan
kepadamu sebagian takwil mimpi
dan menyempurnakan nikmat-
Nya kepadamu. (Yusuf: 6)

7. Sikap adil adalah perkara yang
sangat dituntut dalam setiap
permasalahan. Dalam masalah
hubungan penguasa dan
rakyatnya, kedua orang tua
dengan anak-anaknya, hak-hak
para isteri, dan lain-lain yang
juga berkaitan dengan hubungan
kasih sayang dan itsar
(mengutamakan orang lain).
Menegakkan keadilan dalam
setiap permasalahan ini akan
berbuah keserasian semua
persoalan besar dan kecil
sekaligus akan mendatangkan
segala sesuatu yang disenangi.
Sebaliknya, apabila keadilan itu
tidak ada, jelas akan
menyebabkan kerusakan dan
hal-hal yang tidak
menyenangkan tanpa terasa.
Karena itulah ketika Nabi Ya’qub
‘alaihissalam melebihkan rasa
kasih sayangnya terhadap Yusuf
menimbulkan ketidaksenangan
pada saudara-saudara Yusuf
terhadap ayah dan saudara
mereka ini.

8. Peringatan keras tentang
bahayanya dosa. Betapa banyak
dosa yang melahirkan dosa-dosa
berikutnya. Perhatikan kejahatan
yang dilakukan oleh saudara-
saudara Yusuf. Mereka ingin
memisahkan Yusuf dari ayahnya,
dan ini adalah suatu kejahatan.
Kemudian mereka melancarkan
berbagai muslihat. Mereka
berdusta hingga beberapa kali,
misalnya dengan menunjukkan
baju Nabi Yusuf yang berlumur
darah palsu kepada Ya’qub. Juga
ketika mereka pulang sore hari
sambil menangis. Jelas bahwa
ucapan-ucapan yang terdapat
dalam kasus ini berantai dan
berbelit-belit.
Bahkan tidak jarang hal ini
berlanjut ketika mereka
berkumpul dengan Yusuf dan
setiap kali membahas masalah
ini. Namun semuanya adalah
dusta dan palsu, dengan
musibah yang terus menimpa
Nabi Ya’qub serta Nabi Yusuf.
Maka hendaklah seorang
manusia berhati-hati dari
perbuatan dosa, terutama dosa
yang datang susul menyusul.
Lawan dari ini semua adalah
sebagian ketaatan, yang
merupakan satu ketaatan, akan
tetapi manfaatnya berkelanjutan.
Demikian pula berkahnya.
Bahkan semua ini dapat
dirasakan tidak hanya oleh
pelakunya, tapi juga oleh orang
lain. Semua ini merupakan
pengaruh paling besar dari
berkah yang Allah Subhanahu
wa Ta'ala berikan kepada
seseorang baik dalam ilmu dan
amalannya.

9. Pelajaran berharga bagi
seorang hamba bergantung
kepada kesempurnaan di akhir
perjalanan, bukan pada
kekurangan yang ada di
awalnya. Begitu pula halnya
anak-anak Nabi Ya’qub
‘alaihissalam. Terjadi berbagai
kekeliruan di awal kisah
kehidupan mereka. Kemudian
semua itu berujung pada taubat
nashuha (taubat yang benar),
pengakuan yang tulus, dan
pemaafan yang sempurna dari
Yusuf dan ayah mereka, serta
doa kebaikan dan ampunan
serta rahmat bagi mereka. Kalau
seorang manusia telah
memberikan keringanan atau
memaafkan seseorang berkaitan
dengan suatu hak tertentu,
maka Allah Subhanahu wa
Ta'ala lebih berhak berbuat
demikian. Dan Dia adalah
Sebaik-baik Yang Penyayang lagi
Maha Pengampun.
Oleh karena itulah yang paling
benar dari semua pendapat yang
ada bahwa sesungguhnya Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah
menjadikan mereka sebagai nabi
dengan menghapus semua
kekeliruan yang telah mereka
lakukan. Seakan-akan
pernyataan ini berdasarkan
firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:

وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ
وَيَعْقُوْبَ وَاْلأَسْبَاطِ

Dan (beriman) pula dengan apa
yang diturunkan kepada Ibrahim,
Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan al-
asbath. (Ali ‘Imran: 84)
Al-Asbath adalah anak-anak
Ya’qub yang duabelas orang dan
anak cucu mereka. Pendapat ini
diperkuat dengan mimpi yang
dilihat Nabi Yusuf bahwa mereka
adalah bintang-bintang, yang
mempunyai cahaya dan
petunjuk. Semua ini adalah sifat-
sifat yang juga terdapat pada diri
para nabi. Seandainya mereka
bukan tergolong nabi, mereka
adalah para ulama di kalangan
hamba Allah Subhanahu wa
Ta'ala.

10. Dalam kisah ini diterangkan
betapa besar anugerah yang
Allah Subhanahu wa Ta'ala
berikan kepada Yusuf berupa
ilmu, hilm (kelemahlembutan/
tidak tergesa-gesa), akhlak yang
mulia, berdakwah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan
kepada agama-Nya. Juga
pemberian maaf yang segera
dilakukannya terhadap saudara-
saudaranya yang bersalah. Hal
itu semakin lengkap ketika beliau
mengatakan bahwa tidak ada
cercaan atas mereka sesudah
pemaafan ini. Kemudian
kebajikannya yang besar kepada
kedua ibu bapaknya, limpahan
kebaikannya kepada saudara-
saudaranya serta makhluk Allah
Subhanahu wa Ta'ala pada
umumnya. Semua ini sangat jelas
tergambar dalam sejarah hidup
Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
11. Sebagian kejahatan lebih
ringan dari yang lain. Menempuh
suatu kemudaratan yang lebih
ringan dari dua mudarat yang
ada jelas lebih utama. Maka
tatkala saudara-saudara Nabi
Yusuf mengatakan (dalam firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala):
اقْتُلُوا يُوْسُفَ أَوِ
اطْرَحُوهُ أَرْضًا
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah
dia ke suatu daerah.” (Yusuf: 9)
Lalu ada yang memberikan saran
(dalam firman Allah Subhanahu
wa Ta'ala):
لاَ تَقْتُلُوا يُوْسُفَ
وَأَلْقُوْهُ فِي غَيَابَةِ
الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ
السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ
فَاعِلِيْنَ
“Janganlah kamu bunuh Yusuf,
tetapi lemparkanlah dia ke dasar
sumur supaya dipungut oleh
sebagian musafir, kalau kamu
hendak berbuat.” (Yusuf: 10)
Tentunya perkataan ini lebih baik
dari pendapat yang lain dan
lebih ringan. Sehingga
berdasarkan hal ini pula menjadi
ringan pula dosa mereka. Ini
merupakan sebagian dari sebab
atau jalan yang telah Allah
Subhanahu wa Ta'ala takdirkan
bagi Nabi Yusuf untuk mencapai
derajat yang diinginkan.
12. Segala sesuatu yang
diperoleh dari suatu usaha dan
menjadi bagian dari harta,
namun orang-orang yang
mengusahakannya tidak
mengetahui bahwa itu tidak
dilandasi syariat, maka tidak ada
dosa bagi yang langsung
memperjualbelikannya,
memanfaatkan, atau
menggunakan untuk suatu
kepentingan. Dalam kisah ini,
boleh dikatakan Nabi Yusuf
dijual oleh saudara-saudaranya
dengan cara yang
(sesungguhnya) diharamkan bagi
mereka. Kemudian beliau dibeli
oleh sebagian musafir
berdasarkan anggapan bahwa
beliau adalah budak saudara-
saudaranya. Setelah itu mereka
membawanya ke Mesir dan
menjualnya kembali.
Tinggallah beliau bersama
majikannya sebagai seoang
pelayan atau budak. Namun di
tengah-tengah mereka, Nabi
Yusuf adalah seorang pelayan
yang dihormati. Allah
Subhanahu wa Ta'ala
menamakan jual beli yang
dilakukan musafir itu muamalah,
dengan alasan yang telah kami
paparkan.
13. Dalam kisah ini disebutkan
bahaya berkhalwat (berduaan)
dengan wanita ajnabiyah (bukan
isteri atau budak dan bukan
mahram), khususnya wanita-
wanita yang dikhawatirkan akan
menjerumuskan kepada fitnah.
Juga anjuran agar menjauhi
perasaan cinta atau suka yang
dapat menimbulkan mudarat.
Dalam kisah ini, disebutkan
bagaimana isteri pembesar
tersebut mengalami hal ini
karena sendirian bersama Yusuf
ditambah lagi rasa cinta yang
demikian hebat sehingga
akhirnya dia menggoda Yusuf
dengan cara sedemikian rupa.
Akan tetapi kemudian dia justru
mengingkari bahwa dialah yang
merayu Nabi Yusuf sehingga
akhirnya Nabi Yusuf dipenjara
untuk waktu yang lama.
14. Keinginan yang ada dalam
diri Nabi Yusuf yang kemudian
beliau tinggalkan karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan
karena bukti keimanan yang
Allah Subhanahu wa Ta'ala
letakkan dalam hatinya,
termasuk hal-hal yang
menaikkan derajat beliau
semakin dekat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Karena
suatu keinginan adalah salah
satu faktor pendorong yang
timbul dari hawa nafsu yang
selalu menyuruh kepada
kejahatan. Ini adalah naluri atau
tabiat yang ada pada anak Adam
(manusia).
Maka apabila keinginan itu
terlaksana dengan kemaksiatan
dan tidak ada sesuatu, baik
keimanan ataupun rasa takut
kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala yang menghalanginya dari
kemaksiatan itu, maka dia telah
terjatuh kepada dosa. Dan jika
seseorang itu beriman sempurna,
maka keinginan naluriah ini
apabila dihadapi oleh iman yang
benar dan kuat, akan
mencegahnya dari pengaruh
yang ditimbulkan oleh keinginan
tersebut, meskipun dorongan itu
demikian hebat. Dan Nabi Yusuf
‘alaihissalam berada di atas
tingkatan ini. Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:
لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ
رَبِّهِ
“Andaikata dia tidak melihat
tanda dari Rabbnya.” (Yusuf: 24)
Hal ini ditunjukkan pula dalam
ayat:
كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ
السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ
مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
“Demikianlah agar Kami
memalingkan daripadanya
kemungkaran dan kekejian.
Sesungguhnya Yusuf termasuk
hamba-hamba Kami yang
terpilih.” (Yusuf: 24)
Karena Allah Subhanahu wa
Ta'ala mengistimewakannya, dan
kekuatan iman serta
keikhlasannya, Allah Subhanahu
wa Ta'ala melepaskan beliau
agar tidak terjerumus kepada
perbuatan dosa. Jelas dari kisah
ini bahwa Nabi Yusuf adalah
termasuk segelintir manusia yang
takut kepada kebesaran
Rabbnya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya. Beliau
termasuk yang paling tinggi
derajatnya di antara 7 golongan
dari orang-orang yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala lindungi
dengan naungan-Nya pada hari
yang tidak ada lagi naungan
selain naungan Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah menyebutkan dalam
sabda beliau bahwa salah satu
dari tujuh golongan itu adalah
seorang laki-laki yang dirayu
oleh seorang wanita kaya dan
cantik jelita, namun laki-laki itu
berkata: “Sesungguhnya aku
takut kepada Allah.”1
Sementara keinginan wanita itu
yang tidak ada yang
menghalanginya, tetap
mendorongnya untuk merayu
Nabi Yusuf. Adapun keinginan
yang muncul pada Nabi Yusuf
kemudian lenyap dengan
seketika setelah melihat burhan
(tanda) dari Rabbnya.
15. Keimanan yang telah
tertanam dalam kalbu
seseorang, kemudian hati itu
diterangi cahaya ma’rifat
(pengenalan) dan iman kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala,
menunjukkan bahwa dia adalah
seorang yang ikhlas karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala dalam
segenap keadaannya. Allah
Subhanahu wa Ta'alaakan
menjauhkannya dari setiap
kejahatan dan kekejian dengan
tanda keimanannya itu. Bahkan
juga menjauhkannya dari
berbagai jalan kemaksiatan
sebagai balasan keimanan dan
keikhlasannya. Karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah
menyebutkan bahwa hal-hal
inilah yang menjadi alasan Dia
menjauhkan kejelekan dan
kekejian itu dari Nabi Yusuf.
Firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ
السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ
مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ
“Sesungguhnya Yusuf termasuk
hamba-hamba Kami yang
mukhlis (berbuat ikhlas).” (Yusuf:
24)
Arti seperti ini apabila
disandarkan kepada bacaan
yang melafadzkan bunyi lam
pada kata mukhlas dikasrah
(berbunyi i), sehingga dibaca
mukhlis yang artinya
sebagaimana yang tercantum.
Sedangkan menurut bacaan
yang melafalkan lam dengan
bunyi a tadi (mukhlash), artinya
ialah apabila seorang hamba
yang telah Allah Subhanahu wa
Ta'ala bersihkan dan Allah
Subhanahu wa Ta'ala pilih, maka
tentulah dia seorang yang
mukhlis, dengan demikian kedua
pengertian ini saling berkaitan.
16. Apabila seseorang diuji
dengan berada di tempat yang
mengandung fitnah dan jalan
yang membawa kepada
kemaksiatan, hendaknya dia
segera berupaya menghindar
dan meninggalkan tempat itu
semampunya agar selamat dari
kejahatan tersebut. Sebagaimana
telah dicontohkan oleh Nabi
Yusuf yang menyelamatkan
dirinya menuju pintu keluar
sementara wanita itu berusaha
menarik bajunya dari belakang.
17. Suatu qarinah (indikasi) atau
hal-hal yang mendukung dapat
digunakan ketika terjadinya
kesamaran dalam suatu
tuduhan. Artinya, perlunya saksi
dalam menentukan suatu
keputusan dari suatu kasus, di
mana dalam kasus Nabi Yusuf ini
ditetapkan dengan adanya
qarinah (tanda yang
mendukung). Firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:
إِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ
قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ
الْكَاذِبِيْنَ. وَإِنْ كَانَ
قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ
فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ
الصَّادِقِيْنَ
“Jika bajunya koyak di muka,
maka wanita itu benar, dan
Yusuf termasuk orang-orang
yang dusta. Dan jika bajunya
koyak di belakang, maka wanita
itulah yang dusta dan Yusuf
termasuk orang-orang yang
benar.” (Yusuf: 26-27)
Akhirnya keputusannya sesuai
dengan fakta yang benar. Juga
qarinah terdapatnya piala raja di
dalam karung saudaranya, ketika
para penjaga itu menyebutkan
bahwa mereka kehilangan piala
raja.
17. Dalam kisah disebutkan
tentang ketampanan lahir batin
yang dimiliki Nabi Yusuf. Dari
ketampanan lahiriah yang
dimilikinya menyebabkan
tumbuhnya rasa cinta begitu
hebat dalam diri wanita
bangsawan itu. Dan ketika dia
mendengar para wanita di kota
itu mencelanya, dia mengundang
mereka. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ
أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ
وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً
وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ
سِكِّيْنًا وَقَالَتِ اخْرُجْ
عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ
أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ
أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ
لِلّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا
إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيْمٌ
“Maka tatkala wanita itu
mendengar cercaan mereka,
diundangnyalah wanita-wanita
itu dan disediakannya bagi
mereka tempat duduk dan
diberikannya kepada masing-
masing mereka sebuah pisau,
lalu dia berkata (kepada Yusuf):
”Keluarlah kepada mereka!”
Tatkala para wanita itu
melihatnya, mereka kagum akan
(ketampanannya), dan mereka
mengiris jari mereka dan
berkata: “Maha Suci Allah. Ini
bukanlah manusia.
Sesungguhnya ini tidak lain
adalah malaikat yang
mulia.” (Yusuf: 31)
Sedangkan keindahan batin
beliau, terlihat dari sikap ‘iffah
(menjaga kehormatan) yang
besar pada diri beliau, seiring
dengan adanya dorongan yang
kuat untuk terjerumus kepada
kemaksiatan. Akan tetapi cahaya
keimanan dan kekuatan
keikhlasan yang tidak mungkin
seorang mulia menyimpang dari
keduanya, dan tidak mungkin
terkumpul pada orang yang hina
(telah menahan beliau dari
semua itu).
Bahkan telah dijelaskan pula
oleh isteri pembesar itu bahwa
dua karakter (kecantikan lahir
dan batin) ini ada pada diri Nabi
Yusuf. Yakni, ketika dia
memperlihatkan kepada para
wanita itu kecantikan lahiriah
yang diakui pula oleh mereka
bahwa kecantikan ini tidak
mungkin ada pada manusia,
isteri pembesar itu berkata,
sebagaimana yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala sebutkan
dalam ayat:
وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ
نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
“Dan sesungguhnya aku telah
menggoda dia untuk
menundukkan dirinya kepadaku,
tapi dia menolak.” (Yusuf: 32)
Kemudian dia mengatakan pula
sesudah perkataan itu:
اْلآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا
رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ
وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ
“Sekarang jelaslah kebenaran
itu, akulah yang menggodanya
untuk menundukkan dirinya
kepadaku, dan sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang
benar.” (Yusuf: 51)
18. Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih
memilih dipenjara daripada
terjerumus kepada kemaksiatan.
Demikianlah seharusnya ketika
seseorang dihadapkan kepada
satu dari dua pilihan; jatuh
kepada kemaksiatan atau
menerima hukuman dunia.
Seharusnya dia memilih
hukuman duniawi yang justru di
balik itu terdapat pahala dari
beberapa sisi, pahala atas
pilihannya terhadap
keimanannya daripada
keselamatan dari hukuman
dunia, pahala dari segi bahwa
hal ini adalah bentuk penyucian
dan pemurnian seorang mukmin,
di mana hal ini termasuk dalam
kerangka jihad di jalan Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Juga
pahala dari sisi musibah yang
diterimanya serta sakit yang
dirasakannya.
Maha Suci Allah yang
memberikan kenikmatan dan
menunjukkan kelembutan-Nya
kepada hamba-hamba pilihan-
Nya melalui cobaan atau ujian-
Nya. Hal ini juga merupakan
tanda-tanda keimanan dan
kebahagiaan.
(Bersambung, Insya Allah)
(Diambil dari kitab Taisir Al-Lathif
Al-Manan fi Khulashah Tafsiri Al-
Qur`an karya Asy-Syaikh
Abdurrahman bin Nashir As-
Sa’di rahimahullah)
1 HR. Al-Bukhari dari Abu
Hurairah dalam Shahih-nya, no.
620, 1334, 6308.
Ho

asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=399
Read more..