Banner 468 X 60

Kamis, 05 Agustus 2010

Kisah Desa Yang Hilang Di Daerah Dieng

Kisah ini sudah lama, tetapi
banyak yang belum
mengetahuinya. Kisah ini
hendaknya menjadi ibrah
(Pelajaran), bahwa apabila suatu
daerah bermaksiat semua, bisa
jadi Allah akan mengazabnya
secara langsung.

ءَأَمِنتُم مَن فِى السَّماءِ أَن
يَخسِفَ بِكُمُ الأَرضَ فَإِذا
هِىَ تَمورُ

“Apakah kamu merasa aman
terhadap Allah yang dilangit
bahwa Dia akan
menjungkirbalikkan bumi
bersama kamu, sehingga
dengan tiba-tiba bumi itu
bergoncang ?” (QS Al Mulk 67:
16).

Dukuh Legetang adalah sebuah
daerah di lembah pegunungan
Dieng, sekitar 2 km ke utara dari
kompleks pariwisata Dieng
Kabupaten Banjarnegara.
Dahulunya masyarakat dukuh
Legetang adalah petani-petani
yang sukses sehingga kaya.
Berbagai kesuksesan duniawi
yang berhubungan dengan
pertanian menghiasi dukuh
Legetang. Misalnya apabila di
daerah lain tidak panen tetapi
mereka panen berlimpah.
Kualitas buah/sayur yang
dihasilkan juga lebih dari yang
lain. Namun barangkali ini
merupakan “istidraj” (disesatkan
Allah dengan cara diberi rizqi
yang banyak dan orang tersebut
akhirnya makin tenggelam dalam
kesesatan).
Masyarakat dukuh Legetang
umumnya ahli maksiat dan
bukan ahli bersyukur. Perjudian
disana merajalela, begitu pula
minum-minuman keras (yang
sangat cocok untuk daerah
dingin). Tiap malam mereka
mengadakan pentas Lengger
(sebuah kesenian yang
dibawakan oleh para penari
perempuan, yang sering
berujung kepada perzinaan).
Anak yang kawin sama ibunya
dan beragam kemaksiatan lain
sudah sedemikian parah di
dukuh Legetang.
Pada suatu malam turun hujan
yang lebat dan masyarakat
Legetang sedang tenggelam
dalam kemaksiatan. Tengah
malam hujan reda. Tiba-tiba
terdengar suara “buum”, seperti
suara benda yang teramat berat
berjatuhan. Pagi harinya
masyarakat disekitar dukuh
Legetang yang penasaran
dengan suara yang amat keras
itu menyaksikan bahwa Gunung
Pengamun-amun sudah terbelah
(bahasa jawanya: tompal) dan
belahannya itu ditimbunkan ke
dukuh Legetang.
Dukuh Legetang yang tadinya
berupa lembah itu bukan hanya
rata dengan tanah, tetapi
menjadi sebuah gundukan tanah
baru menyerupai bukit. Seluruh
penduduknya mati. Gegerlah
kawasan dieng. Seandainya
gunung Pengamun-amun
sekedar longsor, maka longsoran
itu hanya akan menimpa
dibawahnya. Akan tetapi
kejadian ini bukan longsornya
gunung.
Antara dukuh Legetang dan
gunung Pengamun-amun
terdapat sungai dan jurang, yang
sampai sekarang masih ada. Jadi
kesimpulannya, potongan
gunung itu terangkat dan jatuh
menimpa dukuh Legetang. Siapa
yang mampu mengangkat
separo gunung itu kalau bukan
Allah Tabaroka wata ’ala?
Kini diatas bukit bekas dukuh
Legetang dibuat tugu peringatan.
Ditugu tersebut ditulis dengan
plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS
TEWASNJA 332 ORANG
PENDUDUK DUKUH LEGETANG
SERTA 19 ORANG TAMU DARI
LAIN-LAIN DESA SEBAGAI
AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG
PENGAMUN-AMUN PADA TG.
16/17-4-1955″

Allahu Akbar.
Jika Anda dari daerah Dieng
menuju ke arah (bekas) dukuh
Legatang maka akan melewati
sebuah desa bernama Pakisan.
Sepanjang jalan itu Anda
mungkin akan heran melihat
wanita-wanitanya banyak yang
memakai jilbab panjang dan atau
cadar. Memang sejak dulu
masyarakat Pakisan itu
masyarakat yang agamis,
bertolak belakang dengan
dukuh Legetang, tetangga
desanya yang penuh dengan
kemaksiatan. Ketika kajian
triwulan Forum Komunikasi
Ahlussunnah wal Jamaah
Kabupaten Banjarnegara
bertempat di Pakisan, maka
masyarakat Pakisan berduyun-
duyun ke masjid untuk
mendengarkan kajian dari
Ustadz Muhammad Umar As
Sewed. Ya, hampir semua
masyarakat Pakisan aktif
mengikuti kajian.
Wallahu a’lam bish shawab.


Sumber:
http://sunniy.wordpress.com/

www.rumahbelajarku.wordpress.com/2010/08/04/%20kisah-desa-yang-hilang-di-%20daerah-dieng/

0 komentar:

Posting Komentar